Work Text:
╰┈➤ 𝙺𝙱𝙱𝙸 = 𝚐𝚎𝚗𝚓𝚛𝚊𝚗𝚐, 𝚐𝚎𝚗𝚓𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚐𝚎𝚗𝚓𝚛𝚎𝚗𝚐/𝚐𝚎𝚗·𝚓𝚛𝚊𝚗𝚐, 𝚐𝚎𝚗·𝚓𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚐𝚎𝚗·𝚓𝚛𝚎𝚗𝚐/ /𝚐𝚎𝚗𝚓𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚐𝚎𝚗𝚓𝚛𝚎́𝚗𝚐/ 𝚗 𝚝𝚒𝚛𝚞𝚊𝚗 𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒 𝚜𝚞𝚊𝚛𝚊 𝚐𝚒𝚝𝚊𝚛 𝚍𝚒𝚙𝚎𝚝𝚒𝚔: 𝚒𝚊 𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚋𝚒𝚜𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚔𝚝𝚞𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 ~ ㅤ ׅ 𝄂𝄚𝅦𝄚𝄞𝅄ㅤ
‧
₊
˚
♪
𝄞𝄢
₊
˚
⊹
"Digenjreng mana tadi yang mau digenjreng?" Suara familiar terdengar tepat setelah Arjuna mematikan streamingnya, sesosok laki-laki dengan surai tunggal berwarna hijau menyelinap masuk ruang kerjanya.
"Gaada yang minta digenjreng"
"kurang lebih"
Arjuna mendengus. "Tau aja lu"
"Rame di twit beb, tapi aku denger kok, masa aku ngga mantengin ayangbebku ini karaoke dadakan?" Yudis menutup pintu dengan tumitnya, tak lupa mengunci pintu, barangkali malam ini dia tidak mendapat penolakan untuk mnunjukkan sayangnya lewat bibir yang saling beradu.
Arjuna melepas tatapan sebal, dapat terlihat jelas daun telinganya mulai memerah malu, tapi mulutnya pasti tak akan sebutkan apa yang dia mau.
"Cerita dong sini, kenapa aku gaperlu gitar baru, hm?"
Aduh cantiknya si pemilik iris kelabu (dan muka tersungutnya itu), selalu berhasil buat Yudistira gagal tahan nafsu
‧
₊
˚
♪
𝄞𝄢
₊
˚
⊹
"Ah- hngh-"
"Lho mana ini digenjreng kok suaranya ngga kayak gitar?" Yudistira kembali menggerakkan kedua jari layaknya memainkan gitar, dengan satu tangan lainnya memegang belakang leher Arjuna. "Padahal teknik megang aku ngga salah, apa setingannya yang salah?" Yudistira bersiul kecil, jemari di bawah sana merangkak naik pada penis yang sudah tegak mengalahkan keadilan negara, menggerakkan tangannya naik turun memompa kejantanan kekasihnya yang tidak pernah 'jantan' dalam pegangannya.
"Hng-ahh~ uh-daahh...."
"Aduh setingan mana sih yang salah, apa ini yaa?" Yudistira meletakkan seluruh beban tubuh bagian atas Arjuna pada pundaknya, bergerak memberikan kecupan pada daun telinga sang tercinta smentara tangannya yang bebas memilin puting dada guna beri lebih banyak nikmat yang buat Arjuna rasa terbang ke udara.
"hngh...."
"hmm setingan mana lagi yang harus dibenerin ya, perasaan tadi di livestream suaranya bagus-bagus aja, ngalah-ngalahin gitar 10 juta 10 taun aku" jemari Yudistira kembali berpindah pada sisi dada Arjuna yang belum tersentuh, sementara tangannya di bawah sana bergerak sedikit turun memainkan kedua buah zakar yang kini semakin dibasahi cairan pre-ejakulasi.
Melihat wajah dimabuk nikmat dari lelaki yang notabene adalah seniornya tersebut membuat Yudistira semakin usil, tidak berniat menghentikan geraknya. Gerak tangan Yudistira pada selangka Arjuna kembali pada lubang anal yang tanpa dilihat langsung pun Yudistira tahu, sudah megap-megap kemerahan minta diisi kehangatan.
Yudistira kembali memainkan jarinya dalam lubang anal kekasihnya. Arjuna terus mengerang, walau nampaknya juga tidak rela melepaskan diri dari sentuhan-sentuhan yang diberikan Yudistira. Tak lama tubuhnya menggelinjang, stimulus pada tubuhnya berhasil mendorongnya mencapai puncak. Tenggorokannya suarakan desah panjang seiring dengan semburan spermanya.
"uh...ha...."
Lemas Arjuna dibuatnya, ia buka mulut besar-besar harap raup oksigen tuk penuhi paru-parunya. Walau tak lama wajahnya dipaksa berputar 90 derajat, dihadiahi kecupan sayang yang tak lama semakin dalam buat Arjuna kembali merasa melayang.
Yudistira melepaskan cumbuan penuh kasih (dan paksa) yang ia berikan, menatap wajah Arjuna yang kini dipenuhi rona merah, pandang tak jelas arah, dan liur menetes sampai ke dagu bawah.
"Jun, jangan teler dulu. Buyo belom dapet jatah"
