Actions

Work Header

Breeding Round (Commisssion Work)

Summary:

Beerlens 🥃🔎 commisssion work #03

 

Di dunia yang kacau balau, mereka yang memiliki kekuatan akan mendapatkan apapun yang mereka mau dan yang lemah hanya bisa menyalahkan takdir.

Namun Beer yang kembali dari pekerjaannya malah menemukan sosok Lens yang tidak berdaya memohon bantuan kepadanya.

Work Text:

🥃🔍beerlens commission 03

 

“Gerbang merah yang terbuka selama 3 hari di bagian selatan The Slump berhasil ditutup oleh kelompok Zero, persentase kekuatan mana yang berhasil dibawa keluar oleh kelompok Zero hampir mencapai 99 persen.”

Suara penyiar stasiun televisi membuat sepasang mata keemasan itu bersinar redup. Tangannya masih sibuk mengelap gelas demi gelas kristal indah yang dipajangnya.

“Dewa, shift kamu sudah selesai.”

“Oke, thank you.”

Pria pemilik iris keemasan itu menjauh dari meja bar dan pergi ke ruang ganti staff. Mengganti seragamnya dengan jaket hitam dan celana panjang. Hingar bingar di dalam Bar akhirnya meredup, berganti suasana suram dan asap tipis dari pipa-pipa bocor di sekitar.

The slump, tempat di mana gerbang-gerbang monster terbuka pertama kali. Meskipun setelah kekuatan esper bangkit dan menjadi senjata dan tameng umat manusia, itu bukan sesuatu yang serta merta membuat kaum manusia bisa membalik keadaan. Para Esper yang memiliki kekuatan super, memiliki kecenderungan lepas kendali jika menggunakan kekuatannya dalam waktu yang lama ataupun jumlah abnormal.

Karena itu posisi Guide yang begitu jarang, menjadi lebih berharga dibanding para Esper kuat yang bisa membahayakan umat manusia jika tidak dikendalikan.

Sadewa, hanya seorang Esper kelas C hampir seperti manusia biasa. Tubuhnya kuat dan dirinya sendiri memiliki pengalaman menggunakan berbagai senjata, namun kekuatan mana yang menjadi penopang seorang Esper— membuatnya menjadi bahan tertawaan.

Jalanan yang sepi tidak membuat Sadewa lengah, di depan pintu kamar sewaannya terlihat seseorang meringkuk dan hanya memperlihatkan sepasang telapak tangan pucat yang menjuntai.

Mendengar langkah kaki, wajah orang itu terlihat. Garis wajah yang hampir 90 persen mirip dengan Sadewa itu memiliki sudut mata kemerahan dan bibir merah ranum yang menciptakan kesan jelita juga menyedihkan.

“Dewa….”

Suara lembut itu membuat Sadewa menyadari bahwa orang yang berada di depannya tidak lain adalah saudara kembarnya, Guide terbaik di seluruh Negeri yang dipuja dan dikagumi. Nakula.

 

“Ngapain kamu di sini?”

“Dewa… bisa biarin aku masuk dulu kan?”

Meskipun ada rasa canggung yang kental di udara, keduanya tetaplah orang terdekat satu sama lain. Sadewa mengeluarkan kunci kamarnya dan membiarkan Nakula masuk terlebih dahulu. Tanpa pencahayaan, seluruh tempat itu suram, meski begitu semuanya tetap bersih dan tertata rapi.

“Tadi saya baru lihat berita kamu berhasil membersihkan gerbang merah. Kenapa sudah ada di sini? Orang-orang di Guild kamu tidak akan marah?” Sadewa menyalakan lampu dan mencuci tangannya.

“I-itu adalah pemberitaan yang baru rilis hari ini, kenyataannya gerbang itu sudah dibersihkan sejak kemarin.”

Mendengar hal itu, Sadewa menoleh dengan wajah heran. Saudaranya adalah Guide yang memiliki level kekuatan kelas S, guildnya adalah yang terbaik di seluruh negara namun ia yang menjadi permata bagi orang-orang kini berada di tempat yang tidak pernah terpikirkan siapapun.

“Dan … apa yang terjadi?”

Nakula merona mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Sadewa. Mantel panjang yang dikenakannya lalu dibuka, memperlihatkan lekuk tubuh indah milik Nakula.

“Ada insiden yang terjadi selama pembersihan gerbang merah itu… dan aku takut orang Guild tahu tentang apa yang terjadi.”

Sadewa mendekat dan mencoba melihat hal apa yang terjadi, namun ia tidak menemukan sesuatu yang aneh pada diri kembarannya itu. Melihat Sadewa berusaha untuk memeriksa keadaannya, Nakula merasa beberapa tahun yang terlewat karena hubungan mereka memburuk tidaklah begitu nyata. Ia kemudian membuka pakaiannya di depan Sadewa tanpa rasa malu, lingerie hitam yang membungkus tubuh intimnya menguak segalanya.

“Aku punya vagina… dan ini tidak nyaman.”

Nakula menggesek kedua pahanya saat berdiri memberi kesan pemalu dan seksi. Sadewa menatap iris mata biru Nakula dan rambutnya yang diikat. Pemandangan Guide yang terhormat itu hancur di depan mata Sadewa, namun ia tidak mengejek. Jauh sebelum keretakan yang samar itu, mereka sudah memiliki hubungan yang bahkan melampaui setiap spekulasi buruk di mata publik.

Sadewa berjongkok di depan Nakula, meraba celana dalam renda dengan motif bunga yang digunakannya. Celana itu mungkin menyamarkan pemandangan indah di baliknya, namun tidak menutupi setiap jengkal tubuh Nakula yang diketahui oleh Sadewa.

Tanpa permisi jemari Sadewa menyingkap kain yang menutupi pemandangan indah yang coba ditutupi oleh kembarannya. Lipatan labia yang tertutup itu memiliki bulu halus yang sangat sedikit, tapi Sadewa hanya tertawa dan bangkit dari posisinya. Membuat Nakula terkejut dan sedih.

“Dewa….”

“Dan poin kamu? Kamu punya banyak Esper di sekitarmu yang pasti mau melemparkan tubuh mereka untuk melayanimu kan? Kenapa jauh-jauh datang kemari.”

Nakula menggigit bibirnya dan menatap Sadewa dengan wajah kesal, “Aku gak mau dan gak akan pernah mau tidur sama orang lain! Aku pegang janji kita selama ini!”

Sadewa tahu apa yang Nakula katakan adalah kebenaran, namun ia tidak ingin memanjakan terlalu jauh kembarannya yang dulu suka merengek kepadanya untuk setiap hal.

Melihat sikapnya yang tidak bergeming, Nakula merasakan krisis yang tidak dapat ditahan oleh egonya. Ia mengingat stoking yang tidak digunakan yang ada di saku mantelnya, ia meraih mantel itu dan menggunakan stoking dengan gerakan provokatif.

Kaki kanannya diletakkan di atas meja kopi Sadewa, memasukkannya secara perlahan dan menariknya hingga ke paha, mengaitkan gesper ke celana dalamnya dan mulai memasang bagian kiri. Selama menggunakannya, ia merasa bagian vaginanya terbuka dan mendapat udara dingin yang asing. Namun Nakula mencoba tidak banyak bereaksi, dan apa yang Nakula rasakan juga diperhatikan oleh sepasang iris keemasan itu.

Saat kaki Nakula terangkat, labia montok itu terbuka sedikit dan memperlihatkan gerakan tarikan otot yang indah di bagian vaginanya. Sadewa telah meniduri Nakula sejak mereka masih remaja, tidak ada bagian tubuh Nakula yang luput darinya, namun insiden menyenangkan ini mungkin membuka perspektif baru untuk Sadewa.

Kaki jenjang Nakula dibalut dengan stoking hitam dengan gesper yang dikaitkan ke celana dalam seksinya membuatnya terlihat semakin menggoda.

“Dewa… kamu beneran gak mau aku?”

Pertanyaan menggoda Nakula membuat Sadewa menyeringai, ia meraih pinggang saudara kembarnya itu dan memeluknya erat. Setiap Guide memiliki aroma seperti feromon yang dapat menenangkan para Esper, Nakula memiliki aroma harum teh yang sangat langka.

“Dewa?”

Nakula mendekat ke arah Sadewa dan menuntun tangannya untuk menyentuh lipatan labia nya yang empuk. Jemari Sadewa dapat menyentuh lapisan labia basah Nakula dan bulu halus di sekitarnya, Sadewa menatap wajah merona Nakula dengan tatapan santai yang membuat saudara kembarnya itu semakin frustasi.

“Memek perawan kayak gini malah dikasih ke jalang kayak kamu … kamu gak malu?” Ejek Sadewa dengan kasar mencubit klitoris Nakula.

Tubuh Nakula langsung membungkuk dan ia menatap kesal ke arah Sadewa. Namun Sadewa tidak berkomentar dan membiarkan tangannya menyusuri vagina Nakula yang perlahan semakin becek, tangannya dengan terampil menggosok garis kenikmatan Nakula dan membuatnya hampir kehilangan kendali pada kedua tungkai kakinya.

 

Sadewa melakukan gerakan melingkar dan mengocok vagina Nakula. Ia merasa pusing juga frustasi, Nakula lalu dengan cepat duduk di pangkuan Sadewa masih dengan tangan kembarannya itu yang membuat basah vaginanya.

“Hnggg fuck, enak banget.”

“Gatel ya lubang kamu?”

Nakula mendesah dengan suara genit, “hnggg iya, gatel … Mas masukin jari kamu ke lubangnya. Gatal banget.”

Mendengar permintaan Nakula, Sadewa hanya bisa memanjakannya. Tangannya yang telah basah karena cairan lubrikasi dari vaginanya yang diobrak abrik, Nakula melingkarkan tangannya ke leher Sadewa dan menggoyangkan pinggulnya pelan untuk mencapai kenikmatan dari foreplay yang dirasakannya.

Rasa gatal dan nikmat dari mengacaukan vaginanya membuat Nakula lepas kendali dan ejakulasi lebih cepat. Ia menghela nafas dan melihat sepasang iris keemasan Sadewa bersinar, Nakula menunduk dan mencium Sadewa pelan.

Saat tautan lidah dan saliva mereka saling mengadu, Sadewa dengan terampil menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang setengah tegang. Nakula melepaskan tautan bibir mereka dan menatap penis Sadewa di bawahnya. Ia tersenyum tipis dan memposisikan vaginanya tepat di atas penis Sadewa yang ada dibawahnya, menggesekkan penis dan vagina bersama membuat lubang Nakula berkedut basah dan panas.

 

“Nakula gerakan kamu semakin lihai.”

Mendengar hal itu, Nakula memeluk Sadewa dan tertawa pelan.

“Well, yang aku lakukan hanyalah menonton lebih banyak video porno. Haaah tapi sensasi ini, ini rasanya enak sekali.”

“This fucking pretty pussy really suit you, Dear.”

Klitoris Nakula digesek dengan lebih kuat dan membuatnya perlahan melebarkan pahanya membuat labianya menjepit penis Sadewa yang berwarna kecoklatan dengan bagian kepala penis yang kemerahan. Saat Nakula sedang menahan diri agar tidak ejakulasi lebih awal, Sadewa dengan jahil menjilat puting Nakula yang tegang di balik bra renda yang digunakannya.

 

“Hngggggg Dewa!”

Sadewa menarik turun bra Nakula dan mengulum puting pucat Nakula yang keras, salah satu kelemahan Nakula selain daun telinganya adalah bagian dadanya. Sadewa mengingat poin-poin penting itu karena Nakula adalah partner sex yang paling cocok dengannya.

“Dewaaa!” Rengekan Nakula seperti tetesan air yang jatuh ke kelopak bunga, begitu menggemaskan.

Sadewa meraih dagu Nakula dan menciumnya dengan mendominasi di bibir. Kepala Nakula terasa pusing dan panas, namun pinggangnya masih begitu aktif bergerak untuk menggesek penis Sadewa di bawahnya.

“Tuntun sendiri cantik kontol yang kamu mau.”

Mendengar perintah dari Sadewa, Nakula lalu mengulurkan tangannya untuk menangkap penis keras Sadewa. Penis yang sudah berulang kali menembus duburnya dan memporak-porandakannya berulang kali. Kini dituntun menuju lubang berkedut yang terlihat seperti kelopak mawar yang mekar.

“Dewa, liat gimana kontol kamu merawanin memek akuuuh.”

Kepala penis Sadewa di dorong masuk ke dalam lubang vagina Nakula, ia merasa sangat bahagia saat perlahan-lahan merasakan vaginanya dipenuhi oleh penis orang yang dicintainya itu. Perut Nakula memiliki gundukan halus yang indah saat Sadewa merabanya pelan.

“Na… kamu berdarah.”

Nakula melihat ke bawah dan melihat bahwa vagina miliknya yang perawan itu meninggalkan jejak darah perawan, ia menatap Sadewa dan memeluknya. Nafas keduanya menyatu satu sama lain, Nakula merasa dirinya bahagia sekaligus terharu, bahkan setelah semua hal yang terjadi— Sadewa tetap menjadi satu-satunya pria yang merebut kesuciannya.

“Aku udah gak papa Mas Dewa, kamu bisa gerak.”

“Saya gak mau kamu kesakitan.”

“Hehehe … aku gak kesakitan. Perih aja, memek aku baru diperawanin sama kamu, jadi wajar.”

“Kalau begitu saya akan pelan-pelan.”

“Iya, boleh.”

Menangkap pinggang ramping itu, Sadewa mulai menggenjot penisnya ke dalam lubang vagina Nakula. Tumbukan yang intens membuat perut Nakula terasa panas, ia juga bergerak mengikuti instingnya. Saat Sadewa memanjakan tubuh pujaan hatinya itu, ia tidak bisa berhenti mengagumi keindahan tubuh dan ekspresi nikmat wajah Nakula yang kacau balau.

Vagina yang basah itu seperti sumber air yang ditepuk permukaannya, suara cabul penis Sadewa yang dipompa ke dalam vagina Nakula membuatnya sangat membara. Cengkeraman Nakula di bahu Sadewa menguat dan nafasnya menggelitik telinga Sadewa.

Saat perasaan bahwa ejakulasinya dekat, Sadewa mengecup leher Nakula dan memainkan klitoris kembarannya dengan kasar hingga akhirnya Nakula menjerit penuh kenikmatan dan menyemprotkan muatannya tanpa menahan diri.

“Haaaah Nakulaaa!” Geraman Sadewa teredam di bahu Nakula, menembakkan spermanya ke dalam vagina kembarannya hingga selesai.

Nakula mengatur nafasnya dan melihat Sadewa masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dan Sadewa memang belum punya niat berhenti, ia mencabut penisnya dari vagina Nakula yang membuat jaring putih yang membentang. Sadewa menarik celana dalam renda brokat Nakula membuat bagian tengah celananya itu menekan lubang vaginanya dan kedua labianya memerah menghimpit celana.

“Get up baby.”

Mendengar perintah Sadewa, Nakula berdiri dan membiarkan Sadewa mengarahkannya ke meja kopi rendah yang ada di depan mereka. Dengan posisi berdiri yang canggung, Nakula meletakkan kedua telapak tangannya untuk menyangga tubuhnya, sementara kakinya dibuka lebar dengan vaginanya yang masih dihukum oleh Sadewa.

Mengocok cairan cinta mereka yang keluar dari sela-sela celana dalam Nakula, Sadewa mendekat dan memainkan payudara kiri Nakula sementara tangan kanannya menarik kuat celana dalam Nakula dan mulai menggesekkan penisnya di antara celana dalam Nakula dan pahanya.

Gesekkan penis dan celana dalamnya membuat Nakula ingin menangis karena tidak tahan dengan sensasinya, perasaan gatal itu menyiksanya dan setiap kali vaginanya digesek, perasaan hampa di bagian bawahnya membuat bibir vaginanya berkedut. Tangan Sadewa begitu ahli memijat dan mencubit puting Nakula yang tegang.

“Nakula kamu cantik sekali, kenapa saya merasa sisi kamu ini sangat cocok untuk kamu?”

“Haaah diem, aku gak bisa konsentrasi … huk ya di situuuu Dewaaa.”

“Kamu lebih suka kontol saya apa saya sendiri? Hm? Kamu mau saya diam saja dan pake kontol saya buat muasin kamu?”

Nakula berbalik dan memperlihatkan bulir air mata juga wajahnya yang memerah, “aku gak ada maksud begitu … tapi … kontol kamu enak banget.”

Sadewa tertawa pelan dan menarik ke samping celana dalam Nakula untuk mendorong penisnya ke lubang vaginanya lagi, dengan posisi berdiri— Titik yang disentuh kepala penis Sadewa berbeda dan membuat kaki Nakula lemas, akhirnya tubuh bagian atas Nakula tersungkur dan duduk di atas meja, sementara pantatnya terangkat tinggi dan dipegangi oleh Sadewa untuk dimanjakan.

Tumbukan penis dan vagina itu sepenuhnya dikendalikan oleh Sadewa, ia melepaskan pakaian atasnya dan membelai pantat putih Nakula yang bergerak seirama dengan pinggulnya sendiri.

Sperma yang dilepaskan di awal perlahan meluap keluar dan perlahan menetes. Warna vagina Nakula juga semakin terang, terlihat menawan dengan tetesan cairan sperma Sadewa yang memenuhi lubangnya.

Suara-suara cabul di dalam ruangan tidak dapat dihentikan, desahan dan rengekan manja Nakula membuat Sadewa memiliki banyak pikiran gila di kepalanya. Tangan Nakula mencengkram ujung meja dan merasa lubangnya mungkin tidak akan bisa tertutup jika Sadewa masih begitu beringas.

“Dewaaaahk memek akuuuuh gak tahaaan!”

Nakula ejakulasi lebih dahulu dan dorongan penis Sadewa semakin kencang, mengabaikan uretra Nakula yang menyemprotkan air mani dengan tekanan kuat. Genangan air di atas meja yang menetes ke lantai membuat Sadewa melepaskan ejakulasinya ke lubang vagina Nakula. Merasa kasihan dengan posisi Nakula, Sadewa mengangkat tubuh lemas Nakula ke sofa dan memangkunya.

“Kamu dapat izin dari Guild Mastermu tidak?”

“Hmmm….”

“Jawab pertanyaan saya yang benar.”

“Iyaaah … aku ngajuin izin sebulan.”

“Dan diizinkan?”

Nakula mengangguk pelan, dia mendongak ke arah Sadewa dan tertawa pelan. Sadewa tidak tahu hal apa lagi yang ada di kepala Nakula namun senyumannya yang sudah sangat dirindukannya itu membuatnya bergairah, ia mengangkat paha putih Nakula dan membukanya lebar.

“Lanjut ya?”

Tangan Nakula bergerak dan mengusap penis Sadewa lalu memasukkannya ke dalam vaginannya yang basah dan panas. Ia melenguh saat penis itu melakukan penetrasi sekali lagi, membuatnya bersandar ke dada Sadewa dengan pasrah. Ia melihat bagaimana telapak tangan berwarna gandum Sadewa perlahan turun dan mengusap pahanya.

Sadewa yang merupakan seorang Hunter memiliki stamina yang luar biasa dibanding manusia biasa, ditambah lagi ia adalah orang yang disiplin dalam melakukan latihan. Bergerak dengan kehati-hatian, penis itu menusuk titik kenikmatan Nakula dan membuatnya tidak menahan diri untuk menyemprotkan air mani dengan kencang.

Penis Sadewa masih bergerak dengan kuat di tubuh Nakula, tubuh Nakula seperti boneka yang hanya bergerak saat Sadewa menghujamnya. Perasaan posesif dan mendominasi Sadewa memenuhi isi pikirannya, Nakula sudah begitu larut dan tunduk pada kenikmatan persetubuhan mereka. Setelah bertahun-tahun mereka terpisah oleh waktu dan keadaan juga salah paham yang sampai sekarang belum terselesaikan, namun dengan waktu bersenggama ini— Kesalahan di masa lalu dapat dikikis dengan pertukaran suhu tubuh dan sentuhan pada setiap jengkal kulit.

Sadewa berdiri dan meletakkan salah satu kaki Nakula ke lantai, membuat Nakula berada di posisi sulit, sebelah pahanya diangkat Sadewa dan diletakkan di bahunya.

“Dewa … posisinya … susah.”

“Tahan dulu, saya mau cum.”

“Uhk Dew, kakiku gak kuat.”

 

Rengekan Nakula membuat tubuhnya gemetar, ia benar-benar tidak tahan dengan posisinya dan terjatuh ke lantai pelan karena Sadewa menahan tubuhnya. Vaginanya memiliki genangan cairan sperma Sadewa yang meluber. Melihat hal itu, Sadewa merasa mereka bisa melakukan hal yang lebih.

Namun Sadewa takut jika ia langsung menerjang Nakula sekarang, bukan hanya Nakula akan memarahinya dan mungkin pingsan, jadi keduanya mengatur nafas.

“Yuk aku ajak ke kamar.”

Nakula menggembungkan pipinya kesal, “kamu baru mau ajak aku ke kamar setelah kamu masukin memek aku tiga kali!”

“Maaf, maaf salah saya.”

“Mentang-mentang kita sudah bertahun-tahun gak pernah HS bareng kamu buru-buru banget. Padahal awalnya nolak!”

“My Bad Na.”

“Kamu bahkan gak muji lingerie ini … dulu aku beli ini waktu kita ulang tahun yang ke dua puluh lima.”

Mendengar penuturan itu Sadewa merasa ia harus meminta maaf kepada Nakula, jadi dia memeluknya dan mencium puncak kepalanya dengan lembut.

“Kamu kelihatan cantik dan seksi sekali, saya sejujurnya tidak tahu tahu memuji kamu sejauh mana tapi … saya sudah lama sekali tidak bersenggama dengan siapapun. Jadi tolong maklumi saya.”

Nakula mendengar pengakuan kembarannya itu hanya tertawa pelan, ia lalu memeluk bahu Sadewa dan menggosok wajahnya ke leher kembarannya itu dengan manja. Membuat Nakula berpikir bahwa semua hal yang terjadi saat ini mungkin memberikan kesempatan untuk mereka memperbaiki hubungan, tangan Nakula menarik wajah Sadewa mendekat dan mencium bibirnya.

Sejak mereka berciuman, Nakula tahu Sadewa mungkin kecanduan nikotin. Suaranya semakin berat dan seksi, aroma tembakau yang kuat terasa memabukkan. Ciuman itu lembut, seperti kupu-kupu yang hinggap di bunga yang bermekaran, keduanya memadu cinta dan kasih dalam kelembutan. Sadewa mengangkat tubuh Nakula dengan enteng dan berjalan menuju ke dalam kamarnya, meletakkan Nakula di atas ranjang.

Rambut sebahu Nakula yang berwarna seperti es membuat seluruh tubuh Nakula terlihat memukau. Sadewa mengecup bibir Nakula lagi, mengecup kedua kelopak mata dan dahi Nakula. Menghembuskan nafasnya dengan lembut ke setiap jengkal kulit Nakula.

Merasakan lidah dan nafas panas Sadewa di perutnya, Nakula merasa sangat terstimulasi. Sadewa mengecup bagian pusar Nakula membayangkan dulu mereka berbagi rahim dan sekarang memiliki hubungan paling dekat. Membuatnya tidak dapat menahan kegilaan dan pemujaan pada Nakula.

“Dewaaa….”

Desahan Nakula membuat Sadewa menjilat bagian perut bawah Nakula dengan kuat, lalu turun dan sampai ke klitoris Nakula yang tegang. Merasakan kenikmatan dari menjilat klitoris, Nakula mulai meracau dan bersemangat memberikan respon-respon menyenangkan yang ingin didengar oleh Sadewa.

Mulut Sadewa sibuk menghisap klitoris Nakula dan menjilatnya, tanpa ragu Sadewa menjilat vagina Nakula dari atas ke bawah dan sebaliknya. Tangan Sadewa menahan kedua paha mulus Nakula dan sibuk menjilati pangkal paha dan labia Nakula yang berkedut.

Pikiran Nakula kacau dan cairan lubrikan alami dari vaginanya membasahi ranjang dan mulut Sadewa. Bunyi decak air dan hisapan itu begitu nyaring, paha Nakula beberapa kali ingin menutup namun Sadewa selalu mencegahnya. Ia menggigit pelan labia empuk Nakula yang membuat adik kembarnya mengejang hebat.

Lubang vagina yang mekar membuat Sadewa merasa bahagia, lubang perawan yang awalnya kecil itu kini bisa melebar dan mengembang sesuai keinginannya. Ibu jari kasar Sadewa menyelip ke dalam lubang itu, merasakan dinding basah dan kenyal yang tidak akan bisa ditemukan pada mainan plastik yang beberapa kali digunakannya.

Dinding yang semakin digosok semakin basah dan panas, pemilik dinding daging itu akan memanggil namanya dengan manja dan penuh ketergantungan. Sadewa merasa sangat bahagia memikirkan semua itu, kini ada di genggamannya.

Nakula memandang wajah Sadewa, mengulurkan tangannya dan memeluk Sadewa erat.

“Dewaaa … hamilin akuu.”

Sadewa tidak menyangka Nakula akan mengatakan kata-kata cabul itu.

“Kamu mau punya memek ini terus? Mau saya buat hamil?”

Nakula tersenyum dan mengangguk, “hmmm aku mau dihamilin sama kamu aja. Jadi peju kamu … jangan sampai kebuang ya, nanti bayinya jadi susah dibuatnya.”

Merasa akal sehatnya putus, Sadewa mencium bibir Nakula dengan penuh nafsu. Mencubit putingnya dan mengocok vagina cabul saudaranya dengan kasar. Nakula tidak kesakitan, ia menemukan kenikmatan dari tindakan kasar Sadewa.

Empat jari dimasukkan ke dalam vagina jalang Nakula dan ia begitu bahagia, pinggangnya terangkat dan dibanting ke ranjang karena kenikmatan. Sadewa merasa pergulatan percintaan mereka bisa mencapai titik baru, saat perlahan Sadewa melepaskan kekuatan Espernya yang kacau, Nakula mengejang hebat di atas ranjang.

Energi kekuatan Esper yang ganas membuat iris Nakula memiliki warna yang berbeda, bagi para Guide level S yang sedang mencoba menenangkan badai energi Esper, iris matanya akan berwarna keemasan dan libido milik Guide akan naik hingga tingkat tertentu bergantung pada kecocokan pada Esper yang ditanganinya.

“Nakulaaaa….”

Sadewa merasakan bagaimana sebuah angin lembut dan hangat membelai dirinya, ia memeluk Nakula sejenak dan mengeluarkan tangannya yang mengocok vagina Nakula.

“Dewa….”

“Kamu harus menerima saya Nakula, hanya itu jalannya.”

Pernyataan Sadewa membuat Nakula tersentuh dan ia mengangguk. Penyatuan keduanya kembali berlangsung, namun dengan mengikutsertakan agenda guiding yang diminta oleh Sadewa. Jika seorang Esper menginginkan guiding tingkat tinggi yaitu tahap di mana ia akan melakukan territorial marking maka Nakula kedepannya tidak akan bisa memberikan guiding dengan tingkat yang sama kepada Esper lain.

Saat Sadewa menghembuskan nafasnya, penisnya menembus lapisan kelopak Nakula. Hentakkan itu kuat, membuat keduanya hampir menabrak bagian kepala ranjang. Namun nafsu yang lebih memimpin membuat mereka saling mengejar. Nakula merasakan penis Sadewa bergerak di dalam tubuhnya dengan ganas, namun kenikmatan bersenggama itu membuatnya mabuk kepayang.

“Haaah kontol kamu enak sekali Dewaaa… haaah ah ah ah ah huhuhu memek akuuu memek aku mau meleleh rasanya.”

“Memek kamu yang baru dimasukin sama saya juga enak sekali Nakula, saya berharap kamu punya memek ini dalam waktu yang lama.”

“Huhuhu Dewa lebih kuat lagi, ancurin aja memek akuuuh!”

“Jangan sayang… kamu mau saya hamilin bukan? Kamu harus simpan sperma saya dan lahirkan anak seperti yang kamu mau.”

Nakula menangis dan mencium bibir Sadewa dengan ganas, proses guiding yang intens itu membuat Nakula kehilangan akal sehatnya. Sadewa memindahkan fokusnya dari mencium Nakula untuk menghisap puting Nakula di depannya.

Gerakan kasar Sadewa membuat pergumulan mereka menambahkan rasa sakit. Namun Nakula tidak melepaskan Sadewa sama sekali. Ia mencengkram bahu Sadewa dan beberapa kali menarik rambutnya ke belakang untuk membiarkan kekasihnya itu menciumnya. Lubang vagina yang berkedut dan dipompa dengan kuat tidak dapat menahan gerakan penis Sadewa yang kuat, sperma dan jus vagina Nakula seperti dikocok menjadi satu dan meleleh keluar dari celah penyatuan penis dan vagina milik mereka.

“Dewa … rank statusmu ada yang berubah!” Nakula menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Namun Sadewa tidak peduli, ia memeluk kepala Nakula dan membanting penisnya ke vagina saudaranya dengan kuat hingga berbunyi nyaring. Nakula yang merasakan titik sensitif lain ditemukan oleh Sadewa, menjerit kenikmatan dan melepaskan banyak energi. Sadewa memastikan penisnya tertanam jauh ke dalam vagina adiknya yang nyaman dan hangat.

“Dewaaa… lihat bilah statusmu.”

Semua orang dengan kekuatan Guide dan Esper dapat melakukan pemanggilan kesadaran yang membantu mereka melihat bilah kekuatan dalam bentuk panel. Mata Sadewa terkejut saat melihat apa yang disajikan pada panel itu saat ini.

 

Esper Sadewa Sagara

Tipe Kekuatan: Combat Healer
Rank: C ➡️SS
Skill: Healing Fire (SS) unlocked, Fire Swordsman (SS) unlocked, Stars Align (Myth), Hideous Mask (B)

 

Guiding: Nakula Nalendra (SS)

 

Mata Sadewa hampir tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya, dirinya yang berada di ranking C selama bertahun-tahun dan tiba-tiba dapat mencapai titik kebangkitan kekuatan yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Nakula melihat bagaimana ekspresi tidak percaya Sadewa begitu menghiburnya dan membuatnya tertawa dengan lantang.

“Haaaah ternyata ini … ini yang menahan kita berdua selama ini.”

Sadewa perlahan mengalihkan pandangannya dari panel dan melihat ke arah Nakula yang terbaring telanjang di depannya masih dengan penisnya yang tertanam jauh di dalam vagina Nakula.

“Haaaah para Dewa itu memang aneh, mereka membuat kita mengalahkan para monster dengan kekuatan pinjaman. Lalu lihat sekarang? Bukankah ini hebat?”

Nakula tersenyum dan bangun dari posisinya, ia mendesah pelan dengan wajah yang penuh peluh dan memerah. Meletakkan tangannya di bahu Sadewa dan menggesek vaginanya.

“Dengan harga ini, kita berdua bisa meminjam kekuatan dewa itu. Itu sangat hebat bukan?”

Sadewa memahami tindakan Nakula dan ia tidak bisa menahan air matanya. Memeluk Nakula erat dan menangis.

“Saya pikir tidak ada jalan lain, tapi kamu … kamu melakukan semua ini.”

Nakula menyambut kasih dan haru yang dikatakan oleh Sadewa. Ia memang memiliki motif tersendiri yang membuatnya tidak ingin membagi hal seperti kesempatan kebangkitan ini dengan orang lain. Mengambil resiko perjanjian yang berbahaya, namun bagi Nakula semua itu sepadan.

“Sadewa … kamu harus tahu, semua ini aku lakukan agar kita tidak akan berpisah lagi. Dengan ini tidak ada alasan bersembunyi untuk cinta dan kekuatan yang kita miliki.”

Iris mata Nakula kembali bersinar dan ia mendekatkan putingnya ke arah Sadewa membiarkan Sadewa meninggalkan bekas gigitan penuh di kulitnya yang pucat.

“Dengan begini, anak yang akan lahir hanya akan dianggap sebagai anak takdir. Hanya dengan kelahirannya akan menjadi bukti bagaimana kita adalah pasangan yang ditakdirkan.”

Sadewa mencium bibir Nakula dan membiarkannya jatuh terbaring di dalam dekapannya.

“Saya tidak tahu anda memikirkan semua itu selama ini. Bahkan tanpa anak, saya akan memberikan nyawa ini untuk kamu seorang. Tidak akan ada orang kedua dalam hidup ini yang dapat mengambil cinta dan perlindungan yang saya berikan kepadamu.”

Nakula meneteskan air mata dan meminta Sadewa memeluknya, “aku milik kamu, aku mau kamu menyatu dengan tubuhku dalam waktu yang lama. Membiarkan cairan dan aroma kita menyatu.”

“Seperti permintaan Tuan Putri.”

Sadewa menggoyangkan pinggulnya lagi, membuka lubang vagina Nakula menjadi lebih lebar. Menarik penisnya hingga hampir terlepas dan mendorongnya kuat ke dalam vagina Nakula, cairan mereka menyatu dan meluap, namun tidak ada satupun dari mereka yang merasa keberatan pada pergumulan yang liar itu.

Leher Nakula memiliki jejak kecupan dan gigitan yang mulai berubah menjadi memar, namun dengan tingkat kecocokan mereka semua rasa sakit itu dinetralisir dan hanya meninggalkan jejak yang mereka inginkan. Pijatan pada payudaranya dan bagaimana hisapan Sadewa yang kuat di puting Nakula membuat putingnya menjadi sangat sensitif.

Bunyi kecipak air yang kuat dan genangan air mani di atas ranjang yang sudah kacau tidak membuat Sadewa ingin berhenti mengagumi tubuh indah Nakula, ia dengan lembut memainkan klitoris Nakula dan membuai labia bengkak yang kini memerah dan basah.

“Haaah sepertinya hari ini kamu tidak bisa menyimpan sperma saya dengan baik di dalam memekmu ini.”

Nakula dengan mata sayu hanya mendengus pelan, “kita bisa melakukannya lagi besok, asal jangan keluarkan kontolmu.”

“Jadi kamu mau kontolku jadi penyumbat memek kamu ini.”

“Sayang saja kalau isinya keluar terus.”

Sadewa hanya bisa tunduk pada keinginan dari kekasihnya itu, ia berbaring dan mengurung Nakula dalam dekapannya. Saat matanya terpejam hanya gelapnya malam yang berputar, meski tanpa bintang, semuanya terasa nyaman.

 

THE END