Work Text:
Lonceng jam raksasa berdentang kuat—mengisi keheningan malam begitu ketiga jarumnya menyentuh angka dua belas. Dingin angin berhembus hingga menusuk tulang, seseorang pasti memerlukan mantel untuk bertahan di tempat. Tidak dengan Jyushi. Dia berdiri di hadapan menara jam hanya dengan pakaian panjang sederhana tanpa alas kaki, tentunya itu tidak bisa memblokir hawa dingin masuk.
“H-Hitoya–san? …Kuko–san?” Wajah Jyushi penuh kebingungan, matanya berkaca-kaca. Dia memeluk diri sendiri sembari melirik ke sana kemari.
Di tempat penuh kegelapan itu hanya ada dia dan menara jam kuno berdiri, ditemani terang sang rembulan di atas sana sebagai cahaya.
Lonceng telah berhenti di tempat begitupula dengan kedua jarum, namun bandulnya tetap bergerak dalam setengah getaran setiap satu detik—menghasilkan suara yang cukup mengganggu indera pendengar.
Semenit berlalu, kedua jarum tetap menunjukkan angka dua belas. Detik selalu berjalan akan tetapi menit dan jam terdiam—membeku di tempat.
Rasa tidak nyaman nan gelisah menancap di hati Jyushi. Sejauh apapun ia membuka langkah menjauhi jam mau itu kecil atau besar, rasanya tiada bedanya—dia seperti berjalan di tempat.
Terbit dorongan untuk kembali—naik ke atas sana guna mematikan suara berisik itu. Jyushi meneguk ludah, menatap si menara yang seakan bisa roboh kapan saja. Itu semua terlihat dari struktur bangunan termakan waktu. Entah sudah berapa lama dia di sana.
𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯… 𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘳.
Jyushi memijakkan kaki di lantai pertama, tampak kosong biasa dengan anak tangga ringkih berada di ujung. Dia berhasil melewatinya dengan mudah serta tanpa curiga.
Begitu tiba di lantai dua, Jyushi merasa ada sedikit perbedaan. Lantai dua tampak lebih terbengkalai dibandingkan lantai pertama. Lantai kumuh bahkan berlumut, dinding penuh grafiti acak, bandul-bandul tua berkarat berserakan, bahkan ada beberapa celah serta retak tempat penyimpanan debu. Letak tangga ringkih tetap sama, berada di ujung ruang.
Setiap detik suara dentang bagai menghitung waktu mundur, membuat rasa kegelisahan menggebu-gebu. Jyushi memberanikan berjalan di atas kayu-kayu berderit sebelum dua kaki membawanya ke ujung sana lalu perlahan menaiki anak tangga satu persatu.
𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘬𝘢𝘯𝘪𝘴𝘮𝘦 𝘫𝘢𝘮… 𝘬𝘢𝘯?
Jyushi menatap heran lantai tiga yang sama persis dengan lantai kedua, hanya saja terasa lebih kecil sehingga kepalanya terantuk ke langit-langit. Suara dentang jam jauh lebih keras seperti berada tepat di sebelah telinganya, membuat kepalanya sedikit sakit.
Dalam kegelapan minim cahaya, grafiti-grafiti tampak menari-nari acak di dinding—membentuk ejekan bahkan hinaan seolah ingin membuat jiwanya bergetar.
“𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪, 𝙮𝙖?"
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙠𝙖𝙢𝙪?"
"𝙈𝙚𝙣𝙘𝙪𝙧𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣?”
Tawa seorang anak kecil terdengar di sela-sela dentang, nyali Jyushi semakin ciut. Napasnya tercekat di tenggorokan, keringat dingin mengalir membasahi punggung.
Matanya semakin berkaca-kaca. Dia ingin pergi, kaki membawa dia mundur sebelum tak sengaja menyentuh sesuatu. Mungkin itu hanyalah bandul tua atau kayu usang, tetapi pikiran itu berubah cepat setelah Jyushi menjerit ketakutan.
Sebuah kepala babi berlubang besar tepat di tengah dahi mendadak tergeletak di belakangnya tepat di dekat tangga.
Ketakutan menghempaskan dia bagai ombak tsunami ganas, Jyushi langsung berlari ke depan. Ruangan seolah ingin menjepit sang lelaki—semakin sempit, belum lagi pergerakan grafiti yang memusingkan.
Sayangnya, berlari lurus ke depan saja tidak cukup. Jyushi diharuskan memilih arah belokan berbeda beberapa kali. Tidak ada petunjuk, hanya buntu yang memojokkan bila salah memilih.
𝘏𝘪𝘵𝘰𝘺𝘢–𝘴𝘢𝘯… 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶, 𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯…
Jyushi bersandar, menatap lantai bergerak. Dia memegangi kepalanya diiringi air dari bendungan mata membanjiri pipi akibat tak kuasa menahan volume lagi.
Di kala keputusasaannya begitu terpojok, Jyushi mendengar tawa anak kecil lagi tepat di depannya. Begitu dia mengangkat kepala, matanya membelalak. Si kepala babi kembali muncul seperti mengikuti setiap jejaknya, membuat perutnya terpelintir.
Labirin bergrafiti terasa hampir menelannya hidup-hidup. Sesak, tapi Jyushi tahu bahwa dia harus segera keluar dari sini. Perlahan dia melewati kepala babi itu sebelum kembali berlari mencari jalan keluar.
Darah mengalir cepat menuju jantung, memicu degupan hebat. Diraba-raba tiap dinding dengan kepanikan yang memuncak seiring mendengar suara selain dari dentang detik. Kaki Jyushi melemah, kepala semakin pusing. Dia hampir jatuh tersandung kakinya sendiri.
Grafiti terus menari-nari bak menghipnotis supaya dirinya tenggelam—menyerah pada keadaan. Jyushi membungkuk karena ruang semakin sempit, dia dijepit dari kanan-kiri serta atas-bawah. Instingnya berteriak; dia sedang diikuti, suara tertawa itu masih ada bahkan lebih liar.
Di belokan terakhir, akhirnya Jyushi menemukan tangga besi memutar menuju lantai atas. Tangannya gemetaran namun tetap mencengkram kuat bagian pegangan saat kakinya membawa ia naik satu persatu secara bergantian.
Sang mata melirik gugup ke bawah. Ternyata hanya ada ruangan biasa; tidak ada labirin, grafiti-grafiti tetap diam di tempat, tidak ada kepala babi. Hanya sekotak ruang memanjang lurus dari tangga sebelumnya.
Bau oli mulai tercium, debu emas beterbangan dari karat, diiringi cahaya bulan masuk menembus kaca jam transparan. Napas Jyushi menderu begitu ia tiba di lantai keempat.
𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢…
Jyushi mengusap air matanya. Setidaknya lantai itu lebih luas dan besar, memberi sedikit kelegaan setelah tempat sesak tadi. Suara detik pun terdengar lebih kencang di sini—tak sekeras lantai ketiga. Inilah tujuan awal Jyushi.
Sekumpulan roda gigi terus bergerak bagai memiliki putaran kehidupan sendiri. Roda-roda gigi berputar tanpa henti, dikendalikan oleh jangkar yang menjaga detak pendulum tetap hidup.
Terdapat rantai membisu menjuntai ke lantai selanjutnya—ke lantai lonceng. Itu diam di tempat sama halnya dengan menit serta jam. Cukup aneh, bukan?
Kaca bulat besar lengkap dengan angka terbalik dari satu hingga dua belas tertempel sempurna di atas sana. Cahaya rembulan menyelinap masuk menyinari mekanik-mekanik jam tertutup lapisan debu yang tak sepenuhnya Jyushi mengerti.
Detik terus melewati hidupnya. Sebuah tuas rem menarik perhatian Jyushi. Itu biasa dipakai para pekerja untuk memberhentikan jam sementara bila sedang ada perbaikan.
𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭!
Begitu tuas ditarik, benar saja; mekanisme jam melambat, bandul perlahan-lahan berhenti sebelum berakhir tepat di tengah, seluruh roda gigi tak lagi berputar. Menciptakan suasana hening dalam seketika.
Jyushi menghela napas lega, “Syukurlah!” Dia menarik dua sudut bibir, menciptakan senyuman. “Aku berhasil! Aku berha—”
Tiba-tiba roda gigi kembali bergerak, kali ini lebih cepat. Bandul pun menghitung detik yang tak seharusnya, diikuti oleh gerak kedua jarum. Mereka mulai berputar melingkar sesuai perbedaan waktu yakni pada angka dua belas.
Jyushi mundur, matanya ketakutan melihat kecepatan tak normal pada kaca bundar. Jarum pendek kini bukanlah menunjukkan jam lagi, melainkan detik.
Tiga detik.
Enam detik.
Sembilan detik.
Akhirnya kedua jarum menyentuh angka dua belas secara bersamaan. Lonceng berdentang keras nan nyaring, menggetarkan seisi bangunan serta remaja itu. Gendang telinga Jyushi benar-benar dibuat sakit. Darah merembes keluar pada saat yang sama.
Tak lama roda terdiam lagi—semuanya berhenti. Bandul berhenti, jarum berhenti, lonceng pula berhenti. Ruangan kembali termakan hening.
Bukan berarti semuanya akan berakhir.
Jyushi tidak bisa tidak membelalakkan matanya. Di balik kaca bundar, siluet hitam melesat cepat—jatuh dari lantai atas.
“A-apa yang—”
Detik berikutnya terdengar bunyi gedebuk keras menghantam tanah, dilanjut teriak sakit seolah siluet itu jatuh tepat di depannya.
Jyushi bersandar lemas pada dinding di belakangnya, tangan meremas dada kirinya kuat-kuat. Air jatuh dari pelupuk mata, menetes membasahi punggung kaki.
Suara itu.
Jyushi mengenal suara itu.
Karena suara itu miliknya sendiri.
Napasnya tersengal-sengal. Kakinya berat seakan menempel pada lantai. Jyushi memejamkan mata erat-erat, berharap dia dapat terbangun dari semua mimpi buruk ini. Setiap tarikan napas terasa perih, mencekik kerongkongannya. Isak tangisnya memecah keheningan malam, menjadi saksi bisu atas ketakutan yang teramat dalam di dadanya.
Suaranya bergetar, “H-Hitoya–san, Kuko–san… Aku… A-aku mau pulang. Aku takut. Aku tidak mau di sini!”
“Tangga yang menurun itu menyimpan jalan menuju pembebasan, kau tahu.”
Mendengar suara yang familiar, Jyushi langsung membuka mata. Lagi-lagi sang jantung melompat. Kali ini tampil sosok lain di hadapannya dengan paras serupa.
Itu Jyushi lain. Jyushi yang selama ini menjadi topeng teatrikal guna menutupi sosok cengeng dan penakut.
"K-kamu siapa?"
Sosok di depannya tertawa kecil.
"Aku?" katanya. "Bukankah aku hanyalah bayangan jiwamu, yang terciprat dalam pecahan kaca?”
Belum sempat Jyushi kembali berbicara, sosok itu sudah maju menerjang buas. Sebuah tangan mencengkram lehernya dengan kejam, memotong jalannya napas. Rasa takut yang pekat merayap, mencengkram kuat jiwa agar tetap membisu.
“Engkaulah sukma yang sunyi, terasing di taman suci. Bersemayam dalam dusta, berselimut porselen yang nyaris mati.”
Pandangan Jyushi mulai mengabur, udara di paru-parunya lenyap seketika. Dengan sisa tenaga, ia mencoba meronta, mencakar punggung tangan itu, namun sang sosok justru semakin mempererat jeratannya. Jyushi memekik ngeri, terperangkap dalam kesunyian menara yang dingin dan hampa, tanpa adanya dentang mengganggu lagi.
“Jiwamu hanyalah kaca rapuh, menangis dengan kegelisahan seorang anak; kerapuhan lembut seperti itu menandai hati yang belum teruji oleh ujian kebijaksanaan.”
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.
“Jyushi.” Suaranya berubah.
Bukan sebagai sisi Jyushi yang lain, tetapi sebagai orang pembawa malapetaka sekaligus trauma mendalam.
…𝘐𝘺𝘰𝘨𝘪?
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪?
“Makhluk seperti dirimu tak pantas hidup. Kau hanya bayangan menyedihkan yang terus hidup.” suaranya kasar. “Kau merebut segalanya!”
Di hadapannya, sosok itu menghitam menjadi siluet gelap membesar. Gelombang bayangan hitam merayap ke dinding, langit-langit, lalu lantai di bawah kaki Jyushi sebagai tempat berpijak.
Seluruh bagian menara segera lenyap ditelan kegelapan. Tubuh Jyushi terperosok ke bawah—ditelan hidup-hidup dalam malam abadi tak berujung.
Tak ada lagi pegangan menyesakkan dada, tak ada sosok menghantui mimpi, tak ada suara-suara menyakitkan telinga, hanya ada kehampaan membakar jiwa.
Mata menjadi buta akibat ketiadaan cahaya, cahaya rembulan pun tak kuasa menembus gelap. Gravitasi terus menariknya ke dasar ngarai yang gelap.
𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢… 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘺𝘢?
Tangan Jyushi bergerak seperti ingin meraih tali imajiner untuk menghentikan kejatuhannya. Namun, yang dia dapat hanya hawa dingin melewati sela-sela jarinya.
𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘬𝘶𝘵,
𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 ‘’𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢.
Tulang punggung menghantam keras jurang membuat sang empu melolong keras kesakitan. Jyushi tak dapat lagi bergerak, tubuhnya tak mau menurut. Sesuatu yang hangat nan berbau besi mengalir di sisi wajahnya akibat benturan yang cukup keras.
𝘏𝘪𝘵𝘰𝘺𝘢–𝘴𝘢𝘯, 𝘒𝘶𝘬𝘰–𝘴𝘢𝘯…
Air mata terakhir mengalir keluar. Dingin merambat hingga ke sela-sela tulang remuk, menghapus sisa-sisa kehangatan. Jyushi menatap ke atas, di mana sebuah lonceng semakin lama semakin besar tertarik oleh gravitasi, seolah itu menjadi benda terakhir yang dilihatnya—bukan orang terdekatnya.
Tidak ada lagi jalan kembali, tidak ada pula masa depan yang menanti.
“M-maaf.”
Lonceng raksasa pun ambruk tepat di atasnya, menyebabkan dentang lantang lagi menembus sepi. Sayang sekali, menimpa kesengsaraan jiwa yang selamanya tersesat.
