Work Text:
Malam di Paris selalu punya cara tersendiri untuk terasa lebih tenang, apalagi setelah keriuhan Paris Fashion Week hari ke-2 yang menguras energi. Di bawah temaram lampu kota yang terlihat dari balik jendela hotel mewah, kelima member Alpha Drive One akhirnya bisa bernapas lega setelah jadwal padat seharian penuh.
Setelah sesi foto juga berbagai wawancara yang tak ada habisnya dan duduk di barisan depan runway, mereka kembali ke hotel dalam keadaan letih namun puas karena acara yang mereka nantikan sudah selesai. Pembagian kamar selama 4 hari 2 malam ini sudah ditentukan sejak awal: Sanghyeon, Leo, dan Sangwon menempati satu suite besar bersama, sementara Geonwoo dan Junseo mendapatkan kamar dengan satu kasur yang cukup luas di lantai yang sama.
Begitu sampai kamar, Junseo langsung meletakkan tasnya dan meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.
"Aku mandi duluan ya," ucapnya pendek yang dibalas anggukan pelan oleh Geonwoo yang sedang sibuk mengecek ponsel.
Sekitar dua puluh menit berlalu, suara gemericik air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan uap hangat beraroma flowery dan vanilla. Junseo keluar hanya dengan balutan bathrobe putih tebal yang sengaja tidak diikat terlalu rapat, memperlihatkan garis leher dan kulitnya yang masih lembap terkena air hangat. Pemandangan itu cukup membuat Geonwoo terdiam sejenak sebelum ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya.
Geonwoo tidak lama. Ia keluar sudah mengenakan pakaian santainya kaos kutang (singlet) hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya dan celana training panjang. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Junseo di dekat jendela.
Junseo sudah berganti pakaian. Bukan piyama biasa yang kemarin Junseo pakai, melainkan setelan piyama satin berwarna merah maroon. Celananya sangat pendek, kontras dengan kulit kakinya yang putih bersih.
Geonwoo merasa tenggorokannya mendadak kering. Piyama satin yang pendek itu benar-benar menguji pertahanannya malam ini.
Junseo berdiri tegak di depan jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menampilkan gemerlap lampu kota Paris yang seperti hamparan berlian di atas beludru hitam.
Tangan kanannya memegang gelas berisi cairan merah pekat. Piyama satin merah maroon yang dikenakannya tampak berkilau setiap kali ia bergerak sedikit, memperlihatkan betapa pendeknya potongan celana itu yang mengekspos paha putihnya dengan begitu berani.
Geonwoo tidak bisa lagi menahan diri hanya dengan menonton dari kejauhan. Dengan langkah tanpa suara, ia mendekat. Kaos kutang hitam yang dipakainya menonjolkan otot lengannya yang masih hangat sehabis mandi. Tanpa peringatan, ia melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang ramping Junseo, menarik tubuh yang lebih pendek itu hingga punggung Junseo menempel sempurna pada dadanya yang bidang.
Junseo sedikit tersentak, namun ia tidak menghindar. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Geonwoo, membiarkan aroma maskulin dari sabun mandi Geonwoo bercampur dengan wangi skincare miliknya.
"Pemandangannya bagus ya Geonwoo?" bisik Junseo pelan, suaranya terdengar lembut.
Geonwoo tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya justru tertuju pada gelas wine yang masih dipegang Junseo. Ia menjangkau tangan Junseo, menuntun gelas itu ke arah bibirnya sendiri menyesap sedikit cairan merah itu langsung dari gelas yang baru saja disentuh bibir Junseo. Rasa manis dan getir wine itu tertinggal di lidahnya.
Tangan Geonwoo yang tadi berada di pinggang Junseo kini merayap turun dengan berani. Jemarinya yang panjang masuk ke balik kain satin merah yang licin, menyentuh kulit lembut paha dalam Junseo. Sentuhan itu tidak ragu-ragu ia mengusap dan sedikit menekan di sana, membuat lutut Junseo mendadak lemas.
"Geonwoo... " desis Junseo, jemarinya meremas lengan kekar Geonwoo yang berurat.
Bukannya melambat, Geonwoo justru memutar tubuh Junseo hingga mereka berhadapan. Mata mereka mengunci satu sama lain. Tanpa memberikan ruang untuk bernapas, Geonwoo menangkup rahang Junseo dan melumat bibirnya dalam ciuman yang dalam dan memabukkan, rasa wine tadi kini bercampur dengan napas mereka yang menderu.
Di tengah ciuman yang semakin menuntut itu, Geonwoo tiba-tiba menyusupkan kedua tangannya di bawah pangkal paha Junseo. Dengan satu gerakan kuat dan mantap, ia mengangkat tubuh Junseo ke dalam gendongannya.
Junseo secara refleks melingkarkan kakinya yang jenjang ke pinggang Geonwoo, membiarkan piyama merah pendeknya tersingkap lebih jauh. Geonwoo tidak melepaskan tautan bibir mereka sedikit pun. Sambil terus mencium Junseo dengan intensitas yang membuat kepala pening, ia membawa Junseo melangkah menuju kasur king size yang menanti di tengah ruangan.
Tangan Geonwoo yang menopang paha Junseo terus bekerja, jemarinya meraba dan meremas pelan kulit paha dalam yang sensitif itu sepanjang langkah mereka menuju tempat tidur.
Begitu sampai di tepi kasur, bukannya merebahkan Junseo, Geonwoo justru menjatuhkan dirinya sendiri terlebih dahulu ke atas sprei putih yang dingin. Ia menarik Junseo ikut bersamanya, membiarkan Junseo mendarat tepat di atas tubuhnya.
Kini, Junseo berada di atas perut Geonwoo, duduk bertumpu pada paha kokoh pria itu. Posisi ini membuat piyama satin merah maroon yang sangat pendek itu tersingkap lagi hingga batas maksimal, memperlihatkan paha dalam Junseo yang tadi terus dimainkan oleh tangan Geonwoo.
"Sini, lihat aku." bisik Geonwoo sambil menatap Junseo dari bawah. Tangannya kembali membelai paha dalam Junseo yang sekarang berpindah tempat ke pantat belakang Junseo yang terasa hangat di atas perutnya.
Junseo menunduk, rambutnya yang masih sedikit lembap jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ia menatap Geonwoo dengan tatapan sayu, tangannya meremas bahu Geonwoo yang hanya tertutup singlet hitam.
"Kamu sengaja ya pakai baju sependek ini?" tanya Geonwoo dengan seringai kecil, sementara jemarinya terus bergerak nakal di kain yang menutupi pantat halus Junseo,
“Kamu tau nggak, kemeja maroon tembus pandang yang tadi kamu pake aja bikin aku sesak napas apalagi ini.” tambah Geonwoo membuat suasana di kamar hotel itu semakin panas meski di luar Paris sedang diguyur angin malam yang dingin.
"Mungkin, karena katanya warna merah itu bikin suami makin betah." jawab Junseo
Junseo menunduk, membiarkan ujung rambutnya yang halus menyapu pipi Geonwoo. Dengan posisi duduk tepat di atas perut Geonwoo, ia bisa merasakan setiap hembusan napas berat yang keluar dari pria di bawahnya. Aroma wine yang bercampur dengan wangi maskulin dari tubuh Geonwoo seolah menjadi candu yang membuat akal sehatnya perlahan menguap.
Tanpa menunggu komando, Junseo menangkup wajah Geonwoo dengan kedua tangannya, lalu menunduk untuk menyatukan bibir mereka kembali. Kali ini, ciuman itu tidak lagi ragu-ragu. Junseo melumat bibir bawah Geonwoo dengan perlahan namun dalam, memberikan tekanan yang membuat Geonwoo mengerang rendah di dalam tenggorokannya.
"Fuck, Junseo..." bisik Geonwoo di sela-sela pagutan mereka, meskipun tangannya sendiri justru semakin erat mencengkeram pinggang Junseo, menariknya agar tidak ada jarak sedikit pun di antara perut mereka.
Ciuman itu berubah menjadi pertarungan lidah yang panas. Geonwoo membalas setiap lumatan Junseo dengan dominasi yang kuat. Ia menghisap bibir atas Junseo, lalu berpindah ke sudut bibirnya, seolah ingin menyesap habis sisa rasa red wine yang masih tertinggal di sana. Suara kecipak halus memenuhi keheningan kamar 411, beradu dengan detak jantung mereka yang kencang.
Sambil terus berciuman, tangan Geonwoo tidak tinggal diam. Ia mulai merayap masuk ke balik atasan piyama satin merah maroon yang pendek itu, menyentuh kulit pinggang dalam Junseo yang terasa sangat panas. Ibu jarinya memberikan usapan memutar yang konstan di sana, membuat tubuh Junseo berjengit dan tanpa sadar menekan tubuhnya lebih rapat ke atas perut Geonwoo.
"Pas aku liat kamu dikasih baju kaya gitu, bikin aku bete tau nggak?." gumam Geonwoo saat ciuman mereka terlepas sejenak untuk mengambil oksigen. Matanya yang gelap menatap bibir Junseo yang kini tampak sedikit bengkak dan memerah.
Junseo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang rahang tegas Geonwoo, lalu turun ke lehernya. Ia menghisap kulit di sana dengan berani, meninggalkan tanda samar yang tertutup bayangan lampu remang.
"Tapi aku penasaran pengen tau seberapa liar kamu malam ini." Geonwoo terkekeh rendah, suaranya parau karena gairah. Ia menarik tengkuk Junseo, kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya.
"Junseo... pelan-pelan," desis Geonwoo, matanya terpejam erat saat Junseo mulai bergerak perlahan, bergoyang-goyang pelan di atas pusat gundukan Geonwoo.
Gesekan antara kain satin piyama Junseo yang tipis dengan celana panjang Geonwoo menciptakan sensasi panas yang membakar. Geonwoo bisa merasakan dengan jelas bagaimana Junseo menekan tepat di atas area yang kini sudah sangat menegang dan membengkak di balik celananya. Setiap gerakan kecil yang dibuat Junseo seolah menjadi siksaan manis bagi Geonwoo yang hanya bisa berbaring pasrah di bawah kungkungan pria cantik itu.
"Kenapa? Kamu nggak suka kalau aku begini?" bisik Junseo tepat di depan bibir Geonwoo. Ia sengaja memberikan sedikit tekanan ekstra pada gerakannya, membuat Geonwoo tersentak kecil dan meremas sprei putih hotel hingga sedikit kusut.
"Aku suka... Please keep driving me crazy." jawab Geonwoo dengan napas yang memburu. Ia menarik tengkuk Junseo, kembali melumat bibir itu dengan kasar seiring dengan gerakan pinggul Junseo yang semakin berani dan tidak beraturan di atas tubuhnya.
“Ah.. Geonwoo, kok makin gede sih?”
Tangan Junseo kini berpindah dari bahu ke dada Geonwoo, meraba otot yang mengeras di balik singlet hitam yang lembap oleh keringat tipis sambil terus menggoyangkan pinggulnya. Ia bisa merasakan detak jantung Geonwoo yang berpacu liar, sama kencangnya dengan miliknya sendiri.
Cup. Junseo mengecup sekali bibir Geonwoo tanda ciuman ini sudah berakhir untuk saat ini.
Junseo merangsek menurunkan tubuhnya menuju gundukan besar ditengah kedua kaki Geonwoo. Meremas benda tersebut, sambil menatap Geonwoo dengan sedikit nakal.
“Aku mau ini boleh gak?”
“Boleh sayang, buka aja. Itu punya kamu juga.”
Setelah diberikan lampu hijau Junseo memekik senang sambil membuka celana Geonwoo untuk menunjukkan penisnya yang sudah menegang hingga menonjolkan urat-urat di sekitarnya.
Cuih. Junseo mulai memanjakan Penis Geonwoo dengan melumurinya dengan saliva nya sendiri, dan mulai memijat batang tersebut dengan perlahan. Kemudian, ia memasukkan batangnya ketika dirasa sudah tidak kering lagi.
“Ehmh.” Keduanya langsung bereaksi bersamaan.
Geonwoo menggeram pelan ketika penisnya merasakan kehangatan dan tangan Junseo mengocok bagian pangkal penisnya yang tidak sanggup ia masuki. Lidah Junseo bermain di lubang kencingnya. Rasanya Geonwoo ingin menarik rambut Junseo untuk menekan kepalanya ke bawah sambil pinggulnya ia hentak keras ke dalam mulut hangat Junseo. Tapi ia tidak tega, jadi hanya menggenggam dan mengelus kepala yang lebih tua.
“Ah, iya sayang terus.. pinter.”
Geonwoo melihat ke arah Junseo, ia dapati satu tangan lainnya si cantik itu sedang terburu-buru membuka kancing piyamanya dan menyentuh dirinya sendiri di bagian Dadanya. Memelintir dan meremas dada dan pentilnya sendiri. Geonwoo meneguk ludahnya kasar. Wajah Junseo dipenuhi rona merah dan air liur yang membasahi sekitar bibirnya sangat-sangat indah.
Junseo menggumam pelan sambil terus menggerakan kepalanya dengan fokus dan semakin cepat. Setiap penis Geonwoo mencapai tenggorokannya ia merasa precum-nya banyak tertelan.
Junseo semakin lama semakin lemas, sudah mulai kebas di area mulutnya. Tetapi tanda-tanda Geonwoo ingin keluar tidak kunjung datang.
Plop. “lama banget sih, keburu kebas tau gak?”
“Yah, itu sebentar lagi sayang. Masukin lagi.” Ujar Geonwoo sambil memasukkan kembali penisnya dalam mulut Junseo. Tapi saat ini kedua tangannya ikut serta untuk memaju-mundurkan kepala Junseo dengan cepat. Sampai penisnya menyentuh kembali tenggorokan dalam Junseo. Gerakan itu dilakukan berulang kali sampai Junseo beberapa kali tidak bisa bernapas dengan benar. Junseo merasakan penis Geobwoo di dalam mulutnya semakin mengeras dan membesar, urat-urat di batangnya juga semakin menonjol terasa di dalam area mulut dan tenggorokannya, tanda sebentar lagi Geonwoo mengeluarkan cum nya.
“Nah sayang aku keluar…” Dan akhirnya Geonwoo melepaskan pelepasan pertama di dalam mulut Junseo.
Junseo menelan semua cairan Geonwoo yang berada dalam mulut dan sudut bibirnya. Junseo terengah-engah mengais oksigen saat sudah mengeluarkan penis Geonwoo. Geonwoo mengagumi paras indah Junseo, rona merahnya. Bibir tebal yang basahnya. Dan mata sayu nya. Dan jangan lupa gerakan lidah nakal Junseo yang mengganggu kewarasannya.
Kini, Junseo terbaring telentang di atas sprei putih yang sudah berantakan, sementara Geonwoo mengungkungnya dengan kedua tangan di sisi kepala Junseo.
Tatapan Geonwoo semakin menggelap, Ia menatap Junseo yang tampak berantakan ini membuat penis dan tubuhnya tegang kembali.
"Sekarang giliran aku." bisik Geonwoo rendah, suaranya terdengar seperti geraman halus yang membuat bulu kuduk Junseo meremang.
Geonwoo mulai melancarkan serangan godaannya. Ia menunduk, memberikan ciuman lembut namun lama di kening Junseo, seolah memuja pria di bawahnya. Turun ke bawah, ia mengecup kedua pipi Junseo yang sudah merona merah, lalu memberikan kecupan-kecupan singkat di bibir Junseo yang hanya sekadar menempel, menariknya menjauh, lalu menempelkannya lagi hingga Junseo mengerang karena merasa tidak puas.
"Geonwoo... cium!!" rintih Junseo pelan, tangannya meremas bahu Geonwoo yang terbalut singlet hitam.
Geonwoo tidak menuruti dan hanya terkekeh tipis, ia memindahkan fokusnya ke leher Junseo. Menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda-tanda merah yang akan sulit disembunyikan besok pagi. Aroma skincare dan wangi tubuh Junseo yang makin menguar karena keringat tipis membuat Geonwoo semakin liar.
Tangannya kini bergerak menuju kain merah yang sudah terbuka itu, Geonwoo menurunkan kepalanya lebih jauh. Ia memberikan ciuman-ciuman basah di sepanjang tulang selangka, hingga akhirnya bibirnya mencapai puting Junseo. Ia mengulumnya perlahan, memainkannya dengan lidah hingga Junseo melengkungkan punggungnya, mendesah keras memenuhi keheningan kamar hotel.
”H-Hahhh..”
"Kamu cantik banget, sayang. Apalagi kalo udah desah kaya gitu." gumam Geonwoo di atas dada Junseo.
Lidahnya bermain dengan lincah, memutar dan memberikan tekanan-tekanan kecil di sekitar area tersebut sebelum kembali menghisapnya dengan dalam. Suara basah yang tercipta di antara kulit mereka terdengar begitu jelas di kamar yang sunyi itu, menambah kesan erotis yang luar biasa.
Tangan Geonwoo tidak tinggal diam, mulutnya sibuk memanjakan satu sisi, tangannya yang meremas dan memelintir lembut sisi lainnya dengan ibu jari, memastikan Junseo mendapatkan rangsangan ganda yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
”Ah sakit Geonwoo…” gumam Junseo, tapi sambil meremas kepala Geonwoo.
"Sakit atau enak, hm?" jawab Geonwoo dengan suara yang sangat rendah, bibirnya masih menempel di atas puting Junseo.
"Enak...” jawab Junseo dengan suara parau, wajahnya ia sembunyikan di balik lengannya sendiri karena tak sanggup menatap betapa rakusnya Geonwoo "menikmati" dirinya malam itu.
Tidak membiarkan Junseo beristirahat, tangan Geonwoo merayap turun menuju pinggang. Jemarinya masuk ke balik karet celana piyama pendek yang sejak tadi sudah sangat mengganggu pandangannya. Dengan satu tarikan yang mantap namun lembut, Geonwoo melucuti celana satin merah itu, membuangnya sembarang ke lantai kamar hotel, meninggalkan Junseo yang kini benar-benar terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Geonwoo.
Geonwoo berdecak kagum melihat pemandangan di depannya. Tubuh Junseo yang sudah tidak tertutup sehelai benang terlihat indah disinari cahaya lampu yang sengaja di setting remang-remang, pun peluhnya buat kilau pada kulitnya semakin menawan. Penis Geonwoo beneran tegang lagi. Keras.
“Geonwoo, cepet masukin gatel!! tapi masih sempit, aku lebarin dulu ya.. watch me!”
Junseo, dengan napas yang masih tersengal dan wajah merona hebat, perlahan membawa tangannya turun. Ia mengulum jemarinya sendiri dengan saliva nya sendiri, lalu dengan gerakan yang sangat berani, ia mulai memainkan lubangnya. Geonwoo menelan ludah dengan susah payah saat melihat jari-jari lentik Junseo mulai menekan dan perlahan masuk ke dalam lubangnya, menciptakan suara basah yang begitu nyata di keheningan kamar.
"Junseo... kamu bener-bener mau bikin aku mati ya?" desis Geonwoo, suaranya pecah karena gairah yang sudah di ujung tanduk.
Melihat pemandangan erotis itu, Geonwoo tidak bisa lagi menahan diri. Dengan gerakan terburu-buru yang hampir kasar, ia membuka celana panjangnya yang tadi masih menyangkut di pinggul, melemparkannya ke sembarang arah hingga ia kini hanya menyisakan singlet hitam yang sudah basah oleh keringat. Matanya tidak lepas dari bagaimana jemari Junseo bergerak keluar-masuk, mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar.
Geonwoo meraih pergelangan kaki Junseo. Ia menarik salah satu kaki jenjang itu hingga terangkat ke arah wajahnya.
Sambil terus mengunci tatapan mata Junseo yang sayu dan penuh damba, Geonwoo mulai mengecup dan menjilat kaki Junseo, lalu dengan sangat sensual, ia mengulum jari-jari kaki Junseo satu per satu. Lidahnya bermain dengan lincah di sana, memberikan sensasi geli sekaligus panas yang membuat Junseo mengerang semakin keras, sementara jemarinya di bawah sana bergerak semakin cepat seirama dengan hisapan Geonwoo di pada jari-jarinya.
"Ahhh... Geonwoo, sempit banget," rintih Junseo, tubuhnya gemetar hebat di atas sprei putih yang kini sudah berantakan total.
Geonwoo melepaskan jari kaki Junseo, menyisakan jejak basah. Ia menatap ke arah Junseo dan membantunya untuk melebarkan lubang surga duniawi nya itu jarinya sendiri, lalu berbisik rendah tepat di depan wajah Junseo.
"Ini pake jari panjang aku, enak nggak sayang?" gumam Geonwoo, tangannya kini menggantikan posisi jari Junseo, siap untuk mengambil alih seluruh kendali malam itu.
“Ahnn, i-iya panjang dikit lagi mentok.” Junseo bergetar merasakan Jari-jari Geonwoo yang mulai bisa melebarkan area lubang analnya.
“Mnghh– udah cukup masukinhh penisnya..” Junseo tidak kuat ingin segera Geonwoo memasukkan penisnya.
Mendengar itu, Geonwoo segera arahkan ujung batangnya ke depan lubang Junseo, lalu Geonwoo dorong pinggulnya secara perlahan. Suara rintihan Junseo menggema di kamar itu. Lelaki cantik itu menengadah sambil menggigit bibir bawahnya ketika Geonwoo mulai bergerak pelan, dan menarik penisnya setengah keluar sebelum maju lalu terus menghentak penuh presisi.
”Ah! Geonwoo.. Agh!”
”Ah iya, anget banget Junseo!!”
Geonwoo tersenyum puas, membetulkan posisinya untuk tetap meletakkan satu kaki Junseo keatas bahunya. Dan kedua tangannya mencengkeram pinggang Junseo. Geonwoo mendongak, menggeram rendah menikmati pijatan dari lubang hangat Junseo.
Junseo merasakan penis panjang dan berurat itu masuk begitu dalam. Menghentak-hentak titik nikmatnya berulang kali. Junseo sudah tidak kuat. Maka, ia memaikan penis yang jauh lebih kecil dari yang lebih muda. Junseo merasakan kenikmatan yang bertubi-tubi, pijatan di penisnya dan hentakan dalam lubangnya. Apalagi jika sesekali Geonwoo menghisap putingnya, junseo rasanya seperti ada di surga.
“Nghh— Geonwoo aku mau, mau ARGH! keluar.. GAK KUAT ENAK BANGET!!” Badan Junseo menegang, sprei dibawahnya dicengkeram kuat, punggungnya membusur sampai dadanya hampir bertabrakan dengan dada Geonwoo yang ada di atasnya. Junseo cum sampai mengenai badan mereka berdua. Badan Junseo sensitif karena putihnya, tetapi harus tetap menerima hujaman penis Geonwoo.
“Ah! enak banget sayang, remesan lubang kamu!” “sebentar lagi aku keluar!”
Geonwoo merasakan penisnya membesar dalam lubang Junseo, remasan dari lubang Junseo membuat Geonwoo keluar cepat saat ini.
“Terima ini.. H-hah..” Geonwoo bergumam keras ketika putihnya datang. Badannya menegang total sambil terus ngeluarkan Cum nya mentok-mentok di dalam lubang Junseo. Manik sayu Junseo secara refleks bergulir kebelakang saat menikmati cairan Geonwoo yang mengisi perutnya sampai seperti kembung.
Mereka berdua berlomba-lomba untuk bernapas secara tersenggal-senggal. Geonwoo tersenyum melihat ketidakberdayaan Junseo dibawah sana. Wajahnya merah padam, mulut dengan lidah yang basah terbuka.
Junseo sangat terlihat tolol. Tapi benar-benar terlihat cantik.
Geonwoo menarik dirinya perlahan, melepaskan ketegangan yang sedari tadi memuncak. Ia menghela napas panjang, lalu berbaring di sebelah Junseo yang masih tampak lemas dengan kulit yang memerah hebat dan piyama satin merah maroon yang sudah tidak berbentuk lagi.
Geonwoo membiarkan tubuhnya rileks di atas sprei yang kini sudah sangat berantakan. Ia menyandarkan kepalanya pada tumpukan bantal, lalu menoleh ke samping, menatap Junseo yang masih berusaha mengatur napas sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong yang sayu.
Geonwoo mengulurkan tangannya, membelai lembut rambut Junseo yang basah oleh keringat, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kamu tahu?" gumam Geonwoo, suaranya kembali rendah dan tenang, sangat kontras dengan geramannya beberapa saat lalu. "Hari ini kamu cantik banget di acara tadi. Semua kamera nggak berhenti arah ke kamu."
Geonwoo mengecup pelipis Junseo dengan lembut sebelum melanjutkan, "Tapi pas kamu lagi lemah di bawahku kayak gini... kamu jauh lebih cantik. Aku lebih suka yang ini."
Junseo memejamkan matanya, menikmati belaian tangan Geonwoo di kepalanya. Namun, di tengah kenyamanan itu, ada satu ganjalan yang sejak tadi bersarang di kepalanya sesuatu yang selalu ia simpan setiap kali mereka berakhir di atas kasur seperti ini.
"Geonwoo," panggil Junseo pelan, suaranya masih sedikit parau. Ia menoleh, menatap mata Geonwoo yang tampak begitu damai. "Sebenarnya... kita ini apa?"
Pertanyaan itu menggantung di udara Paris yang dingin di luar sana. Geonwoo tidak terkejut. Ia tidak langsung menjawab, melainkan hanya tersenyum tipis sebuah senyum yang sulit diartikan, namun terasa begitu menenangkan.
"Kenapa harus dipikirin?" sahut Geonwoo santai. Ia menarik Junseo ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Junseo bersandar di dada bidangnya yang masih hangat. "Tenang aja, Junseo. Semua ini udah normal di zaman sekarang. Seks tanpa status, kita cuma butuh satu sama lain, kan?"
Junseo terdiam sejenak. Ada sedikit rasa sesak yang muncul, namun ia segera menepisnya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Geonwoo yang maskulin, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang wajar bagi dua orang dewasa di industri yang penuh tekanan ini.
"Iya," bisik Junseo akhirnya, sambil memeluk pinggang Geonwoo lebih erat. "Kamu bener. Nggak perlu ada status."
Geonwoo mencium puncak kepala Junseo sekali lagi, merasa puas dengan jawaban itu. Di bawah selimut mewah hotel Paris, mereka pun membiarkan diri mereka tenggelam dalam kantuk yang luar biasa, melupakan sejenak bahwa besok pagi mereka harus kembali menjadi member Alpha Drive One yang sempurna di depan publik.
