Actions

Work Header

kidung kedukaan

Summary:

Arjuna, pada suatu waktu engkaulah raja yang memanah bulan; tetapi engkau pula seorang raja yang tombakmu membelah langit; tetapi engkau pula seorang pangeran yang pedangmu menghunjam inti bumi; tetapi engkau pula seorang prajurit yang memimpin sepasukanmu ke medan perang; tetapi engkau pula seorang bangsawan yang gemar menulis buku-buku; tetapi engkau pula seorang manusia yang penuh kebebasan mengarungi dunia;

dan Arjuna, hari ini, engkau adalah semanusianya manusia,

lalu kutemukan engkau pada padang bunga yang mekar bersama kasihmu.

(Atau bagaimana Yudistira Yogendra selalu menemukan kembali Arjuna Arkana pada tiap reinkarnasinya).

Notes:

Semua karakter di sini merupakan properti sah milik PANDAVVA.

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun atas dibuatnya fanfiksi ini (yang saya tulis atas dasar kecintaan saya dan sarana pemulihan diri).

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sepasang mata tersenyum dari pekarangan rumah seberang.

Dari sebalik pagar besi yang tingginya sepinggang orang dewasa, laki-laki itu selalu ada di sana; di bawah pohon tabebuya merah muda dengan kaus lengan panjang yang sama hijau dengan matanya. 

Pagi itu pun Arjuna Arkana melihat lelaki itu di sana. 

Ia menawarkan senyum singkat bersama anggukan kepala. Laki-laki itu selalu mengembalikan dengan sama. Sepasang mata yang hijaunya seperti dedaunan yang ditetesi embun pagi hari menatapnya lama sekali.

Arjuna mengendarai sepeda motornya, ada yang harus dikerjakannya hari itu. Bahkan, hingga Arjuna jauh meninggalkan rumahnya, tatapan itu masih ada seolah-olah merambati sepanjang punggungnya, lalu hinggap selamanya di sana.

.

.

Pada usianya yang dua puluh lima, Arjuna memutuskan untuk mengentaskan dirinya dari pekerjaan menjadi agen rahasia. Seberapa pun isi kepalanya berpikir tubuhnya telah begitu mengenali pekerjaan itu, ada suara kecil di sudut hati yang menginginkannya untuk pergi. Rasanya seperti ada yang membisikkan masa depan. Suaranya begitu lirih hampir-hampir tak terdengar, tetapi entah mengapa seolah begitu benar di dada pula kepala. Ia terus menghantui bagai serentetan mimpi.

Arjuna pikir berpisah dengan rekan-rekan adalah hal yang begitu memberatkan hati. Namun, ketika ia mulai mengemasi barang-barangnya, ada perasaan lega yang tidak pernah dikenalinya.

"Mungkin pilihan untuk pindah memang yang terbaik untuk kakak." Adiknya, Aya Aulya, menyemangati dari seberang telepon. Arjuna hanya mampu bergumam, lalu meninggalkan janji akan sering-sering telepon, juga mampir jika ada waktu luang.

Kehidupan yang dipilihnya saat itu berbanding terbalik dengan kehidupan yang begitu dikenalinya. Ia menghabiskan hampir sehari penuh di kereta, lalu melanjutkannya dengan bus kota selama hampir dua jam. 

Ia pasti akan baik-baik saja, Arjuna meyakinkan dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada yang benar-benar tahu alamat barunya. Arjuna akan baik-baik saja.

Rumah baru Arjuna berada di ujung gang. Kalau terus menyusuri jalan setapak hingga hampir sepuluh menit, ada danau kecil tempat orang-orang menghabiskan sore. Pekarangan rumahnya ditumbuhi bebungaan. Ada pohon bunga sepatu di dekat pagar. Arjuna mendorong pagar besi yang sudah dicat ulang. Sore itu dunia begitu tenang dengan suara burung di kejauhan.

Ketika ia tengah mengaduk-aduk tas mencari kunci pintu rumahnya, Arjuna merasakan tatapan yang berat di bahu. Dilongoknya arah pandangan itu. Di seberang rumahnya, terdapat rumah yang sejak pertama kali ia survei selalu bersama keheningan, seseorang berdiri di bawah pohon tabebuya merah muda. Seorang laki-laki dengan rambut hitam pendek yang beberapa helai rambut sisi kiri wajahnya diwarnai hijau tua. Sepasang mata itu sama warnanya seperti daun-daun bunga tabebuya, hijau gelap di bawah rindang pohon. Lalu, sepasang mata itu tersenyum sebagaimana segaris bibirnya. 

Arjuna termenung-menung, balas menganggukkan kepala.

Begitu pintu terbuka dan semua barang bawaan telah masuk ke dalam rumah, Arjuna mengintip sekali lagi dari celah pintu. Laki-laki itu masih di sana. Sepasang mata asing itu masih tersenyum, masih tertuju padanya. 

Tatapan itu mengikuti hingga malam ketika Arjuna membaringkan tubuh di atas ranjangnya.

.

.

"Pergi lagi hari ini?"

Arjuna memarkirkan sepeda motornya di luar pagar. Semenjak pindah, ia memutuskan untuk membeli sepeda motor. Akan ada banyak alasan untuk keluar dari rumahnya, pikirnya dua hari setelah kepindahannya. Begitu selesai mengunci pagar, Arjuna berbalik badan untuk melihat Yudistira di pekarangan rumah seberang, di bawah pohon tabebuya merah muda yang tengah mekar. 

Yudistira siang itu berpakaian rapi dengan kaus putih yang ditimpa sweter hijau cerah. Celananya putih tulang. Laki-laki itu sama riangnya dengan matahari yang sedang panas-panasnya. 

"Mumpung nggak hujan." Sebetulnya memang bukan musim hujan, sih. Arjuna belum menemui hujan selama pindah. Udara cukup kering, ia seolah-olah mampu mengendus aroma terik matahari di sekelilingnya. "Kamu nggak pergi?"

"Aku nggak pergi."

Ada senyum yang kelewat tipis di wajah Yudistira. Ada kebingungan yang berputar-putar di kepala. Agak-agaknya laki-laki itu tidak memberikan ruang untuk kembali berbincang. Arjuna mati bersama kebingungannya. Jari-jemarinya menggapai stang motor. Ada anggukan kepala yang meragu. 

Yudistira tidak berkata apa-apa; tetap berdiri di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda yang rimbun, menunggu. Arjuna mengucap pergi dulu ya sembari memasang helm di kepala. Tetangganya itu hanya mengangguk. Arjuna menunggu.

Lambaian tangan yang sama meragunya ia tinggalkan di udara.

Barangkali otak Arjuna leleh bersama matahari yang sedang panas-panasnya sebab ada kebimbangan yang menggulung-gulung di kakinya seolah-olah memintanya untuk kembali.

Aku ingin kembali.

.

.

Semesta pasti tengah mengolok-oloknya seolah tiada hari akhir.

Arjuna baru saja berbelok di perempatan pertama ketika rasa kebimbangan di hatinya sama sekali tak mau beranjak pergi. Ia terburu-buru membanting stir motornya, diiringi klakson mobil panjang karena ia tidak memberi aba-aba. Arjuna meneriakkan maaf yang hanya disambut umpatan. Ia hanya meringis, merapal maaf, maaf di dalam hati. Dikendarainya sepeda motor bagai masa muda ketika ia masih suka ugal-ugalan.

Di depan rumah Yudistira yang pekarangan depannya dihiasi pohon tabebuya merah muda, Arjuna melongok-longok. Jantungnya seolah berhenti berdegup ketika didapati lelaki itu tengah duduk-duduk di serambi. 

"Yudistira!"

Siang itu matahari bersinar dengan sangat terik. Bumi sedang panas-panasnya. Bebungaan tabebuya merah muda di pekarangan rumah Yudistira berjatuhan ditiup angin. Lalu, laki-laki itu bangkit dari duduknya, menghampiri Arjuna masih dengan bebungaan yang beterbangan, juga senyum yang masih menggantung di wajah.

Arjuna mengendus aroma kebahagiaan di udara.

Telapak tangan Arjuna dingin, jantungnya berdegup seolah tengah berkejar-kejaran dengan waktu. Ada kelegaan yang familiar ketika Yudistira hanya berjarak sepelemparan batu dari dirinya sendiri.

Sepasang mata hijau Yudistira tersenyum biasa, seperti hari-hari sebelum hari ini.

"Aku tahu kamu pasti memilih buat pulang lagi."

.

.

Yudistira mengaku tidak punya banyak hal untuk disajikan kepada tamu. Mendengarnya, Arjuna praktis menyambar dengan ketangkasan yang membuat mereka berdua sama kagetnya, aku habis bikin kukis, kok. Dengan wajah panas, Arjuna membantu membukakan pagar besi rumah tetangganya itu, lalu menuntun motornya diiringi Yudistira yang berjalan di belakangnya.

Sementara Arjuna rusuh di dapur, Yudistira dengan sangat anteng duduk di sofa ruang tamu yang warnanya abu-abu pias. Kedua lutut rapat dengan jari-jemari rapi di atasnya. Arjuna meletakkan setoples kukis juga teh hangat tawar, sesuai permintaan laki-laki itu.

"Kenapa tahu aku bakal pulang lagi?" Arjuna memilih untuk tidak melepaskan topik itu. Ia duduk dua jengkal jaraknya dari Yudistira.

Ada senyum menggantung di wajah Yudistira. Sepasang matanya ikut menyipit ketika menarik bibir. Namun, tidak ada jawaban apa pun yang dibisikkan Yudistira. Lelaki itu hanya balas menatap dengan sepasang mata yang seolah selalu tersenyum.

Apakah ia semudah itu diterka? Arjuna bertanya-tanya di dalam kepala, menerka apakah kemampuannya sebagai mantan agen rahasia sudah tumpul begitu saja. Ada aroma teh yang samar di udara. Dari sudut mata, ditatapnya Yudistira yang menyesap teh hangatnya lambat-lambat. 

Lalu, keduanya bertemu pandang pada satu titik yang sama. Bibir Yudistira mengilap bekas meminum teh. Ada senyum yang sama menggantungnya. 

Bagai maling kacangan yang baru saja terpergok, Arjuna cepat-cepat mengalihkan pandangnya. Teh di cangkirnya mengolok-olok kelakuan memalukannya. Dadanya berdegup kencang sampai-sampai Arjuna dapat mendengarnya lewat kuping sendiri sedangkan kedua telapak tangannya mendadak basah. Ada bekas tatapan Yudistira yang tertinggal di bahunya. 

Cangkir teh diangkatnya hati-hati masih dengan isi kepala berantakan. Arjuna bahkan hampir-hampir tidak bisa merasakan manis tehnya, padahal sudah diberi dua sendok makan gula. 

Ada kecanggungan yang membuat Arjuna kebingungan mencari alasan untuk membuka mulutnya. 

Ketika Arjuna memberanikan diri untuk melongok pada Yudistira, lelaki itu telah menunggu dengan senyumnya yang biasa. Arjuna terkesiap. Cepat-cepat ia berdaham untuk menghilangkan degup yang masih menggantung di dada.

Cangkir teh dikembalikan ke atas meja. "Kamu nggak pernah merasa kesepian?" Setengah penasaran setengah akal-akalan kepalanya sendiri agar menjadi tuan rumah yang ramah dan penuh perhatian.

Yudistira menggeleng. Rambut pendeknya ikut bergerak halus. "Sudah lama aku nggak tahu kesepian itu seperti apa."

Meski demikian, meski Yudistira mengatakannya dengan begitu ringan, Arjuna seolah mampu merasakan pahit yang menggigit di lidahnya. Ada keterasingan yang berputar-putar di udara. Ia tidak tahu perasaan apa itu, tetapi ada yang berdenyut di dalam hatinya. Kalau-kalau memang bukan sesuatu yang bernama seperti kesenduan, Arjuna tidak tahu harus menyebutnya dengan apa.

Yudistira balas menatap lama sekali seumpama tengah menerka-nerka keheningan yang pekat di antara keduanya. 

.

.

"Arjuna Arkana, tetangga kamu. Boleh kenalan?"

Sepasang mata mengawasi dari bawah pohon tabebuya merah muda. Di antara kerindangan pohon-pohon, laki-laki yang selalu berdiri diam bagai setan tiap kali Arjuna melihatnya membalas dengan senyum mengawang yang terbit hanya dari permintaan perkenalan itu. Lalu, laki-laki itu menganggukkan kepala. "Yudistira Yogendra," balas tetangganya itu. Arjuna menunggu, tetapi lelaki bernama Yudistira hanya melangkah pendek, lalu berhenti begitu saja. Masih ada dua rentang tangan jarak yang membentang dari Arjuna berpijak dan Yudistira yang bersembunyi di bawah bayangan pohon.

Sudah hampir satu minggu sejak kepindahan Arjuna. Selalu ada Yudistira di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda tiap kali ia melangkahkan kaki atau sekadar mengintip dari sebalik tirai jendela kamar. Siang itu pun sama seperti siang-siang sebelum siang ini. Arjuna tidak ada jadwal pergi, tetapi ia memutuskan untuk tetap membuka pintu; menjemput sepasang mata yang seolah terus-menerus mengawasi bahkan dalam tidurnya.

Arjuna sudah habis akal, sepertinya, sebab berhari-hari waktu yang dihabiskannya untuk berseluncur di internet tidak membawanya ke mana pun. Artikel-artikel yang dibacanya hanya menampilkan mengenai rumah barunya. Arjuna hanya dituntun pada laman jual beli yang terakhir diperbarui sebulan lalu saat ia membeli rumah itu. 

"Kalau dia bukan orang aneh, kenapa kamu harus nyari-nyari kayak lagi menyelidiki pelaku pembunuhan?" Suatu ketika Nakula menukas ketika Arjuna mengeluhkan tidak mendapat informasi apa pun soal tetangganya itu. 

Arjuna jadi semakin sakit kepala ketika Sadewa, saudara kembar Nakula, menyambar dengan main-main. "Mungkin memang Arjuna target pembunuhan selanjutnya."

Memang salah Arjuna untuk berkeluh kesah pada si kembar yang nampaknya terlalu riang tiap kali Arjuna datang membawa masalah. Tetangga depan rumahnya memang bukan orang aneh, Arjuna mengoreksi dalam hati, bukan juga seorang pembunuh, tetapi tatapan yang selalu mengikutinya pasti punya arti; tetapi tatapan yang selalu membayangi hingga tidur sampai-sampai tertanam begitu jauh di dalam kepala pasti punya tujuan; tetapi tatapan yang seolah mampu mengenalinya luar dan dalam pasti punya pesan.

Maka, Arjuna harus mencari tahu sebagaimanapun caranya. Arjuna harus mendapatkan jawabannya bahkan jika ia harus menyelidiki hingga sampai ujung dunia sekalipun. Pada suatu waktu, Arjuna Arkana adalah seorang agen rahasia, menyelidiki lembar demi lembar manusia adalah makanan sehari-hari; mengejar hingga ujung nadi adalah apa yang ia hadapi tiap waktu.

"Arjuna?"

Yang menyambutnya adalah pohon-pohon tabebuya merah muda. Pada garis terakhir bayangan pohon, berdiri seorang lelaki yang baru diketahui namanya sebagai Yudistira Yogendra. Sepasang mata yang hijaunya seperti dedaunan itu menatapnya dengan kecemerlangan yang membuat Arjuna tersadar dari pengembaraannya. 

Arjuna menggaruk tengkuk. Ia meringis, mengucap maaf tanpa suara sembari mengatupkan kedua tangan di depan wajah. Yudistira tersenyum tipis, tetapi Arjuna rasa ada sentuhan yang begitu hangat di dalam hatinya yang lama bolong.

Arjuna mengecap siang yang terik di lidahnya. Ada aroma yang manis samar di udara. "Kamu banyak melamun, ya?" Lalu, bersama suara itu, Arjuna merasa sesuatu yang asing, tetapi entah mengapa suara kecil di hatinya seolah berbisik bahwa ia mengenalinya dengan baik.

Pada tatapan Yudistira yang begitu asing, Arjuna seolah menemukan sesuatu bernama kerinduan yang sama asingnya.

.

.

Kunjungan kedua Yudistira di rumah Arjuna adalah suatu Sabtu sore yang hangat. Sepanjang siang, Arjuna menghabiskan waktu untuk bertukar kabar dengan Aya Aulya. Dari seberang panggilan video itu, adiknya tengah mengerjakan tugas kampusnya. Aya mengaku minggu itu ia cukup sibuk. Rasa-rasanya hampir mati tercekik tumpukan tugas. Arjuna tertawa-tawa sembari mempersiapkan peralatan tempurnya di dapur. Aku juga pernah melalui itu, Arjuna mengaku. Ia membantu adiknya sebisanya, mafhum betul Aya butuh banyak dukungan semangat darinya.

Sembari mendengar adiknya mengoceh, Arjuna memutuskan untuk membuat kukis lagi. Bahan-bahannya sudah disiapkan hari sebelumnya. Yudistira bilang suka kukis. Di sebalik mata Arjuna seolah terputar kembali saat Yudistira bertamu. Meskipun kagok setengah mampus, Yudistira mencicipi kukis buatannya. Enak, puji Yudistira dengan senyum yang kelembutannya membuat hati Arjuna ikut porak-poranda, aku suka kukis. Kalau-kalau tidak punya rasa malu, barangkali ia sudah pingsan saat itu juga.

Aya memanggil-manggil dari seberang. Belum sempat Arjuna mengumpulkan sisa-sisa kesadaran, Aya sudah menyambar lagi, "kakak kenapa? Aneh banget wajahnya."

Ia berdaham-daham dengan tidak wajar yang hanya membuat Aya semakin curiga. Sebelum Arjuna menenggelamkan dirinya sendiri pada rasa malunya sendiri, cepat-cepat dialihkannya topik pembicaraan. Beruntung Aya yang barangkali berpikir keduanya sudah cukup bertukar kabar memutuskan untuk pamit mengerjakan tugas lagi sembari meninggalkan pesan agar ia cukup istirahat dan tidak banyak melamun. Arjuna hanya meringis, balas menyemangati adiknya serta berjanji akan berkunjung nanti.

Kukis-kukis di dalam setoples kaca balik menatap kebingungan pada Arjuna. Ada sekelebat senyum Yudistira yang lagi-lagi mampir tanpa diminta. Arjuna mendadak setuju ia memang aneh. Semua hal mendadak mengingatkannya pada Yudistira. Mungkinkah ia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja mati-matian tanpa sempat banyak berinteraksi dengan manusia lain sekadar obrolan ringan ketimbang membahas jejak-jejak pelaku kejahatan?

Sore itu, Arjuna menemukan Yudistira berada di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda, sama seperti sore-sore yang lalu. Di bawah kaki laki-laki itu, guguran bunga tabebuya menjelma lautan merah muda. Yudistira segera menangkap kedatangannya. Keduanya bertukar senyum. Arjuna tidak mengatakan apa-apa, tetapi Yudistira seolah-olah mampu mengartikan kedatangannya begitu saja. Di bawah sinar matahari yang hangat, Yudistira melangkah keluar dari pekarangan rumah, menghampiri Arjuna yang menunggu.

Sepertinya Arjuna akan terbiasa melihat Yudistira yang berpakaian serba hijau itu di sudut-sudut rumahnya yang merah dan abu-abu. Ada Yudistira dengan sweter hijau panjangnya tenggelam bersama buku-buku di ruang baca.

"Aku nggak punya banyak pengetahuan soal buku." Begitu Yudistira mengaku ketika Arjuna menuntun langkah menuju ruang khusus untuk membaca buku. 

"Kita bisa mulai hari ini."

Kekhawatiran Yudistira bakal ambil langkah untuk pulang rupa-rupanya tidak terjadi. Laki-laki itu hanya tertawa tipis, mengekori Arjuna yang tengah memandang-mandangi tumpukan buku yang berserakan di lantai. Sepertinya ia butuh rak baru. Tiga rak yang sudah dipersiapkannya tidak mampu menampung buku yang ia miliki. 

Ketika Arjuna melongok tetangganya itu, Yudistira sudah mengambil satu buku dari rak. Arjuna mengintip, semata-mata penasaran apa yang dipilih oleh seseorang yang mengaku tidak banyak membaca. Dongeng-dongeng oleh Grimm Bersaudara.

Barangkali merasa diperhatikan, Yudistira balik melongok. Ada merah muda yang tipis di kedua bukit pipi laki-laki itu. Yudistira memeluk buku itu di depan dada. Sepasang matanya berlarian seolah-olah menghindar dari tatapan Arjuna. "Cuma buku ini yang sesuai dengan usiaku." 

Arjuna tertawa. Iya, iya, dia bilang. "Kamu unik, ya." 

Sore itu, bersama kukis dan teh hangat tawar pula setumpuk buku-buku, Yudistira terasa benar untuk berada di sana. Arjuna tidak sembarang membuka pintu untuk manusia baru. Kalau-kalau meminjam kata-kata Nakula, selalu ada alasan sekecil apa pun untuk menaruh curiga. 

Namun, Yudistira terasa lain.

Ada kedekatan yang entah dari mana asalnya. Kacamata baca yang hampir-hampir melorot dari hidung bangir Yudistira ketika laki-laki itu kebingungan menatapnya terasa begitu familiar. Arjuna kecil di dalam kepala bekerja keras mencari jawaban, tetapi yang ditemukan semuanya hanyalah jalan buntu. Arjuna menghampiri Yudistira yang duduk dengan buku terbuka di pangkuan. Sepasang mata yang begitu dikenalinya sejak pertama kali kepindahannya itu mengerjap-ngerjap, tetapi tak ada apa pun yang keluar dari bibir itu.

Beruntung tak ada kekikukan di antara keduanya. Rupa-rupanya, Yudistira tak sulit diajak berbicara. Laki-laki itu memang cukup pendiam, tetapi sepasang matanya selalu berbicara tentang banyak hal. Meski demikian, Arjuna masih belum menemukan jawaban mengapa lelaki itu selalu menatap dengan pandangan yang sama; yang sendu; yang luka; yang sepi; yang ... rindu?

"Ar .. juna?"

Wajah Yudistira sejengkal jemari jaraknya dari wajahnya sendiri. Seolah-olah semesta belum cukup memberinya kejutan, Arjuna bak tersambar petir begitu menyadari jari-jemarinya dengan sangat kurang ajar tengah membelai helai-helai rambut Yudistira yang hijau separuh. Jantungnya seolah jatuh ke sedasar perut ketika pandangan mereka bertemu.

Yudistira Yogendra memandang dengan kesenduan yang seumpama datang dari seluruh penjuru dunia. Rasa sesaknya menusuk-nusuk hingga sudut terdalam hatinya sendiri. Arjuna kecil di dalam kepala tewas tak mampu memikirkan solusi.

Cepat-cepat Arjuna menarik kembali tangan kurang ajarnya. Yudistira masih menatap dengan kesenduan yang sama. Arjuna mengutuk, merasa-rasai luka menganga yang terbentuk begitu saja di dalam hatinya. 

"Maaf." Sesuatu mengganjang di tenggorokan. Arjuna menelannya bersama luka yang perih perih perih, dadanya sesak ampun-ampunan. Ia telah menjadi manusia yang sangat amat kurang ajar. Ia hanyalah manusia yang sepayah-payahnya. Tidak seharusnya ia menyentuh Yudistira tanpa izin meski itu helai-helai rambutnya. Tidak seharusnya ia merasa sebegitunya berbangga hati hanya karena kelewat senang sebab keduanya bisa mengobrol dengan lebih leluasa. Tidak seharusnya Arjuna merasa boleh-boleh saja sedekat itu dengan laki-laki yang baru dikenalnya. 

Hatinya bolong mendapati Yudistira dan kesenduan yang seolah-olah telah sebesar ruang baca. Sesak, sesak, sakit, sakit, Arjuna ingin mengubur dirinya sendiri bersama semua keberengsekan yang bersarang di tubuhnya. "Maaf, Yudistira. Nggak seharusnya aku menyentuh tanpa izin."

Sepasang mata Yudistira yang seharusnya sehijau daun-daun segar tabebuya kini tampak meredup-redup. "Nggak ... Arjuna. Aku mengerti."

Aku yang kurang ajar, nggak seharusnya kamu mencoba mengerti tindakanku.

Arjuna ingin menundukkan kepala. Arjuna ini menyembah kaki Yudistira. Arjuna ingin memohon ampun. Arjuna ingin mengucap permintaan maaf meski meminta maaf pun kini terasa sangat kurang ajar sebab rasa-rasanya Arjuna telah meminta begitu banyak. Arjuna ingin melenyapkan dirinya sendiri.

Arjuna tidak ingin Yudistira membencinya, meninggalkannya karena ketololan yang dibuatnya sendiri. Sebab, entah mengapa, Arjuna merasa semestanya akan meruntuh jika Yudistira angkat kaki dari sana, Arjuna merasa dunia akan hancur jika Yudistira tak lagi menatap-natapi hingga tertinggal di kedua bahunya, Arjuna merasa hidupnya akan selesai jika Yudistira berhenti memanggil namanya. Arjuna merasa ia akan binasa jika Yudistira berhenti menyapa bahkan jika itu hanya pada bunga tidurnya.

"Arjuna, kamu masih dan akan selalu sama seperti Arjuna yang aku kenal sejak dulu."

.

.

Sebagai bentuk keprihatinan Sadewa, segelas es jeruk disiapkan di atas meja bersama beberapa makanan manis. Arjuna, dengan wajah memelas, memilih untuk protes mengapa ia tidak diberi alkohol. Sebagai kembaran Sadewa yang sering kompak dalam misi menjahilinya, Nakula menepuk pelan kepala Arjuna dengan lembar-lembar pekerjaan di tangannya. Bahkan, Nakula sempat-sempatnya membuat keadaan Arjuna semakin memprihatinkan dengan menyecar, berisik, betulkan dulu kepalamu itu.

Di Antara, bar yang didirikan Sadewa Sagara itu biasanya tidak membukakan pintu untuk sembarang orang di siang hari. Jam operasionalnya setelah malam tiba hingga dini hari, hampir-hampir pagi. Sadewa punya jadwal tidur di pagi hingga sore sebelum bersiap membuka barnya. Namun, kalau Arjuna sudah mengirim pesan panjang lebar malam sebelumnya untuk memberitahukan kedatangannya beserta aku malu banget, tolong, pengin pindah dunia, maka tak ada yang bisa dilakukan oleh Sadewa maupun Nakula untuk menghentikan kawan lama mereka itu.

Arjuna mengerang lagi. Ditatapinya lama gelas es jeruk yang berembun. "Menurutmu dia benci aku, nggak?"

Kalau-kalau ada julukan orang yang paling menikmati tiap kesengsaraannya, Nakula Nalendra pasti sudah mendapatkan juara pertama. Kawannya itu menarik kursi di samping Arjuna, duduk bersandar di meja sembari melemparkan tatapan paling menusuk yang pernah Arjuna terima. "Menurutmu orang yang tadi pagi masih lambai-lambai tangan ke kamu dan masih pesan supaya kamu hati-hati di jalan itu bisa dibilang benci, ya?"

Begitu Nakula menutup mulut, Arjuna dihadiahi tawa menggelegar. Itu Bima Bayusena, yang tawanya paling keras diikuti Sadewa. Kalau Bima yang hadir, sih, memang bukan Arjuna yang mengundang, tetapi pasti ulah si kembar itu. Agaknya semua orang ini suka sekali menyimak drama kehidupannya yang selalu punya cerita baru.

"Diam, deh, aku lagi pengin melankolis sedikit!" Arjuna menyambar seadanya. 

Memang betul, sih, Yudistira yang ditemuinya pagi ini di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda itu masih mengumbar senyum, masih melambaikan tangan, masih memberikan pesan agar ia hati-hati, tetapi Arjuna hanyalah manusia yang gampang kepikiran. Ada yang mengganjal di hati, takut Yudistira tak lagi mau menyapa lagi. Memang itulah mimpi buruk yang menghantuinya sepanjang malam meski pada pagi harinya semua ketakutannya tak terbukti.

Bima menepuk-nepuk punggung Arjuna. Nampaknya memberi simpati meski agak terlalu keras dirasa. "Menurutku sih dia nggak bakal benci kamu, Bang Juna." Lalu, telapak tangan besar itu mengguncang-guncang tubuhnya. "Kalau dari cerita Bang Juna sepertinya dia anaknya pengertian, kok!"

Arjuna hanya mencebik ketika Nakula menyambar, "tuh, Bima aja ngerti!"

Untungnya, Sadewa segera menepuk kepalanya, agaknya mencegah perkelahian sebelum barnya hancur tak bersisa. "Mungkin lain kali pelan-pelan saja, Juna."

Meskipun bar Sadewa siang itu ributnya ampun-ampunan karena Nakula dan Bima terus meledek, Arjuna tahu kawan-kawannya memang peduli padanya. Sadewa juga ikut-ikutan, tapi Arjuna memilih untuk tidak ambil pusing lagi. Kacamatanya ia letakkan di samping gelas jus jeruknya. Dipijatnya sepanjang tulang hidung. Arjuna menatap-natapi es yang mencair, membayang-bayangkan wajah Yudistira yang dilihatnya pagi tadi ke dalam ingatan. Senyum Yudistira pagi tadi masih sama hangatnya. Arjuna menggigit bibirnya sendiri.

Sore ketika Arjuna secara kurang ajar menyentuh rambut Yudistira tanpa izin itu, ada dingin yang membekukan seluruh tubuhnya. Ketika Yudistira mengaku bahwa ia tetap sama seperti yang dikenal lelaki itu, tanda tanya besar mengetuk-ngetuk isi kepala. Adakah sesuatu yang dilewatkannya? Namun, dengan bibir juga seluruh sendi yang mendadak kaku, Arjuna tak berhasil menanyakan apa maksudnya. Yudistira menghancurkan balok es besar di ruang baca itu dengan mengajak Arjuna menikmati kukis yang telah susah payah dibuatnya. 

Tidak ada topik obrolan yang mampir di kepala. Keduanya hanya menikmati kukis dalam diam bersama teh yang kehangatannya tak lagi bersisa. Keduanya duduk bersisian hingga matahari tenggelam. Arjuna mengantar Yudistira hingga pagar besi di pekarangan depan, tidak berani melangkah lebih jauh. 

Kapan-kapan, kamu boleh berkunjung ke rumahku juga, Arjuna. Itulah ucapan yang ditinggalkan Yudistira sebelum melintasi pekarangan yang tanahnya dibanjiri bebungaan tabebuya merah muda yang gugur dibawa angin. Arjuna mematung di depan pagar besi seperti orang bodoh bahkan hingga beberapa saat Yudistira lenyap di balik pintu.

Dia nggak membenciku. Arjuna membanting kepalanya sendiri ke atas meja. 

"Astaga, Dewa, sekarang dia sudah gila!" Itu suara Nakula.

Bersama pikiran yang masih mengawang-awang, Arjuna samar-samar merasakan tubuhnya dibetulkan untuk duduk di kursi. Ada tepukan-tepukan pelan di pipi, disusul dengan dia belum mati, kan?

Matahari matang di ujung barat. Langit oranye rendah, burung-burung bersahut-sahutan. Arjuna duduk di atas jok motornya. Ia berkali-kali mencoba meyakinkan rekan-rekannya bahwa ia sudah jauh lebih baik; tidak akan melamun ataupun menabrakkan diri ke truk yang parkir di tepi jalan. Lagi pula, Sadewa juga masih harus menyiapkan hanyak hal sebelum membuka Di Antara. Arjuna sudah menyita waktu istirahat Sadewa, ia sudah tidak punya alasan lain untuk terus-menerus berada di sana hari itu. Ketiga kawannya mengantar hingga pintu depan.

"Ingat pesan saya ya, Arjuna," ucap Sadewa dengan senyum tipisnya, "kamu cukup jadi dirimu sendiri. Dia nggak ke mana-mana."

Bar Di Antara berjarak dua jam dari kediaman Arjuna, cukup dekat dengan stasiun tempat ia datang dan pergi. Arjuna akan sampai di rumah sekitar pukul delapan malam. Yudistira mungkin sudah tidak berdiri di pekarangan, di bawah pohon tabebuya merah muda, tetapi Yudistira nggak ke mana-mana.

Malam itu, ketika Arjuna memarkirkan sepeda motor untuk membuka pagar rumahnya, tidak ada Yudistira di pekarangan, di bawah pohon tabebuya merah muda, tidak ada senyuman yang dinanti-nantikannya. 

Meski demikian, ketika Arjuna bersiap untuk tidur, ada tatapan mata yang seolah-olah berat di bahunya. Arjuna tidak mimpi buruk lagi.

.

.

Pada suatu hari, Arjuna pernah bermimpi.

Ia adalah lakon suatu cerita yang digadang-gadangkan sebagai salah satu cerita paling laris pada masanya. Arjuna berdiri di bawah sorot lampu yang terang benderangnya membuat semua orang menolehkan kepala padanya. Arjuna terlahir sebagai seorang tokoh utama.

Di tangan Arjuna, sebuah busur panah ia acungkan pada langit malam yang bertabur bintang. Arjuna menarik anak panahnya dengan hitungan yang begitu teliti. Sepasang matanya seolah mampu menembus lapis demi lapis langit, lalu anak panahnya meluncur begitu tinggi begitu jauh,

Arjuna memanah bulan.

Arjuna tidak pernah mencicipi kegagalan setiap kali diangkatnya busur panah miliknya. Ia telah mengenali busur panahnya dengan seluruh darahnya. Memanah sama mudahnya dengan bernapas. Bulan yang tergantung di langit kini tertembus anak panah milik Arjuna. Pada bulan yang telah ditancapkannya anak panah miliknya itu, Arjuna menggantungkan harap bahwa lelakinya mampu mengendus kasihnya tiap mendongakkan kepala.

Tetapi, Arjuna pikir, bulan saja tidak akan pernah cukup. Arjuna ingin memanah setiap isi angkasa. Arjuna ingin memanah seluruh isi lautan. Arjuna ingin mempersembahkan kesemua-semuanya hanya untuk lelakinya seorang.

Arjuna akan mengangkat busur panah, lalu akan diincarnya benda angkasa yang paling bagus paling indah paling cantik sebab lelakinya adalah yang paling bagus paling indah paling cantik di sepenjuru semesta. Arjuna ingin meletakkan bunga pula semua isi angkasa di pangkuan lelakinya yang sama ayunya dengan bintang-bintang yang berserakan di antara kedua kaki mereka. Arjuna ingin mempersembahkan semesta di kedua tangan lelakinya agar ia tahu betapa Arjuna memuja.

Arjuna ingin menjadi satu-satunya. Arjuna akan melindungi kasihnya dari dunia yang hanya punya kekejaman. Arjuna akan mengangkat busur panahnya tinggi-tinggi, lalu akan ia taklukkan hal-hal buruk agar tunduk di kaki lelakinya.

Lalu, hanya pada pangkuannya itu yang terkasih akan menyambutnya pada hal-hal baik semesta; hanya pada jari-jemarinya itu yang terkasih akan menggantungkan kewarasan; hanya pada kedua matanya itu yang terkasih menatap; hanya pada hatinya itu yang terkasih melabuhkan apa-apa yang disebut dengan asmara. Hanya pada terkasihnya yang ayu yang paling ayu dari yang ayu, Arjuna akan menyerahkan seluruh nyawa dan darah dan nadi dan semua-semua yang membentuk ulang tubuhnya.

Arjuna, pada suatu hari, kau adalah raja yang menguasai seisi alam semesta. Arjuna, pada suatu hari, engkaulah yang merajai terkasihmu yang ayu.

Arjuna, pada suatu hari, kau menghadiahkan semesta pada satu-satunya kekasihmu yang kaucinta sebesar-besarnya isi dunia.

.

.

Ketika berkunjung ke rumah Yudistira malam itu, Arjuna mengendus aroma kesenduan yang pekatnya seolah-olah membutakan pandangan untuk sekejap.

Arjuna mengerjap-ngerjapkan matanya, mendapati Yudistira menatap ke arahnya, berdiam diri menunggu dengan sabar. Ada senyum hangat yang seolah telah mengetahui segalanya. Arjuna tertegun. Senyum mengawang Yudistira membuat Arjuna kembali melangkahkan kaki. 

Yudistira menuntunnya melewati ruang tamu. Arjuna mengamat-amati, menemukan dua pintu tertutup yang mungkin salah satunya itu adalah kamar Yudistira. Di hadapannya, punggung Yudistira tampak begitu jauh. Arjuna mengamat-amati, merasakan sendu merambati kakinya.

Ada satu ruang kecil di samping dapur. Arjuna menyapu pandangan ke seluruh sudut ruang itu. Nakas dengan tiga laci berada di salah satu sudut ruang dihiasi vas berisi setangkai mawar merah. Jendela tunggal dengan kaca rendah menampilkan pekarangan depan, Arjuna mampu melihat pohon-pohon tabebuya merah muda dari sana. Arjuna menarik satu kursi untuk dirinya sendiri. Yudistira duduk di seberang. Keduanya dipisahkan meja bulat kecil. Dua cangkir teh disandingkan bersama brownies yang merknya biasa Arjuna lihat di ujung jalan. 

"Aku suka di sini." Yudistira tiba-tiba angkat suara. "Kalau sedang hujan atau terlalu dingin, aku bisa melihat pohon itu dengan jelas dari sini."

Pekarangan depan rumah Yudistira hanya dihiasi penerangan dari dua lampu tinggi yang kekuning-kuningan. Di bawah langit gelap dan bulan pula bintang-bintang yang bergelantungan, pohon-pohon tabebuya merah muda mampu dipandanginya tanpa kesulitan. 

Arjuna menggulirkan pandangan kembali pada Yudistira. "Kamu suka sekali dengan bunga itu, ya?"

Setiap kali Arjuna keluar atau sekadar diam-diam mengintip dari tirai jendela kamarnya, Yudistira selalu berada di pekarangan, di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda yang bunganya berguguran. Arjuna sepertinya hampir-hampir tidak pernah melihat Yudistira melakukan kegiatan lain. Barangkali Arjuna tidak seharusnya merasa memiliki hak untuk tahu jawabannya, tetapi, rasa penasaran itu terlalu besar. Lama-kelamaan Arjuna kesulitan membendung keingintahuan yang telah meluap-luap itu.

Yudistira tertawa tipis, ia hampir-hampir tak mampu mendengarnya. Ketika Arjuna berusaha mempertajam telinganya, yang mampir hanya suara jangkrik di kejauhan.  

"Aku suka bunga itu." Yudistira mengaku dengan gampang. Hanya dari suaranya saja ia tahu laki-laki itu tidak berbohong. Aroma manis brownies memenuhi penciumannya ketika Yudistira kembali menyambung dengan, "rasanya seperti pulang. Aku tahu kalau aku kangen, aku cukup melihatnya saja."

Kerinduan pada apa? Arjuna tidak berani menanyakannya. Barangkali kerinduan pada manusia? Kemungkinan itu membuat Arjuna merasa gelisah. Konsep Yudistira merindukan seseorang membuat Arjuna kecil di dalam kepala ingin mengakhiri hidup. Meski demikian, ketika pandangan mereka bertemu, Arjuna menemukan kerinduan itu berenang-renang di sepasang mata Yudistira yang seolah layu, redup di bawah lampu. Arjuna menelan lara yang asing, tetapi seolah begitu dikenalinya, jauh-jauh ke sedasar perut sendiri.

"Kalau sudah gugur semua nanti," ucap Arjuna sembari memberi jeda. Ada luka yang mulai menganga di dada. Arjuna mereguknya, mengamat-amati Yudistira yang seumpama sama layunya, "kamu pulang ke mana, Tira?"

Di dalam kehidupan Arjuna yang hanya tahu memecahkan persoalan kehidupan; kadang-kadang ia cukup kesulitan mengerti isi kepalanya sendiri yang bersepaian. Arjuna kecil di dalam kepala, pada akhirnya, menyerah satu demi satu, lalu ia akan terseok-seok hanya untuk oh, aku mungkin sedang terluka.

Menjadi agen rahasia sama sulitnya dengan menutup mata ketika dihantui mimpi buruk tak berkesudahan. Arjuna menghabiskan banyak sekali peperangan dengan isi kepalanya sendiri, dengan Arjuna kecil yang susah payah di pikirannya, lalu Arjuna hanya akan menelan semuanya bersama kesendirian; aku yang memilih jalan hidupku sendiri. Arjuna telah melewati keporak-porandaan kehidupannya hanya untuk bisa memahami dadanya yang bolong; aku ingin berhenti.

Sepanjang ingatan Arjuna hingga hari ini ia masih bernapas, ia tak ingat ingin mengenal manusia dengan begitu kasual. Buku sejarah miliknya masih kosong melompong, tak pernah ia isi dengan hal-hal yang terlalu dekat dengan hati. Arjuna mahfum hidupnya datang bersama mala petaka. Bahaya datang sedekat nadi, mengikuti bayangannya tiap kali ia mengambil langkah.

"Maaf," ucap Arjuna. Perih merambati bolong di dadanya. "Aku nggak seharusnya memanggil kamu sedekat itu," aku takut kamu tidak ingin sedekat itu denganku.

Sepasang mata Yudistira yang redup di bawah sinar lampu tak cukup pintar membohongi dirinya sendiri. Arjuna yang tadi hanya berenang-renang pada kesenduannya, kini ia tenggelam bersama keduka-dukaan yang asing, tetapi membuatnya hampir-hampir tewas sebab tak bisa bernapas.

Arjuna mengerjapkan mata. Di hadapannya adalah Yudistira Yogendra yang parasnya ayu dengan segala kesenduan itu. 

Ada aroma manis brownies yang dipotong rapi di atas piring, suara jangkrik samar di kejauhan, kerinduan yang pekat di lidah, pula sesuatu yang magis menyusup lewat celah bolong di dadanya.

Jari-jemari Yudistira yang dingin beku menyentuhkan diri dengan penuh kehati-hatian pada punggung tangan Arjuna yang kebingungan. "Kamu boleh memanggilku dengan apa pun, Juna."

Isi kepala Arjuna kosong melompong. Yudistira menatapnya lama sekali seolah-olah ingin memerangkap Arjuna selamanya di sana.

Arjuna ingat sepasang mata yang mengawasi dari balik pagar besi. Arjuna ingat seorang laki-laki yang selalu berdiri di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda. Arjuna ingat senyum mengawang yang selalu menyisakan tanda tanya. Arjuna ingat aroma-aroma kesenduan yang membuat kedua matanya buta sesaat. Arjuna ingat wajah buram yang datang dan pergi di episode-episode mimpi panjangnya.

"Terima kasih karena sudah pulang sekali lagi, Juna."


Bagi Yudistira, ia sudah lama mati.

Apa-apa yang dilaluinya setiap pagi hanyalah rutinitas yang sama: jiwanya masih sangat hidup, semesta tak membiarkannya mampus begitu saja. 

Yudistira tak tahu sejak kapan ia mati rasa. Hari-hari yang dilaluinya seakan seperti itulah rasanya neraka.

Pada suatu hari di bulan Agustus, rumah seberang yang bertahun-tahun tidak pernah berpenghuni mendadak hidup lagi. Setiap pagi sekelompok orang datang memperbaiki setiap sudut rumah itu. Yudistira, dari bawah pohon tabebuya merah muda, mengamat-amati bagaimana orang-orang itu mengecat ulang dengan warna hitam dan merah, mengganti atap yang rusak, menambal dinding yang bolong, memotong rumput juga tanaman liar, pula merawat pohon bunga sepatu. Yudistira menanti hari demi hari, mengamat-amati perubahan rumah itu. Akan ada penghuni baru.

Yudistira selalu menghabiskan banyak waktu di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda yang memenuhi pekarangan depan rumahnya. Ia bisa berdiri di sana selama hampir-hampir sehari penuh dengan isi kepala berkelana jauh. Ia akan memandang-mandangi mahkota bunga tabebuya yang gugur perlahan diterbangkan angin. 

Kadang-kadang, Yudistira ingin pergi ke tempat yang jauh, jauuuuh sebab ia tak ingin terjebak di kehidupannya yang abu-abu pias, yang hitam jelaga, yang hilang warnanya. Yudistira ingin mati--

Sore ketika matahari hampir-hampir tenggelam sepenuhnya, seorang laki-laki turun dari sebuah mobil yang terparkir di depan pagar rumah seberang. Ada dua koper besar dan satu tas yang dicangklongkan di punggung. Bunga-bunga tabebuya merah mudah berguguran. Yudistira tahu hatinya sudah lama sekali bolong besar hingga semesta dan seisinya dapat ditampungnya di sana. Namun, pada bolong hatinya yang menyedihkan, Yudistira merasa sesuatu seumpama hidup kembali di sana.

Laki-laki itu berpakaian hitam dan merah, senada dengan cat baru rumah itu. Rambutnya dipangkas pendek. 

Ketika tatapan keduanya bertemu, Yudistira tahu hidupnya baru saja dimulai kembali. Semestanya yang abu-abu pias, yang hitam jelaga, yang hilang warnanya itu meruntuhkan diri. Dunia sejenak berhenti sebelum kemudian berputar kembali. Yudistira mafhum seperti inilah semesta selalu mengolok-olok kehidupannya yang hanya ada kesengsaraan.

--mati?

Yudistira menawarkan senyum, meski susah payah ia membentuknya sebab rasanya sudah bertahun-tahun ia tak pernah mencoba berbaur dengan orang lain.

Yudistira terus menatap bahkan hingga laki-laki itu menghilang di balik pintu sebab ia begitu menanti-nantikan hari ini; sebab ia tidak mati untuk menyambut hari ini; sebab ia tahu ke mana takdir menuntunnya; 

sebab Yudistira tahu bahwa akan selalu ada Arjuna untuk dikasihi.

.

.

"Kamu betulan nggak mau ikut?"

Hari masih terik. Belum ada pukul tiga siang. Yudistira masih bersembunyi di bawah bayang-bayang pohon tabebuya merah muda di pekarangan. Bulan itu matahari memang selalu terik. Yudistira tidak begitu cocok dengan cuaca yang cerah dan udara yang kering. 

Arjuna berdiri di luar pagar besi. Ada topi hitam yang bertengger di kepala. Laki-laki itu memang selalu punya banyak sekali energi untuk terus-menerus berkegiatan. Yudistira ingat Arjuna hampir selalu pergi dengan sepeda motor di siang yang panasnya ampun-ampunan.

"Panas," jawabnya pendek.

Arjuna menatapnya lama sekali seolah-olah menimbang-nimbang perlukah untuk membujuknya yang telah menutup celah itu. Meski demikian, kalau-kalau ia boleh jujur, Yudistira cukup penasaran apakah laki-laki itu akan berusaha lebih keras lagi.

"Benar, sih." Tatapan Arjuna melarikan diri. Sebelah tangan tampak menggaruk tengkuk sendiri. "Tapi aku pikir barangkali kamu bosan. Biasanya banyak orang kok, jadi nggak sepi."

Danau yang letaknya di ujung jalan setapak dari rumah mereka itu memang biasa menjadi tempat main anak-anak. Kalau sudah hampir petang, biasanya masih ada yang menikmati hari sembari berlari-lari ringan. Kadang-kadang ada yang memancing juga. Yudistira tahu danau itu tak pernah terlalu sepi untuk mereka yang butuh teman.

Yudistira menelan senyumnya sendiri. "Aku nggak suka keramaian."

Meski belum genap satu bulan sejak kepindahan Arjuna, laki-laki itu terlampau gampang untuk ditebak. Membaca laki-laki itu seperti disodorkan sebuah buku yang terbuka lebar-lebar. Yudistira tinggal membacanya saja, lalu Arjuna akan membeberkannya dengan begitu gamblang tanpa disadari.

Atau barangkali, seperti itulah Arjuna dalam pandangannya.

Arjuna mengangguk-angguk. Yudistira mengenali wajah Arjuna yang seolah-olah baru saja menyadari sesuatu. 

Pada perjalanan panjang kehidupannya, Yudistira memasukkan kesendirian pada halaman depan kamus kehidupannya bersama sahabat-sahabat lain yang sama nelangsanya. Kamu nggak pernah merasa kesepian? Yudistira ingat pertanyaan Arjuna hari itu. Barangkali laki-laki itu memikirkannya terlalu banyak. Barangkali laki-laki itu mengkhawatirkannya lebih dari yang diduga. Barangkali laki-laki itu mengasihaninya beserta seluruh hidupnya yang menyedihkan.

Lama sekali Yudistira telah menuliskan kesepian pada halaman depan kamus hidupnya pula. Meski demikian, meski hidupnya diliputi kesengsaraan, Yudistira menelan semua kemalangan-kemalangan hingga tak mampu membedakan satu dengan yang lain lagi.

Apakah ia kesepian? Kalau-kalau memang ia kesepian, mengapa dadanya bolong seperti memang seperti itulah seharusnya hati miliknya sendiri. Kalau-kalau memang ia kesepian, sebetul-betulnya kesepian itu seperti apa, ya?

Pada hitam mata Arjuna yang menatap penuh keingintahuan pula kebimbangan, Yudistira mencopot satu demi satu kerak di hati bolongnya itu. 

"Aku nggak apa-apa." Yudistira tak bisa merasa-rasai lagi seperti apa rasanya nggak apa-apa di lidahnya, lelebih di hatinya. Ia muntah begitu saja dari bibirnya, tetapi lidahnya kaku seolah-olah berperang dengan isi kepalanya yang lama tidak berfungsi. 

Apanya yang nggak apa-apa?

Yudistira punya satu hal yang selalu ia percayai sejak dahulu bahwa ia sudah lama mati; otaknya tidak berfungsi; hatinya tidak bisa mengerti; lidahnya tidak bisa merasa-rasai; aku mungkin setan sebab setan tidak hidup.

"Aku juga nggak apa-apa." Arjuna mengucap tiba-tiba. Ada keberanian yang muncul di permukaan hitam mata laki-laki itu. "Aku boleh temani kamu? Di situ saja."

Yudistira mungkin terlalu banyak mengunyah hal-hal yang menyedihkan. Hatinya yang bolong-bolong meluberkan jelaga-jelaga. Yudistira melihat kesengsaraan di sebalik pelupuk mata. Yudistira menangkap nelangsa di sepuluh jari-jemari tangannya. 

Arjuna membuka pagar besi. Langkah kakinya mantap mendekatinya. Yudistira kesulitan menamai bising suara yang berdengung-dengung bagai sepasukan tawon di kuping. 

Mungkin Yudistira sudah mati. Mungkin Yudistira cuma setan. Mungkin Yudistira cuma sedikit tidak waras. Mungkin Yudistira hanya sedikit kesepian. 

Namun, ketika Arjuna mendekatinya, berhenti sebelum keduanya bersenggolan bahu, Yudistira selalu tahu bahwa ia masih sangat hidup.

.

.

"Memangnya nggak bosan kalau kamu di rumah terus?"

Hari itu, Yudistira diundang datang ke rumah Arjuna lagi. Agaknya kesehariannya yang hanya melamun di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda telah bergeser menjadi kunjungan yang cukup rutin ke rumah Arjuna. Seperti biasa, laki-laki itu menghampiri di luar pagar besi. Yudistira pernah bilang ia hanya akan berkunjung jika sore atau malam saja. Arjuna menurut dengan kepatuhan yang entah dari mana datangnya. 

Hampir-hampir pukul enam sore ketika Yudistira mengekori Arjuna. Ruang baca milik laki-laki itu lama-kelamaan dapat dikenalinya dengan mudah. Yudistira perlahan-lahan tahu rak mana yang isinya buku-buku kesukaan Arjuna. 

"Nggak juga." Arjuna membuka kardus besar. Ketika Yudistira mengintip, isinya buku-buku lagi. "Aku nggak punya kerjaan kok," jawab laki-laki itu sambil meringis seolah-olah baru menyadari kesalahannya membanggakan status penganggurannya kali ini.

Yudistira tertawa pelan. "Menikmati apa yang dimiliki," ucapnya meniru kata-kata Arjuna sendiri beberapa hari lalu.

Saat itu, Arjuna memang mengaku sudah berhenti dari pekerjaan lamanya. Yudistira tidak bertanya detailnya, tetapi Arjuna bilang laki-laki itu memang membutuhkan waktu untuk lebih perhatian pada dirinya sendiri. Aku baru sadar ternyata aku butuh istirahat, begitu Arjuna mengaku. Kalau memang sudah selesai, aku pasti kerja lagi. Yudistira masih tidak punya keberanian untuk bertanya lebih jauh. Ada ketakutan akan jawaban yang ia sendiri tak tahu mana yang ingin didengarnya.

Sebelum keduanya memiliki agenda saling berkunjung yang sepadat ini, meski lebih banyak waktu dihabiskan di rumah Arjuna, kadang-kadang Arjuna pergi dengan motornya di pagi hari dan kembali ketika matahari hampir-hampir tenggelam. Yudistira bertanya-tanya apakah tak ada yang ditinggalkan ketika Arjuna memilih untuk jarang sekali pergi.

Tawa renyah Arjuna menarik perhatiannya. Laki-laki itu hanya mengangkat bahu dan mengucap ringan. "Aku pergi cuma mau ketemu sama teman lama, kok."

Lalu, Arjuna menceritakan teman-temannya. Laki-laki itu bilang mereka adalah teman-teman yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun lalu. Kalaupun bertemu, apa-apa yang mereka bahas hanya seputar kegiatan sehari-hari dan apa yang sudah dilewati, diskusi singkat soal pekerjaan masing-masing, dan sedikit mengenang hal-hal lucu yang terjadi selama pertemanan mereka. Arjuna menggaruk kepala. "Bukan obrolan penting, kok," katanya. "Tapi Sadewa jago masak, kamu pasti bakal suka sama masakannya. Kamu pasti nyambung sama Nakula, deh. Kalau Bima ya," ucap Arjuna sembari menggumam selama beberapa saat, "ah, dia juga senang cerita, kalian bisa ngobrol banyak kalau ketemu."

Senyum terbit di wajah Arjuna. Hanya dengan melihatnya saja Yudistira tahu banyak sekali hal yang telah dilalui laki-laki itu bersama kawan-kawannya. Ada ikatan pertemanan yang kuat. Yudistira menatap kaki telanjangnya di atas karpet beledu. Banyak sekali hal yang terjadi. Banyak sekali hal yang ia lewatkan.

Yudistira mendadak menyadari bahwa barangkali ia berbesar kepala ketika berpikir telah mengetahui banyak sekali hal soal Arjuna.

"Teman-teman kamu orang baik." Yudistira tersenyum. 

Mendengar itu, Arjuna tertawa lepas. "Nanti kukenalkan kamu sama mereka, ya."

Kamu juga orang yang baik.

Yudistira tidak mengatakan apa pun, tetapi laki-laki itu sepertinya telah menyusun jadwal di dalam kepala. Yudistira menggosok-gosokkan kakinya di atas karpet beledu. 

Arjuna kembali mengaduk-aduk kardus berisi buku. Laki-laki itu membaca-baca judulnya, lalu memilahnya menjadi beberapa tumpukan. Yudistira tidak berani membantu, sepenuhnya tidak mengerti Arjuna mengelompokkan buku itu berdasarkan apa. Jadi, ia hanya menekuk lutut, mengamat-amati tumpukan buku-buku, lalu pada wajah Arjuna yang dahinya terlipat tiga, juga pada kacamata yang melorot di hidung bangirnya. Jari-jemari Yudistira berlarian di atas lutut sendiri. 

"Kamu membaca semua jenis buku?"

Pertanyaan itu muncul ketika Yudistira menangkap buku dengan judul seputar kesehatan mental, kemudian membaca judul buku serumpun puisi di tumpukan lain, pula menemukan judul buku tentang strategi perang di tumpukan lainnya lagi. Yudistira bergidik, tidak berani mengintip tumpukan buku yang lain. Meski beberapa kali mengunjungi ruang baca milik Arjuna, ia selalu memusatkan perhatian pada pojok rak paling kanan sejak tahu buku-buku dongeng ditempatkan di sana.

"Aku suka belajar, Tira."

Hari itu Arjuna mengenakan kemeja sewarna merah bata yang lengannya digulung sebatas siku. Satu kancing paling atas dibiarkan terbuka. Sepanjang hari di musim kemarau memang masih panas-panasnya.

Untuk beberapa saat dunia seolah berhenti berputar. Senyum hangat Arjuna masih di sana. Ada sesuatu yang menyentuh begitu jauh di dalam dirinya. Yudistira menunggu, tetapi Arjuna tetap menatapnya dengan keteduhan yang sama. Arjuna tidak meminta maaf ataupun mengoreksi ucapannya sendiri.

Tatapan Yudistira beralih pada lengan sweternya yang hampir-hampir menenggelamkan seluruh jari-jemari. Dipandanginya benang-benang sweter yang nampak lebih menarik. Beberapa malam lalu, Yudistira mempersilakan Arjuna untuk memanggilnya dengan nama apa pun. Yudistira sendiri yang membukakan pintu bagi Arjuna untuk memanggilnya dengan Tira. Kali ini, Arjuna benar-benar melakukannya. Arjuna tidak silap, Arjuna sengaja. 

Di hadapannya, Arjuna menunggu.

Tira. Panggilan itu seolah datang dari tempat yang sangat jauh. Dada bolong Yudistira seumpama disumpal paksa. Sesuatu mengganjal di sana. Di sebalik kelopak mata, Yudistira melihat bunga-bunga tabebuya merah muda yang berguguran. Yudistira melihat Arjuna.

Yudistira melihat dirinya sendiri.

Jari-jemari Yudistira menggenggam udara sebelum kembali relaks di atas tempurung lututnya sendiri. Ia bertemu tatap dengan Arjuna dan kehangatannya yang membuat sepasang mata Yudistira seolah dilalap api. 

Yudistira meluruskan lengan, memainkan jari-jemari di udara, menggapai-gapai kekosongan. Kepalanya rebah di lengan kanannya. "Aku tahu," jawabnya lama kemudian.

Arjuna meletakkan buku yang dipegang ke salah satu tumpukan. Yudistira menangkap Shakespeare selintas dari sampulnya. Lalu, laki-laki itu beringsut lebih dekat.

Sepanjang ia hidup, Yudistira telah mempelajari begitu banyak apa itu kesendirian dan kesengsaraan. Jika ia menulis buku tentang kehidupannya yang menyedihkan, seluruh serinya mungkin tak akan mampu kau selesaikan hingga seluruh rambutmu menyisa putih. Namun, kau mungkin dapat membaca secuil kebahagiaannya ketika usiamu jauh di atas tiga puluh.

Ingatan-ingatan di kepala Yudistira datang silih berganti, berkelebatan bagai mimpi yang tak berkesudahan. Semesta tertawa ketika jari-jemari Arjuna menemukan rumah pada sela-sela jari-jemari Yudistira yang lama tak berpenghuni.

Sepanjang kehidupan Yudistira, ia tak pernah sebegini terkejutnya. 

Arjuna mengeratkan genggaman. Jari-jemari melekapkan diri. Yudistira mencari-cari, tetapi pandangan Arjuna sehangat-hangatnya matahari pagi.

"Aku juga mau belajar soal Tira," katanya seolah-olah keberantakan yang terjadi di dalam kepala Yudistira tak terjadi pada Arjuna. "Boleh?"

.

.

Malam itu, Yudistira membantu Arjuna merapikan tumpukan buku-buku ke raknya. Termasuk setumpuk buku yang belum sempat dirapikan sebelumnya.

Sembari menata buku, Arjuna banyak bercerita soal Aya Aulya, adik perempuan satu-satunya. Arjuna mengaku adiknyalah alasan laki-laki itu memutuskan untuk belajar memasak. Aku harus memastikan Aya makan makanan yang sehat. Meskipun Yudistira tinggal seorang diri, tetapi kurang lebih ia mengerti bagaimana perasaan Arjuna.

"Aku lebih percaya masakanku sendiri ketimbang asal membeli," tambah Arjuna sembari tertawa ringan.

Yudistira tersenyum mendengarnya.

"Kapan-kapan aku ajak Aya ke sini," ucap Arjuna masih dengan nada riang yang sama, "biar bisa ketemu dengan kamu, Tira."

Yudistira yang tengah mengambil buku di tumpukan sontak tertawa kecil. Kalau-kalau Arjuna mengenal semua orang di dunia, agaknya ia akan diperkenalkan dengan mereka semua. Mengingat bagaimana sifat Arjuna, ia yakin betul laki-laki itu akan melakukannya.

"Banyak sekali yang mau dikenalkan ke aku, Juna."

"Aku mau mereka kenal kamu, Tira." Suara Arjuna terdengar lebih serius dari yang biasa didengarnya. "Aku mau mereka bertemu dengan orang yang penting buatku."

Buku di tangan Yudistira mendadak terasa begitu berat. Hanya ada satu buku di tangan, tetapi rasa-rasanya ada setumpuk tinggi buku yang harus ditumpunya. Yudistira mencari-cari pada sepasang mata Arjuna yang rupa-rupanya menatap lurus-lurus padanya. Yang dapat ditemukannya hanya sesuatu yang hangat dan berat. Yudistira mati-matian menelan ludahnya sendiri. Dadanya yang seharusnya sebolong semesta mendadak sama beratnya.

Yudistira melesakkan asal buku di tangannya pada celah antarbuku yang ditemukannya. Dirapatkannya bibir sendiri. Jari-jemarinya mengepal, menenggelamkan diri pada lengan sweternya. Yudistira bahkan bisa merasakan dingin telapak tangannya sendiri yang menjalar hingga seluruh tubuhnya.

Tanpa membalik tubuh pun, ia tahu betul Arjuna berjalan mendekatinya. Langkah kaki Arjuna berhenti sejengkal jaraknya dari Yudistira. Bahkan, meski kedua bahu tak bersentuhan, ia seolah-olah mampu merasakan sentuhan mengawang pada tubuhnya.

Arjuna mengucap penuh kehati-hatian. "Maaf, apa aku menyinggung perasaanmu?"

Pada ingatannya yang telah tertimbun begitu tinggi, Yudistira menemukan perasaan yang familiar. Ia mengenali perasaan itu jauh lebih baik dari yang diterkanya.

Yudistira menelan resah sejauh-jauhnya. Ia lesakkan pada bolong hatinya. "Nggak, Juna." Ia memberanikan diri untuk menatap pada sepasang mata yang tampak begitu khawatir. Ada risau yang melapisi permukaannya. "Aku cuma kaget."

Melihat Arjuna yang nampak masih sama khawatirnya, Yudistira menyentuhkan pucuk jari-jemari pada lengan Arjuna dengan begitu perlahan-lahan. "Aku mau ketemu mereka," lanjut Yudistira, "orang-orang yang penting juga buat kamu."

Sebab pada sepanjang kehidupan Yudistira, ia harus selalu siap pada apa pun. Ini bukan hal baru. Ini bukan kali pertama. Yudistira menggigit pipi dalamnya sendiri. Pada senyum hangat Arjuna yang hampir-hampir seperti pulang, Yudistira ingin berkata bahwa ia telah begitu lama menunggu.

.

.

Namanya Arjuna.

Pada sepanjang kehidupan Yudistira, ia mengenal Arjuna yang seorang raja; yang putra mahkota kerajaan; yang prajurit kebanggaan; yang bangsawan terpandang; yang manusia terpelajar; yang manusia semanusianya manusia. Yudistira selalu mengenal semua versi Arjuna yang begitu dikasihinya. Yudistira mencintai semua Arjuna yang hidup yang sama mencintainya. 

Lalu, pada suatu hari ketika Yudistira bertanya-tanya apakah hidupnya akan terus-menerus menderita bersama penantian yang menggerogoti hati, semesta mempertemukannya pada Arjuna Arkana.

Kelopak-kelopak bunga tabebuya merah muda berguguran membawa pesan. Hari itu, Yudistira mengenal satu lagi Arjuna yang begitu dikasihinya.

Semesta menyimpan rahasia hidupnya yang panjang. Yudistira meraba-raba hatinya yang bolong. Selalu ada ruang yang cukup untuk menyimpan satu lagi nama Arjuna di dalam sana. Sebab itulah alasan mengapa ia masih ada di dunia; sebab itulah alasan mengapa ia terlahir ke dunia.

Pada semesta dan seluruh isinya, Yudistira mengikat sumpah bahwa hanya ia satu-satunya yang mampu menampung segala kesengsaraan; bahwa hanya ia satu-satunya yang mampu bertahan di tengah gelombang kepedihan yang memporak-porandakan tubuhnya.

Yudistira memandang-mandangi kelopak-kelopak bunga tabebuya merah muda yang berguguran. Suatu hari pada ingatan yang tertimbun bersama luka, Yudistira menemukan Arjuna-nya yang sendu yang luka yang lara yang tetap mengulurkan tangan meski penuh duka. Ada pulang yang dijanjikan pada Yudistira.

Ketika Yudistira membuka mata, hanya bunga-bunga tabebuya merah muda yang menyapanya. Dadanya yang bolong sebesar semesta meneriakkan kesengsaraan. Yudistira meraba dada kirinya, tempat jantung seharusnya berada. Sudah berapa lama sejak kesengsaraan itu ditanam di sana, ia bertanya-tanya. Isi kepalanya mulai berkabut. Ingatan-ingatan bertumpuk-tumpuk tinggi bagai tangga yang bisa didaki hingga menuju bulan.

Arjuna sudah pulang. Aku sudah pulang.

Yudistira menatap pada rumah seberang yang redup lampunya. Yudistira tak menemukan sesiapa pun di sana. Hanya ada kekosongan. Arjuna pamit pergi seharian.

Kali ini, Yudistira sulit sekali mengakui kekalahannya pada semesta.

.

.

Di bulan September, bunga-bunga tabebuya merah muda tengah mekar-mekarnya. Pekarangan depan rumah Yudistira merah muda di langit, beterbangan dibawa angin lembut hari itu. Kelopak bunga yang berguguran sama manisnya berserakan di atas tanah. Ia membiarkannya di sana sebab Yudistira senang dikelilingi bunga-bunga yang dekat sekali dengan ingatan dan hatinya.

Sore itu masih sama dengan sore-sore yang lalu. Arjuna tiba-tiba datang di luar pagar besi, menyapa dengan senyumnya yang lebar hingga hampir-hampir menyentuh telinga. Yudistira balas menganggukkan kepala. Kali ini, hanya dengan bertukar pandang, lelaki itu masuk ke dalam pekarangan rumahnya. 

Arjuna datang dengan warna merahnya yang biasa. Kaus pendek merah dengan celana hitam. Arjuna tampak santai dan nyaman.

Keduanya kembali menghabiskan waktu di ruang kecil di samping dapur rumah Yudistira, tempat biasa Yudistira termenung-menung jika malam sudah datang. Ia mempersilakan Arjuna untuk mengambil peralatan makan untuk menata kue yang dibawa lelaki itu. Arjuna bilang ia sempat membelinya semalam dalam perjalanan pulang. Yudistira menatap-natapi sepotong cheesecake yang disandingkan di atas piring bagiannya. Rasa-rasanya setiap kali bertemu dengan Arjuna selalu ada teh hangat tawar dan makanan manis. Ah, bahkan kali ini lelaki itu pula yang menyeduhkan teh untuknya. 

"Bukannya aku yang tuan rumah di sini?"

Agak-agaknya ucapan barusan itu mengundang tawa Arjuna. "Aku mau melakukannya." Arjuna tersenyum hangat ketika Yudistira mengendus aroma teh herbal dari cangkirnya. "Kemarin kamu sudah kutinggal seharian."

Teh hangat yang disesapnya membasahi perih di hati yang masih juga belum kering sempurna. Yudistira merasa-rasai hangat cangkir teh dengan telapak tangannya sendiri. Betapa perhatiannya laki-laki di hadapannya itu. Yudistira ingin sekali menanggapi bahwa ia hanya ditinggal satu hari, tidak ada apa-apanya dengan tahun-tahun yang dilewatinya seorang diri. Satu hari hampir tidak ada artinya untuk usia kehidupannya yang panjang seolah tak ada ujungnya. Meski demikian, Yudistira memutuskan untuk menutup mulut rapat-rapat. Ia akan menerima kesungguh-sungguhan yang lelaki itu tawarkan padanya. 

Ketika Yudistira mengangkat pandangan dari cangkirnya sendiri, Arjuna menatap dengan kesenduan yang seolah jatuh begitu saja di permukaannya.

"Jadi," ucap Arjuna menjeda sembari menumpu kedua siku di atas meja, tatapannya penuh pada Yudistira seolah-olah kesenduan yang tadi muncul adalah kesilapan belaka, "apa yang dilakukan Tira selama aku pergi?"

Mau tidak mau, Yudistira jadi tertawa mendengarnya. Diletakkannya hati-hati cangkirnya ke atas meja. Ia juga ikut-ikut menyimpan lengan di atas meja, melipatnya dengan rapi seolah-olah ia adalah bocah sekolah dasar yang menunggu perintah guru. "Melamun?" Ia mengucap sembari memiringkan kepala seolah-olah tak merasa yakin dengan jawaban sendiri.

Ketika Arjuna tertawa, sepasang matanya hilang menjadi garis yang lucu di sebalik kacamata. Ia tidak tahu apakah jawabannya tadi memang lucu, tetapi Yudistira memilih untuk menikmati renyah tawa Arjuna yang menyenangkan di telinga.

Lalu, Arjuna bercerita alasan ia memilih rumah barunya itu karena ingin menikmati suasana baru. Pekerjaannya yang lalu menyita banyak waktu dan cukup berdampak pada kesehatannya. Pada bagian itu, Yudistira menyela dengan hati-hati, "pekerjaan kemarin berbahaya?" yang praktis dijawab Arjuna dengan senyuman kecil. "Lumayan." Arjuna mengaku. 

Yudistira termenung lama sekali ketika laki-laki itu balik bertanya apakah ia sudah lama tinggal di sana. Ia mengaduk-aduk ingatannya sendiri. Yudistira tahu ia sudah lama sekali tinggal di rumahnya ini, tetapi ia tak berani menyebutkan sejak kapan tepatnya. Bukan sepuluh tahun lalu, bukan juga dua puluh. Yudistira merasa sesuatu naik ke tenggorokan. Ia mual. Kepalanya yang tak pernah berhenti bekerja merasakan gelombang-gelombang yang memuakkan. Di sebalik kelopak mata, Yudistira melihat potongan-potongan hidupnya seolah-olah ia akan mati saat itu juga. Ia melihat bunga-bunga tabebuya merah muda, ia melihat seorang laki-laki, ia melihat pesta dansa, ia melihat medan perang, ia melihat ruang kerajaan, ia melihat perpustakaan, ia melihat taman bunga, ia melihat Arjuna ....

Jari-jemari Yudistira terpeleset, hampir-hampir menggulingkan cangkir beserta isinya. Beruntung ia segera kembali ke kesadarannya. Terkesiap ia begitu membuka kedua mata. Arjuna menatap penuh kekhawatiran, juga sesuatu seperti kesenduan yang dalam.

Yudistira melihat Arjuna di sepanjang kenangan kehidupannya.

Jari-jemari Yudistira menggaruk punggung tangannya sendiri. Ia lalu melepaskan semua-semua yang bergelantungan bersama sakit di pucuk-pucuk jemari. 

"Sudah lama sekali." Yudistira menggigit pipi dalamnya sendiri; kuat-kuat, keras-keras sampai-sampai pipi dalamnya robek, tetapi ia tidak terluka. Yudistira menyumpahserapahi pada suaranya yang bergetar tanpa tahu malu. "Aku sudah lupa."

Malam datang dengan begitu lambat. Yudistira melongok pada cangkir tehnya yang tak memiliki rasa; pada bayangnya yang terpantul begitu samar-samar. Ada aroma herbal, juga manis cheesecake yang hampir-hampir hilang dibawa angin. 

Meski tanpa melongok pada Arjuna pun, Yudistira tahu laki-laki itu menatapnya penuh. Arjuna tak mengatakan apa pun, tetapi Yudistira seolah mendengar suara berdengung-dengung bagai sekumpulan tawon di sekelilingnya. Arjuna hanya menatap dengan kesenduan, tetapi kesenduan punya suara dan aroma. Ada suara yang begitu keras di dalam kepala Arjuna. Ada kesenduan yang pekat berusaha bersembunyi di balik aroma teh herbal.

Yudistira merasakan semuanya lewat dadanya yang bolong sebesar semesta. 

Lalu, Arjuna memanggilnya dengan begitu pelan, lambat, seolah-olah ketidakpastian itu datang dari tempat yang begitu jauh. Yudistira bertemu pandang dengan Arjuna di tengah-tengah kerapuhan.

"Sudah berapa lama kamu hidup, Tira?"

Sesungguh-sungguhnya, Yudistira sudah hidup dan mati lama sekali, sejak dulu, duluuuuu. Yudistira bahkan hampir-hampir tak bisa merasakan apa pun lagi dengan lidahnya. Ia tak lagi tahu seperti apa rasa teh. Atau seberapa manis cheesecake yang dibawa Arjuna malam itu. Atau senikmat apa kukis buatan Arjuna yang selalu disukainya itu. Yudistira sudah lama sekali mati rasa. 

Maka, Yudistira yang mati rasa hilang arah penuh duka itu menatap Arjuna dengan satu-satunya rasa sakit yang masih dikenalinya dengan baik bahkan setelah ratusan tahun lamanya mengendap di dadanya yang bolong menjawab dengan kelara-laraan yang berat di lidah, "kamu sudah tahu semuanya, ya, Juna?"


Aku sudah dapat info.

Itu adalah kali pertama Arjuna menyetir ugal-ugalan semenjak pensiun sebagai agen rahasia. Setelah menyapa Yudistira yang melamun di bawah pohon-pohon tabebuya merah muda, Arjuna berpamitan akan pergi seharian. Kalau-kalau bukan karena pesan yang dikirimkan Nakula, ia pasti lebih memilih untuk berputar balik saja. Wajah sendu Yudistira membuat Arjuna berat hati melambaikan tangan, setengah tidak rela meninggalkan laki-laki itu.

Di Antara selalu menjadi tujuan Arjuna tiap kali ia hampir-hampir hilang akal atau sekadar menjadi Arjuna yang hanya semanusianya manusia. Sadewa Sagara adalah rekan kerja lamanya. Setelah keluar dari agensi rahasia, Sadewa hanya meninggalkan pesan bahwa laki-laki itu akan kembali lagi di tempat yang lebih jauh. Arjuna sendiri pun selalu berkeinginan untuk pindah, untuk pergi pula ke tempat yang jauh. Barangkali ia memang tidak waras, tetapi Arjuna selalu merasa ada yang menantinya di sana, ada yang ia rindukan dari tempat yang bahkan namanya tersimpan dalam keterasingan.

Beruntungnya, Bar Di Antara hanya berjarak dua jam dari kediaman rumah baru Arjuna. Ia diam-diam berterima kasih sebab Sadewa pindah mengikuti keinginan Nakula. Belum lagi Bima, kawannya, yang juga ikut menjauhkan diri dari hiruk pikuk ibukota yang sesak di dada. Diam-diam Arjuna mengucap syukur pada semesta yang berpihak penuh padanya.

Ketika Arjuna sampai di Bar Di Antara, matahari sedang hangat-hangatnya. Belum tengah hari. Di dalam bar, Sadewa, Nakula, dan Bima telah menunggu. Ada kelelahan yang menggantung di sepasang mata Sadewa. Laki-laki itu pasti belum beristirahat sejak menutup bar dini hari tadi. Nakula melambai dengan senyum yang sama letihnya. Arjuna merasa hangat di hati. Sepertinya Bima pun ikut lega melihat kedatangannya.

Arjuna menerima es jeruk yang diangsurkan Sadewa padanya. Ia memilih untuk tidak protes kali ini meski setiap kali datang selalu saja disuguhkan es jeruk oleh sang pemilik bar.

"Jadi," ucap Arjuna, berdaham dua kali, lalu memandang pada Nakula yang tampak sudah siap menjawab segala pertanyaannya, "apa saja yang sudah kamu temukan, Nakula?"

Nakula mengembuskan napas panjang. Sisa-sisa pusing masih bersarang di kepalanya. "Nggak sebanyak itu, tapi aku nemu satu video di internet."

Agar lebih mudah, Nakula telah mencetak tangkapan layar yang dimaksud menjadi satu lembar foto. Satu lembar foto tersebut diserahkan Nakula padanya. Sadewa dan Bima tidak ikut melongok, barangkali sudah melihatnya sebelum Arjuna datang. Foto itu dicetak hampir seukuran buku yang muat di saku, warnanya hitam putih. Kalau dari tebakannya, foto itu sepertinya diambil lebih dari tiga puluh tahun lalu. Atau mungkin lebih dari empat puluh tahun lalu. Arjuna mengenali sepetak rumah satu lantai itu yang pekarangan depannya ditumbuhi pohon-pohon tabebuya merah muda.

Ada satu manusia yang terpotret, sepertinya tidak sengaja sebab laki-laki itu hampir-hampir tertutup oleh bayangan pohon. Laki-laki di foto itu kecil sekali, bahkan wajahnya tidak betul-betul tampak. Namun, entah mengapa, Arjuna merasa begitu mengenali laki-laki itu. Tidak ada keterasingan. Dadanya berdenyut-denyut, ikut menerka-nerka.

"Kamu mungkin nggak nemu foto itu karena aku pun menemukannya di video." Nakula tiba-tiba angkat bicara. "Sepertinya dia nggak sengaja tertangkap di kamera orang."

Nakula bilang video yang dimaksudkannya adalah suatu konten di media sosial yang judulnya "Video Ini Mencari Pemiliknya". Itu adalah video lama satu keluarga yang tengah berlibur. Yudistira nampaknya ikut terekam tanpa sengaja ketika keluarga itu mengabadikan lingkungan sekitar. Hanya dua detik. Yudistira yang tengah melamun tak sadar masuk kamera, begitu pun pemiliknya yang barangkali terlalu gembira sehingga tak menyadari adanya orang lain yang ikut masuk ke video.

Arjuna menggigit pipi dalamnya. Meski diam-diam ia memikirkan kemungkinan ini; meski ia pernah bertanya-tanya apakah laki-laki itu telah hidup lebih lama dari yang dipikirkannya, setengah isi kepala Arjuna ingin meneriakkan keberatannya. Yudistira di dalam foto seperti sama usianya dengan Yudistira yang ditemuinya pagi ini. Arjuna kecil di dalam kepalanya termenung-menung, ikut meratapi selembar foto yang balik menatap dalam kebisuan.

"Saya sudah mencoba bertanya ke orang-orang yang datang ke bar." Sadewa berucap perlahan-lahan. "Sulit melacaknya, Juna. Tidak ada yang kenal Yudistira Yogendra. Jika mencari hanya dengan nama Yudistira terlalu luas. Kita juga tidak tahu apakah dia pernah berganti nama."

Yang diucapkan Sadewa memang ada benarnya. Arjuna sendiri pernah mencoba mencari nama Yudistira, tetapi hasil temuannya terlalu banyak. Jika hanya bermodalkan Yudistira Yogendra, yang mampir hanya profil singkat tentang seorang laki-laki yang usianya dua puluh tiga. 

Sadewa menyesap kopinya, yang tanpa ditanya pun ia tahu pasti itu bukan gelas pertamanya. "Setelah Nakula mendapatkan foto itu, saya berpikir bahwa mungkin orang-orang akan lebih tahu soal desas-desus ini. Seperti mungkin ... setan."

Orang-orang memang gemar sekali membicarakan hal-hal mistis. Hal-hal yang berkaitan tentang setan, makhluk-makhluk yang kegaibannya terasa kental akan jadi topik menyenangkan pada tiap pembicaraan ringan.

Lalu, Sadewa bercerita bagaimana pelanggannya pernah mendengar desas-desus yang dibincangkan dengan penuh kehati-hatian. Pelanggannya bilang pernah mendengar soal penunggu sebuah rumah tua yang aroma kesepian dan kengeriannya sudah tercium dari ujung perempatan. Mungkin ada setan yang tinggal di sana, begitu orang-orang berasumsi, lalu membicarakannya dari mulut ke mulut. Namun, cerita itu pun akhirnya hilang begitu saja dibawa angin, lama kelamaan tak ada lagi yang membicarakannya.

Setan, ya, Arjuna menggumam-gumam pada dirinya sendiri. Meski pelanggan Sadewa itu tak mengucapkan nama, tetapi ia cukup yakin desas-desus serupa pasti pernah dialami Yudistira pula. Laki-laki itu kasatmata, pada siang cerah pun orang dapat melihat dengan mata telanjang. Arjuna membayangkan Yudistira yang diam di bawah bayangan pohon tabebuya merah muda pada siang yang matahari bersinar dengan panas-panasnya. Namun, mengingat bagaimana tatapan Yudistira yang sendu yang layu yang dalam hingga menembus ke dada dan kepala, Arjuna berani menjamin sesiapa pun yang melihat akan percaya begitu saja bahwa mereka baru bertatap mata dengan setan. Lelebih lagi dengan kulit pucat juga bibir yang segaris tipis tak mengucap apa pun.

Tatapan Arjuna kembali pada foto hitam putih di tangannya. Tak seharusnya Yudistira berwajah sama dengan hari ini. Seharusnya Yudistira menua jika laki-laki itu memang manusia.

"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Juna?"

"Nggak ada?" Arjuna menatap balik pada Bima yang penasaran. Ia mengembuskan napas, meletakkan foto ke atas meja. "Aku bakal tetap datang ke rumahnya. Aku merasa dia sudah kenal aku sejak lama." Tatapan Yudistira terbayang begitu jelas di balik kelopak matanya. "Aku merasa seperti sudah mengenal dia."

Ketiga kawannya itu menatapnya lama. Arjuna tahu ini aneh, tetapi sejak ia bertemu pandang dengan Yudistira, ia sudah dihantui tatapan laki-laki itu yang terus-menerus bersarang di kepala. Arjuna seyakin-yakinnya yakin Yudistira tak asal memandangnya.

Nakula berdaham. "Maksudnya, kamu merasa ...," jeda Nakula sembari mencari-cari kata yang sesuai, "mungkin saja kalian sudah saling kenal?"

"Rasanya aneh, tapi aku nggak merasa asing meskipun asing?" Arjuna tertawa tipis pada ucapannya sendiri. "Kalian pasti mengerti maksudku."

Arjuna selalu merasa ada kerinduan yang asing pada Yudistira. Ia jelas baru mengenal laki-laki itu ketika ia pindah ke rumah baru, tetapi sesuatu di dalam dirinya seolah-olah telah mengenal lelaki itu sebelumnya. Lelebih dengan Yudistira yang selalu tampak sedih ketika menatapnya. Seperti ada banyak sekali yang ingin dikatakan, tetapi lebih memilih diam sembari menelan kerinduan yang dapat diendusnya di udara. 

Belum lagi soal episode-episode mimpi yang aneh. Arjuna bermimpi banyak soal dirinya yang hidup di banyak masa. Juga kehadiran seorang lelaki lain yang selalu berada di sampingnya. Arjuna tak dapat melihat seperti apa rupa lelaki itu, tetapi lelaki itu selalu ada di sana, ada pada setiap mimpi-mimpinya.

Suatu malam, Arjuna memutuskan untuk menghubungi Nakula. Ia lalu bercerita soal keresahan yang mengganjal di kepala. Arjuna bilang ada yang aneh dengan Yudistira. Laki-laki itu tampak asing dengan banyak hal. Ketika Arjuna memandangi Yudistira yang seolah tak mengenali buku-buku baru, tetapi selalu memilih buku lawas, dongeng lama, atau novel klasik ketika berada di ruang bacanya. Belum lagi soal kekosongan rumah Yudistira yang terasa begitu dingin seolah-olah tak hanya selalu menutup pintu untuk tamu, tetapi pula tak memperlihatkan kehidupan, tak ada jejak makanan yang ditemukannya di dapur. Belum lagi soal kebekuan tubuh Yudistira. Ada sesuatu yang harus ia temukan jawabannya. Arjuna mafhum betul betapa kurang ajarnya dirinya sendiri, tetapi ia ingin tahu. Arjuna harus tahu. Arjuna mau memeluk Yudistira seerat-eratnya, selekap-lekapnya, lalu menjahit luka yang sengsaranya tumpah dari sepasang mata sendu lelaki itu.

"Aku cuma ingin memastikan." Arjuna menambahkan. "Aku nggak sanggup membayangkan dia hidup sendirian untuk waktu yang sangat lama."

Aku juga nggak akan pergi.

Tangan besar Bima mengusap-usap punggungnya. Arjuna lebih suka makanan asin, tetapi Sadewa selalu memberikannya hidangan manis, seperti kue-kue yang tampilannya selalu menggugah selera meski sebenarnya bukan sahabat baik untuk giginya. Hari itu pun, Arjuna memilih untuk memakan dua potong kue buatan Sadewa, mengucap banyak terima kasih atas bantuan mereka. Nakula tidak banyak menjahilinya. Kawannya itu hanya memberikan pesan bahwa apa pun yang akan dibincangkannya dengan Yudistira, ia harus memastikan untuk memberikan ruang paling nyaman bagi Yudistira untuk pulang. Arjuna hanya bisa menganggukkan kepala. Ketiganya menghabiskan hari dengan obrolan yang lebih ringan.

Arjuna tahu betul bahwa satu-satunya hal yang tidak siap dihadapinya adalah kesenduan seperti apa yang akan tumpah dari Yudistira nanti.

.

.

"Banyak yang belum aku ketahui, Tira."

Malam datang dengan tiba-tiba. Dari jendela, pohon-pohon tabebuya merah muda dibayangi cahaya lampu kuning redup. Kesunyian di dunia luar seolah mengetuk-ngetuk kaca jendela. Yudistira mengamat-amati ke kejauhan. Ada kesenduan dan kepahitan di dada bolongnya, tetapi bukankah ia sudah terbiasa dengan kelara-laraan itu sejak beratus tahun lalu?

Jari-jemari Arjuna yang hangat menggapai-gapai lengan yang disimpannya rapi di atas meja. Laki-laki itu seolah meminta perhatiannya lagi. Yudistira menatapnya, menemukan kesenduan pada jelaga mata Arjuna. Sepasang mata yang sudah dikenalnya sejak beratus tahun lamanya. 

"Tira, aku sungguh-sungguh ketika bilang ingin belajar soal kamu." Ada perih yang periiiih ketika Arjuna berbicara. Rasa sakitnya seolah telah bertahun-tahun hidup di sana. "Aku selalu merasa kamu sudah lama mengenalku. Kamu selalu terlihat sedih, Tira."

Kesedihan-kesedihan itu juga merambati sepanjang kaki Arjuna, merangkak-rangkak untuk menyusup di dada dan mengobrak-abrik Arjuna kecil di dalam kepala.

Dada Arjuna perih oleh dingin yang tinggal di kulit Yudistira. Rasa sakitnya mencekik hingga ia ingin menyerah pada kehidupan. Apakah Yudistira selalu membawa nelangsa ini di bahunya? Apakah Yudistira selalu berdampingan dengan kesengsaraan ini di dadanya? Apakah Yudistira menelan kepedihan ini sepanjang tahun sepanjang kehidupan seorang diri?

Yudistira menatapnya lurus-lurus bersama dengan kesepian yang tidak pernah Arjuna jumpai sebelumnya. "Aku nggak bisa melihat kamu bersedih, Tira. Seharusnya kamu yang sakit, tapi aku sakit. Aku sakit melihat kamu sakit." Ah, betapa menyedihkannya ia. Betapa payahnya ia. Betapa kurang ajarnya ia. Yudistira menderita sendirian. 

Lalu, Yudistira menggenggam tangannya dengan begitu perlahan seolah-oleh takut kebekuan itu menyiksanya. "Juna, nggak ada yang lebih membahagiakan untukku melihat kamu sudah pulang lagi. Terima kasih sudah pulang, Juna."

"Terima kasih karena sudah pulang sekali lagi, Juna."

Ucapan itu berdengung-dengung di dalam kepala seolah-olah Yudistira baru saja mengucapkannya kemarin sore. Ia seolah-olah digulung-gulung oleh kerinduan yang begitu besar, begitu dahsyat, lalu ia tenggelam bersama Yudistira di sana. 

Arjuna menggenggam jari-jemari Yudistira lebih erat, lebih lekap, lebih rapat. Dingin tubuh Yudistira menusuk hingga dada dan Arjuna kecil di dalam kepala, tetapi Arjuna memilih untuk tak melepaskannya. Ada kerinduan yang tak lagi asing di dalam hati. Ia tahu pada siapa kerinduan yang selama ini menghantuinya seolah tak bertuan.

"Aku pulang, Tira."

Ruang kecil itu membisikkan rahasia lewat redup lampu, juga senyum Yudistira yang lega, yang bersambut, yang menampilkan dua gigi taring kembar. Napas Arjuna berhenti untuk sesaat. Ah, Yudistira. Semua keterasingan perlahan-lahan menemukan jawabannya sendiri.

.

.

Ada begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala Arjuna. Jika ia harus mengumpulkan dan membereskannya satu demi satu, akan ada satu perpustakaan raksasa dengan semua pertanyaannya di sana.

Hampir-hampir tengah malam. Yudistira menuntun Arjuna ke kamarnya.

Kekosongan kamar Yudistira hampir-hampir sama seperti kosong hatinya. Di dalam kamar itu, Arjuna hanya menemukan satu ranjang yang tampak dingin dan nakas dengan dua laci di sampingnya. Lampu tidur menyala redup di atas nakas. Tidak ada hal lain yang ia temukan di sana. Arjuna meringis. Kesepian yang pekat itu seolah-olah kembali menggelitiki kakinya, bersiap untuk merambati seluruh tubuhnya. Didudukannya dirinya sendiri di tepian ranjang sesaat setelah Yudistira mempersilakannya.

Yudistira duduk di sebelah Arjuna. Kedua bahu bersentuhan. Keduanya tidak pernah duduk sedekat itu sebelumnya. "Maaf, ya, kamarnya memang jarang sekali dipakai."

Sepertinya Yudistira merasakan keresahaannya. Pandangan Arjuna bergulir dari kekosongan kamar pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu. "Tira nggak pernah tidur?"

Ada senyum sedih yang membuat Arjuna merutuki dirinya sendiri. "Pada dasarnya, vampir nggak pernah butuh tidur, Juna."

Lalu, semua kegelisahan-kegelisahan memenuhi isi kepala tanpa bisa dicegah. Arjuna ingin memuntahkan isi perutnya begitu ia membayang-bayangkan kehidupan seperti apa yang harus dilalui Yudistira. Seluruh Arjuna kecil di dalam kepala tak mampu bekerja lebih keras. Seperti apa hidup beratus tahun tanpa tidur? Seperti apa hidup beratus tahun dengan kesendirian? Seperti apa hidup beratus tahun tanpa menjadi gila?

Kesedihan tumpah tak hanya pada sepasang mata Yudistira, tetapi pada seluruh wajahnya; aroma kelara-laraan memenuhi sepenjuru kamar. Arjuna sesak napas. Arjuna kecil di dalam kepala habis napas. Dadanya sakit sakit sakit sakit, jari-jemarinya mencengkeram erat di sana.

Sentuhan yang beku dari jari-jemari Yudistira mampir di lengan kiri Arjuna, yang tanpa disadarinya pun tengah mencengkeram lutut sendiri. "Juna, aku nggak apa-apa." Kedustaan itu pahit menggigit di lidah. Seluruh Yudistira beraroma kesenduan dan kesakitan yang tak ada ujungnya. Arjuna memaki, merasa sepayah-payahnya manusia sebab Yudistira harus mengumbar kebohongan. Padahal Yudistira tidak baik-baik saja. Padahal Yudistira menderita. Padahal Yudistira kesakitan. Tidak seharusnya Arjuna yang merasakan keruntuhan dunia. "Aku senang Juna sudah pulang, aku sudah nggak apa-apa."

Apa yang Yudistira lakukan sepanjang malam pada sepanjang tahun yang dilaluinya seorang diri? Apakah laki-laki itu menatap-natapi pohon tabebuya merah muda dari ruang kecil di samping dapurnya? Apakah laki-laki itu duduk termenung di ranjang hingga pagi datang? Apakah laki-laki itu melamun menghabiskan malam tanpa teman bicara?

Arjuna mengatur napasnya; satu dua, tarik buang, lalu menangkup jari-jemari Yudistira yang dingin dengan kedua tangannya. Ia genggam erat-erat, merasa-rasai kebekuan itu perlahan mengetuk isi kepala. "Maaf, seharusnya aku pulang lebih cepat."

Semesta itu memang selalu punya cara untuk menjebak seluruh umat pada keberengsekan. Genggam tangan Arjuna yang melingkupinya menyisa samar hangatnya. Yudistira ngilu di hati. Meskipun skenario ini pernah terjadi pada kehidupan lelakinya yang lalu, sampai kapan pun ia tak akan pernah terbiasa. Laki-laki yang menggenggam dengan seluruh hidupnya ini hanyalah manusia sedang ia adalah vampir. Keduanya terpisah oleh banyak hal yang tak saling terkoneksi.

Yudistira tak tahu harus mengatakan apa sebab jika ia boleh meminta pada semesta, ia selalu ingin bertemu Arjuna lebih cepat, ia tak ingin berpisah dengan Arjuna. Hidup sendiri selama beratus tahun sudah cukup membuatnya menderita. Ia tak ingin hidup beratus tahun lagi untuk merasakan kesendirian yang sama. Yudistira sudah merasa cukup dicekik kesengsaraan. Namun, ketakutan-ketakukan senantiasa menghantuinya. Bolong di dadanya yang tak kunjung sembuh; yang akan selalu kembali terkoyak tiap hidupnya kembali seorang diri itu entah sampai kapan dapat bertahan. Yudistira tak tahu kapan dadanya akan bolong seluruh-luruhnya tanpa meninggalkan sisa. 

Sejujurnya, Yudistira tak tahu berapa tahun lagi yang bisa dilaluinya hingga ia benar-benar hilang kewarasan; hingga ia sinting betulan.

Dingin kamar Yudistira menusuk hingga sudut terjauh hatinya.

Bersama kelara-laraan serta kesengsaraan yang menggerogoti dada mereka, keduanya bertemu pada peluk yang rapuh. Mereka saling menjahit ulang hati yang tercerai-berai. Ada pengharapan yang dibisikkan pada semesta. Tubuh Yudistira sedingin-dinginnya kebekuan, menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun, meski demikian, Arjuna hanya merengkuh lebih erat, memeluk lebih rapat. Ini adalah laki-lakinya, satu-satunya jawaban atas hati yang bolong, satu-satunya pembenaran pada hidup Arjuna yang lama kosong. Ketidaktahuan atas apa yang akan mereka alami, apa yang akan Yudistira lalui jika harus sendiri lagi, membuat Arjuna ingin menukar seluruh nyawa dan jiwanya. Yudistira di pelukannya tak berkata apa pun, hanya balik merengkuh dengan sama patahnya, tetapi kesenduan merambat lewat kulit yang bersentuhan. Arjuna mampu merasakan kesedihan menahun dari dada Yudistira yang kosong, yang tak lagi punya irama.

Yudistira memanggil namanya dengan suara yang hampir tak dapat ditangkap kupingnya. Barangkali terheran-heran sebab Arjuna masih mencoba melekapkan rengkuh sedang tak ada lagi ruang yang tersisa di antara keduanya. Arjuna mengendus malam dari sebatang leher Yudistira. Dadanya bergemuruh bagai langit muram yang akan menjatuhkan hujan badai.

"Kalau boleh, aku nggak ingin melepaskanmu lagi, Tira, bahkan jika aku mati suatu hari nanti."

.

.

Di dapur, Arjuna sibuk membuat sarapan. Yudistira yang pada dasarnya tidak membutuhkan makanan manusia, hanya menemani laki-laki itu. Ia mengekori Arjuna yang membuka lemari pendingin sebab penasaran apa saja yang Arjuna simpan di sana; mengekori Arjuna yang membuka lemari tempat alat makan; mengekori Arjuna yang hanya membasuh tangan di wastafel. Dapur Yudistira yang tidak ada isinya, yang kalau mengutip kata-kata Arjuna "aku nggak mungkin sarapan cuma minum teh" itu tak memberikan opsi apa pun untuk Arjuna. Teh itu memang sengaja Yudistira sediakan sejak Arjuna beberapa kali datang ke rumahnya. Keduanya memutuskan untuk ke rumah Arjuna pagi-pagi sekali.

"Kamu nggak boleh kena sinar matahari sama sekali?"

Pagi hari itu Arjuna memasak nasi goreng. Ia masih punya nasi sisa semalam.

Yudistira, yang masih mengekori Arjuna mengambil bumbu dapur, menggumam-gumam. "Boleh, tapi nggak bagus buatku," katanya. Oh, Arjuna cukup doyan pedas, rupanya. Meski hanya nasi goreng, tetapi masakan laki-laki itu tampak sangat menggugah selera. Jika ia manusia biasa, Yudistira akan senang hati memakannya setiap hari. Sebetulnya, tadi Yudistira bilang ingin menyicip, tetapi Arjuna hanya mengatakan bahwa Yudistira tidak perlu memaksakan diri. Lagi pula, kamu kan sebetulnya nggak butuh makanan manusia.

"Apa efeknya buatmu?" Arjuna bertanya sembari menata piringnya ke atas meja makan. Melihat Yudistira yang nampaknya sangat ingin membantu, ia akhirnya meminta laki-laki itu mengambilkan gelas yang sudah diisi dengan air putih meski sebetulnya ia bisa melakukan itu sendiri. Meski demikian, ia diam-diam tersenyum melihat Yudistira yang tampak begitu bangga. Arjuna membelai pucuk kepala Yudistira, sedikit mengawang, ragu-ragu takut laki-laki tidak nyaman. Siapa sangka, rupa-rupanya Yudistira tampak menyukainya. Laki-laki itu bahkan menyenggol dengan sengaja pada telapak tangannya.

Yudistira menarik diri. Ia duduk di kursi sebelah Arjuna. "Rasanya panas seperti terbakar," jawabnya lama kemudian. "Nggak benar-benar melukaiku, tapi aku jadi nggak bisa melakukan aktivitas."

Arjuna mengangguk-angguk mendengarnya. Itu artinya Yudistira seperti dilemahkan dari dalam tubuhnya.

Pagi itu tampak tenang di kediaman Arjuna. Ada Yudistira yang hampir-hampir tak pernah melepaskan pandangan padanya selama ia menyantap sarapan. Kalau-kalau ini terjadi sebulan lalu, barangkali Arjuna akan cepat-cepat angkat kaki dari sana. Pasalnya, sepasang mata yang selalu menghantuinya dari bawah pohon-pohon tabebuya merah muda di pekarangan rumah seberang kini justru mewujud di meja makannya sendiri.

Namun, pagi itu terasa sangat familiar. Mungkin Arjuna di masa lalu merasa kehangatan yang seperti ini pula. Sisa kesenduan masih membayangi sepasang mata Yudistira, tetapi jika Arjuna menatapnya lamat-lamat, ada kelegaan yang tinggal di sana. Momen seperti inilah yang selalu dinanti-nantikan Yudistira. 

Pada usianya yang dua puluh lima tahun, Arjuna merasa ia seolah terlahir kembali. Semestanya seumpama ditulis ulang lagi. Jika memang inilah yang dilalui Arjuna-Arjuna lain di kehidupannya yang dulu, ia bersumpah akan hidup sebaik-baiknya.

.

.

Malam sedang matang-matangnya ketika Arjuna memandu Yudistira untuk duduk di pangkuannya.

Dadanya bergemuruh hebat. Sensasi dingin beku di bahunya merambat perlahan-lahan menuju seluruh tubuhnya. Nyeri hebat berpusat dari titik Yudistira menggigitnya. Arjuna menggantungkan kewarasan lewat pucuk jari-jemarinya yang mencari tumpuan di pinggang Yudistira. Ia mencengkeram kuat di sana. 

Napasnya tersangkut di tenggorokan ketika Yudistira mulai meminum darahnya. Arjuna mendengar bunyi tegukan yang samar. Jari-jemari dingin Yudistira berlarian di sisi wajahnya. Pandangannya mulai kabur. Semua titik di tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan Yudistira terasa panas.

Di sebalik kelopak matanya yang hampir-hampir gelap, Arjuna melihat dirinya sendiri. Di sana, ia berada di ruang yang rak-raknya menjulang penuh buku-buku. Ia duduk dengan lembar-lembar kertas bertumpuk di ujung meja. Arjuna mengerjap, mendapati pena di antara jemari. Tinta menetes ke atas kertas. Ia mengerjap lagi, melihat barisan-barisan kata yang belum rampung ditulisnya.

Lalu, Yudistira tiba-tiba saja memenuhi pandangannya. Lelakinya itu tersenyum lebar menampilkan gigi-geliginya. Arjuna menyimpan kembali penanya, memutuskan untuk melanjutkan lagi nanti.

Arjuna bangkit dari duduknya, mengambil jari-jemari Yudistira yang dinginnya terasa familiar. Begitu ia telah berdiri di atas kakinya, Yudistira mengajaknya berdansa ringan. Arjuna tertawa kecil, memutuskan untuk mengikuti ketukan-ketukan lelakinya tanpa musik apa pun hanya gumam-gumam menggemaskan yang tumpah dari bibir Yudistira. Jari-jemari Arjuna menemukan tempat pulang pada pinggang lelakinya. Senyumnya kian lebar ketika Yudistira menggapai bahunya. Gigi taring kembar Yudistira mengintip lucu.

Arjuna hampir-hampir membuka mulut ketika dunia meluruh. Tanpa aba-aba, rak-rak buku hancur bersepaian. Lampu tunggal yang redup nyalanya ikut ambruk. Dada Arjuna seolah berhenti berdetak begitu Yudistira lenyap dari genggamannya. Arjuna menggapai udara kosong.

Lalu, dalam hitungan sekon berikutnya, Arjuna terdampar pada tanah lapang pula langit biru yang cerahnya ampun-ampunan. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, melihat sekelilingnya. Pada sepelemparan batu dari kakinya, Arjuna menangkap pohon rindang yang pada bayangannya itulah Yudistira duduk bersandar. Kulit wajahnya yang pucat tampak memerah samar. Ada kelegaan begitu ditemukannya lelakinya itu di sana.

Tubuhnya yang mendadak terasa berat membuat Arjuna menunduk, memindai tubuhnya sendiri. Yang didapatinya adalah setelan berat dengan pedang yang sama beratnya tergantung di pinggang. Arjuna mengerjap-ngerjapkan mata. Jari-jemarinya membelai sarung pedangnya sendiri dan oh, pemahaman tiba-tiba saja menyusup ke dalam kepalanya. Mereka dalam kesiagaan. Ada peperangan yang baru saja dilewati. Peperangan yang selanjutnya akan datang lagi, Arjuna tahu betul.

Di bawah bayangan pohon, Yudistira melambaikan tangan. Senyum di wajah lelakinya itu terbentuk samar, hampir-hampir layu, tetapi ada kerinduan yang pekat. Arjuna melangkah dengan penuh kehati-hatian. Kakinya berat, tubuhnya berat, dan begitu pula dadanya yang sama beratnya.

Satu langkah kaki sebelum ia benar-benar menubruk Yudistira, ia berjongkok. Yudistira meraih tangannya yang ia sambut dengan segala kerinduan yang sama beratnya pula. 

Jari-jemari Yudistira yang beku seolah-olah mampu mendinginkan dada pula kepala Arjuna yang panas seperti habis dibakar matahari. Keduanya tak bertukar kata, tetapi di antara ketegangan perang yang menghantui di belakang kepala juga menyusup di bayangan tubuhnya, Arjuna ingin membawakan kedamaian untuk meredakan kesenduan di sepasang mata Yudistira. Ingin dipersembahkannya semesta dengan ladang bunga untuk Yudistira yang dikasihinya. Ia ingin Yudistira hidup pada sebaik-baiknya dunia yang bukan ini; yang tanpa perang; yang tanpa keresahan; yang tanpa ketakutan; yang tanpa kesenduan.

Arjuna merengkuh lebih erat. Ia bersumpah untuk mewujudkan hidup itu dengan pedang yang berat di pinggangnya.

"Juna?"

Dunianya runtuh sekali lagi. Tanah luas yang disinari sengat matahari itu roboh di depan matanya sendiri. Yudistira yang sendu di hadapannya turut bersepaian. Arjuna kewalahan, tetapi yang digapainya hanya angin kosong. Ia mencoba berteriak, tetapi tak ada satu pun yang keluar dari mulutnya. Tenggorokannya kering. Kepalanya berat ampun-ampunan.

Lalu, "Juna? Juna!"

Setengah mati Arjuna berusaha mengerjapkan mata. Perlahan-lahan kesadaran kembali pada tempatnya. Arjuna kecil di dalam kepala mengumpulkan paksa isinya yang berlari-larian. Sakit menusuk-nusuk isi kepala. Arjuna merasa nyeri hebat pada kepalanya yang berat. Bahunya berdenyut-denyut, nyeri bersarang dalam-dalam di sana. 

Lalu, Yudistira menatap dengan sepasang matanya yang penuh kekhawatiran. Dingin dari sentuhan Yudistira di sisi wajah mulai dikenalinya kembali perlahan-lahan. 

Yudistira lantas memeluknya erat-erat. Dari rengkuhan yang patah itu, Arjuna memahami begitu saja bahwa Yudistira tak hanya khawatir, laki-laki itu dikelilingi oleh rasa bersalah yang pekat. Dengan kesadaran yang masih setengah mengawang, Arjuna membelai punggung laki-laki yang mendadak terasa kecil di pangkuannya.

"Bukan salah kamu, Tira." Ia mengucap. Dikecupinya sisi-sisi wajah Yudistira yang masih bersembunyi. "Aku cuma ... tiba-tiba melihat sesuatu. Nggak apa-apa, ya? Coba lihat aku."

Awalnya, Yudistira hanya menggeleng. Jari-jemari yang dingin di bahu seolah memberi jawaban paling jelas yang bisa dilakukan laki-laki itu. Maka, Arjuna menunggu dengan sabar. Ia tetap membelai punggung Yudistira, ia tak mau laki-laki itu berpikir telah menyakitinya. 

Kadang-kadang mimpi aneh mampir di malam-malam ketika Arjuna berpikir bahwa tubuhnya terlalu lelah atau sekadar terlalu banyak membaca hingga mewujud menjadi bunga tidur. Kadang-kadang ia seolah menjadi lakon cerita yang asing: seperti terlempar ke masa-masa lalu dan menjalankan hidupnya di masa itu bersama seorang lain yang wajahnya tak bisa ia kenali. Ia pernah membicarakannya dengan Nakula. Satu kesimpulan muntah dari bibirnya tanpa bisa dicegah: orang dalam mimpiku adalah Yudistira. Ia tak punya banyak bukti, tetapi dalam tiap keterasingan lakon-lakon yang muncul dalam bunga tidurnya, seorang lain itu selalu terasa familier. Ada kehangatan yang aneh seumpama telah dikenalinya begitu lama. 

Barangkali semesta memang senang sekali bermain-main dengan takdir sebab tadi ketika Yudistira meminum darahnya, kepingan-kepingan yang berserakan di dalam kepala mendadak tahu jalan pulang. Seorang lain dalam mimpinya mendadak punya wajah. Apa yang diperankan dalam bunga tidurnya mendadak menampilkan Yudistira dengan sejelas-jelasnya pula senyata-nyatanya.

"Aku lihat kamu." Arjuna mengucap dengan sisa pahit di lidah. Mungkinkah segala-gala yang dilihatnya di sebalik kelopak mata adalah ia yang pernah hidup dahulu sekali? Apakah kepingan-kepingan itu adalah memori yang tenggelam jauuuh di sedasar dada bolongnya? 

Yudistira, bersama keragu-raguan, menatapnya lurus-lurus. Pada sepasang matanya yang hijau redup, Arjuna menemukan keluka-lukaan. Arjuna menahan napasnya sendiri. "Aku juga melihat diriku sendiri."

Jika memang keduanya telah menyaksikan kejam semesta dari masa ke masa, mengapa masih harus ada kesengsaraan yang harus mereka pikul di bahu? Mengapa semesta rasa-rasanya seperti episode penuh nestapa yang seolah tak berkesudahan?

Pada kepingan yang mampir di dalam kepala, Arjuna menyadari bahwa ada begitu banyak Arjuna-Arjuna lain yang telah mati dan hidup yang entah di mana garis mula pula akhirnya nanti. Arjuna memandang-mandangi Yudistira dalam pangkuannya yang seolah meruntuh perlahan-lahan, seolah siap menjatuhkan air mata kapan saja setelah begitu lama menyembunyikannya sendirian. Arjuna-Arjuna yang hidup dan mati itu selalu bertemu Yudistira yang sama: yang dingin tubuhnya seolah tak punya tempat baik di bumi ataupun di alam kematian. Yudistira yang ditemuinya selalu terjebak pada batas kewarasan. 

Jari-jemari Arjuna membingkai wajah Yudistira yang sendu yang nelangsa yang luka yang sengsara yang hilang arah. Arjuna sakit, sakit sakit sakit membayangkan betapa besar kedukaan yang harus Yudistira bawa sepanjang hidup dan mati Arjuna-Arjuna yang entah berapa jumlahnya.

Berapa banyak aku yang harus kamu temukan, Tira, ia tak mampu mengatakannya. Berapa lama lagi kamu harus terus sendirian, Tira? Ia hampir-hampir hilang kewarasan hanya dengan memikirkannya.

"Maaf, karena kamu harus selalu melihat kematianku."

Lalu, bersama Yudistira yang sedingin malam, ada kerapuhan yang hancur bersepaian. Arjuna sesak napas ditenggelamkan bersama pecahannya yang tajam, yang menusuk-nusuk kaki tangan punggung dada wajah hati dan yang mengalir dari lukanya adalah sesakit-sakitnya kesengsaraan. 

Pada rengkuhnya, Yudistira barangkali pernah menjadi manusia yang hanya manusia; yang terlalu muda untuk mengerti hukum dunia; yang terlalu rapuh untuk dihukum bersama keabadian; yang terlalu kecil untuk mengembara beratus tahun lamanya. Pada rengkuhnya hanyalah Yudistira yang terlalu banyak menelan kesengsaraan seluruh isi semesta.


Pada suatu waktu, Yudistira hanyalah semanusianya manusia.

Namun, itu sudah lama sekali. Ia sendiri sudah tak mampu lagi menceritakan kisahnya dengan utuh. Buku-buku di perpustakaan kepalanya tumpah-ruah. Yudistira tak tahu harus mengambil buku mana yang isinya adalah sejarah kehidupan manusianya. Yang tersisa di permukaan ingatan hanyalah potongan-potongan kecil yang ujungnya berbeda-beda. Yudistira tahu ia pernah menjadi manusia; tahu ia pernah menjadi seorang raja; tahu ia pernah menjadi seorang pangeran; tahu saat ia mewujud menjadi vampir yang tak pernah mati hingga hari ini. Kenangan datang silih berganti seolah-olah tahu betul bahwa ia punya waktu yang dimiliki seluruh isi semesta untuk terus berpikir, terus mengingat, terus ditelan kesengsaraan.

Yudistira menyaksikan kematian banyak sekali Arjuna-Arjuna. Yudistira menemukan pula Arjuna-Arjuna pada tiap kelahirannya kembali.

Pandangan Yudistira jatuh pada tangannya sendiri. Ia membolak-balikknya telapak tangannya sendiri, menatap-natapi lama. Hari ini, ia masih menjadi vampir; ia masih bukan manusia; ia masih meminum darah manusia; ia masih tak membutuhkan tidur; ia masih bukan manusia; ia masih tak bisa berjalan leluasa di bawah sinar matahari; ia masih bukan manusia. Yudistira tahu ia pernah menjadi manusia, tetapi itu sudah lama sekali sampai-sampai tak mampu ia jabarkan lagi seperti apa itu manusia meski kerinduannya masih mengendap di dada.

Malam-malam yang biasa dilalui Yudistira hanyalah keheningan yang bisingnya seolah-olah punya tujuan untuk menulikan telinga. Isi kepalanya ribut ampun-ampunan setengah ingin menjaga kewarasan setengah ingin mati bunuh diri. Meski demikian, Yudistira hanyalah vampir yang dibelenggu oleh hal-hal yang kemanusiaannya barangkali tak lagi bersisa, seperti kerapuhan untuk mati. Yudistira masih sehidup-hidupnya vampir bisa hidup. Namun, malam itu adalah kedua kalinya ia berbaring di atas ranjang seperti selayaknya manusia yang memejamkan mata bersama manusia lainnya. Yudistira terbaring bersama Arjuna yang telah lelap menjelajahi bunga tidur. Lengan laki-laki itu yang berat dan hangat memerangkapnya pada rengkuh seakan-akan takut ia akan kabur begitu laki-laki itu membuka mata di pagi hari. Arjuna memeluknya erat bahkan dalam tidur lelapnya.

Yudistira tak tahu lagi seperti apa rupa bunga tidur sebab ia tak membutuhkan tidur; ia tak bisa membuat dirinya sendiri tidur meski hanya sebuah akal-akalan kepala sendiri. Yudistira mampu memejamkan mata, tetapi kesadaran akan terus terjaga hingga beratus tahun ke depan. 

Dadanya yang bolong nyeri ampun-ampunan. Ia seolah-olah ditindih bumi pula semua isinya. Berat sesak penuh sakit, sakit. Dulu sekali, lama sekali, entah pada tahun berapa menurut manusia, Yudistira ingat Arjuna selalu melakukan hal yang sama. Vampir atau manusia, Arjuna selalu merengkuhnya erat tiap malam di atas ranjang seolah-olah ingin menyimpan Yudistira sebaik-baiknya; seolah-olah ingin memastikan bahwa Yudistira masih sama dan akan selalu sama apa pun sebutannya. 

Malam itu lagi-lagi tak sama dengan malam-malam ketika Yudistira terbangun hingga matahari datang. Ia tak menghabiskan malam seorang diri dari sebalik kaca jendela untuk memandang-mandangi pohon tabebuya merah muda. Ia tak melamunkan malam seorang diri sembari terus memerangi isi kepala sendiri. Malam itu ia terperangkap pada rengkuh Arjuna yang hangat yang panas yang aman yang ia rindu-rindukan selama beratus-ratus tahun lamanya.

Yudistira memejamkan mata sejenak, mengatur sebaik-baiknya dadanya yang bolong; bukan saatnya untuk terus sengsara; bukan saatnya untuk terus nelangsa. Ada Arjuna yang memeluknya; ada Arjuna yang tertidur pulas di sampingnya; ada Arjuna yang telah pulang lagi pada kedua tangannya.

Arjuna yang tak melepaskannya barang sekejap membuat Yudistira diterjang gelombang nostalgia yang aromanya menabrak kuat hingga ia perlu untuk menggigit bibirnya sendiri. Malam itu, Yudistira merasa begitu dikasihi. Ia hanya vampir, tetapi bagi Arjuna, barangkali, ia tetaplah Yudistira.

.

.

Arjuna menciuminya seolah besok dunia dilanda kiamat.

Yudistira, yang tak benar-benar mewaspadai datangnya ciuman itu, kewalahan mengimbangi. Pasalnya, keduanya hanya sedang berbicara ringan di ruang baca Arjuna. Kali ini tak ada buku yang dikimkan Aya, mungkin minggu depan karena jadwal Aya sedang padat sehingga tak mampu mengemas buku-buku lama di rumah Arjuna yang melihatnya saja sudah bikin pusing kepala. 

Yudistira mengambil salah satu novel klasik yang isinya sudah Arjuna hafal di luar kepala. Itu memang selera Yudistira, jadi ia tak lagi mempertanyakannya. Hanya saja, lelakinya itu tanpa aba-aba bertukas begitu saja; dulu Juna suka sekali menulis. Entah apa yang dipikirkan Yudistira ketika mengatakannya; mungkinkah nostalgia yang manis seperti dalam secuil kenangan yang datang di mimpi Arjuna, menulis ditemani Yudistira lalu berdansa tanpa diiringi lagu atau mungkinkah ada secuil kisah menyedihkan di dalamnya yang tak pernah ia ketahui? Arjuna mengangkat kepala dari buku yang diambilnya. 

Kesadaran mengetuk tanpa sabar pada Arjuna kecil di dalam kepala yang sama terbengong-bengongnya.

Yudistira itu hijau; seperti matanya juga segaris rambutnya pula baju-baju hangat yang biasa dipakai lelaki itu. Namun, malam itu Yudistira sangat merah di dalam pandangannya. Ada sweter merah yang kedodoran di tubuh Yudistira dan oh, lelakinya yang berdiri di tengah-tengah ruang baca Arjuna yang sama merahnya. Yudistira menatapnya, kebingungan muncul di wajah. Meski demikian, melihat Yudistira yang hijau di antara merah warnanya membuat Arjuna hilang kewarasan.

Yudistira ada di warnanya, warna Arjuna yang merah, ia harus menenggelamkan Yudistira hingga lelakinya itu menjadi merah yang merah, merah yang Arjuna.

Arjuna seperti kesetanan ketika tiba-tiba saja mendekatinya.

Kerinduan yang mengendap beratus tahun di dada bolongnya memang sering kali tak mampu Yudistira kendalikan dengan baik. Pada malam-malam sunyi, kadang ia menggigiti kukunya sendiri, memaki-maki, menyumpah serapahi ketidaksabaran untuk membawa Arjuna pada rengkuhnya. Itu Arjuna! Itu Arjuna-ku! Beratus tahun dengan kealpaan Arjuna di kehidupannya membuat Yudistira berkali-kali yakin ia telah ditelan kegilaan. Melihat lelakinya begitu hidup dan nyata di hadapannya sendiri membuat Yudistira kalang-kabut. Ia ingin menangis di pelukan itu, ia ingin menyandarkan diri pada bahu Arjuna yang seolah selalu siap menampung setiap kedukaan. Namun, belum waktunya, Yudistira selalu berbisik pada dirinya sendiri. Nanti.

Maka, malam itu ketika Arjuna mendorong hingga punggungnya menabrak rak-rak buku, Yudistira tahu ia sudah kalah. Novel klasik itu terjatuh dari genggamnya, beruntung tak menimpa kaki mereka. Yudistira menerima tiap kecupan dengan isi kepala yang berhamburan. Jari-jemarinya kebingungan di bahu lelakinya. Apakah Arjuna sama rindunya? Apakah Arjuna sama menderitanya?

Arjuna menekan. Meski memiliki ketahanan atas rasa sakit jauh lebih tinggi ketimbang manusia biasa, Yudistira tetap terkesiap ketika kepalanya terbentur rak kayu di belakangnya. Bibirnya membuka tipis dan Arjuna, sebagai sehebat-hebatnya manusia, menyusupkan diri di sana. Seisi mulutnya penuh oleh lidah Arjuna. Isi kepala berputar-putar. Yudistira mabuk kepayang. Belum sempat ia mendefinisikan kenikmatan yang hampir-hampir membutakan, lutut lelakinya mendadak membuka paksa kedua kaki Yudistira yang entah sejak kapan telah bergetar hampir-hampir tak mampu lagi menopang tubuh menyedihkannya.

Di antara kecupan, Yudistira meloloskan desah yang sama menyedihkannya ketika lutut Arjuna sengaja menekan pada selangkangannya. Beratus tahun bersama kesendirian membuat Yudistira mendadak menyadari satu hal bahwa ia sangat payah ketika disentuh. Seluruh titik di tubuhnya yang selama ini asing tanpa kontak fisik dengan sesiapa pun meremang dengan gampangnya. Gawat gawat gawat gawat. Yudistira mengerang panjang ketika Arjuna menekan lebih dalam di antara kakinya sendiri.

Satu kerjapan mata ketika Arjuna mengambil napas, Yudistira berkejaran dengan waktu. Ia memiringkan kepala, membuat bibir Arjuna salah mendarat di pipinya. Napas panas Arjuna menabrak kuping. Yudistira, dengan seluruh tubuh tremor oleh kenikmatan, menatap pada sepasang mata Arjuna dengan penuh kehati-hatian. Yang ditemukannya di sana adalah jelaga, hitam yang pekat. Yudistira menelan ludah susah payah, menyadari ia melihat berahi yang pekat pada sepasang mata lelakinya.

"Juna," panggilnya susah payah. Seluruh titik pada tubuh keduanya yang saling bersentuhan masih membuatnya mabuk. "Pelan-pelan, ya? Kita ke kamar saja?"

Arjuna bernapas pendek-pendek. Detak jantung yang berlari-larian di sebalik dada Arjuna mengantarkan Yudistira pada kelegaan. Rupa-rupanya Arjuna sama tidak sabarannya, Arjuna sama merindukannya. Arjuna mengerjap. Selapis gelap sama hilang dari permukaan mata. Lelakinya itu lantas menyadari sesuatu.

"Oh." Arjuna meloloskan napas. Susah payah menelan ludah sendiri. "Oh. Maaf, aku cuma ...."

Yudistira mengecup sudut bibir Arjuna singkat. Ditatapnya sepasang mata yang hampir-hampir melarikan diri itu. "Aku juga," katanya. 

Arjuna mengangguk. "Okay." Lalu, lelakinya itu mundur satu langkah yang cukup untuk Yudistira merindukan panas tubuh Arjuna. "Okay. Kita pindah ke kamar."

Yudistira menerima uluran tangan Arjuna.

Perjalanan menuju kamar Arjuna terasa selamanya. Keduanya saling menggenggam. Arjuna bahkan menggenggam tangannya lebih erat kali ini. Sesekali lelakinya itu mengintip dari sudut mata. Ada ketergesa-gesaan, juga sesuatu yang hangat seperti cinta. Yudistira menggigit bibir. Ia balas menggenggam lebih erat. 

Hidupnya yang telah berlalu beratus-ratus tahun pada kesendirian selalu mampu ia lalui untuk hari-hari yang seperti hari ini: berdua dengan Arjuna, lelakinya, tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun tentang hari esok sebab hari ini semesta hanyalah milik mereka berdua.

.

.

Begitu keduanya sampai di kamarnya, Arjuna mengatur napas. Yudistira menunggu. Wajahnya penuh antisipasi. Ia menelan ludah, mengingat-ingat untuk tidak terburu-buru. Ia hampir hilang kendali sebab tadi melihat Yudistira yang merah warnanya seolah-olah membawa kerinduan pekat.

Wajah Yudistira sama dinginnya dengan seluruh kulit yang pernah bersentuhan dengannya. Namun, meski demikian, Arjuna tetap membingkai wajah itu hati-hati dengan telapak tangannya sendiri. Sepasang mata Yudistira berhenti mencari. Yang ditemukan Arjuna di sana hanyalah kerinduan yang meluber-luber membasahi kedua kaki mereka. 

Bibir keduanya bertemu pada kasih yang hangatnya seperti matahari pagi.

Ia mengecup bibir Yudistira dengan lambat-lambat, seperti bagaimana musik dansa yang lembut mengalun di udara. Bibir itu terasa dingin dan kering. Arjuna melumat dengan penuh kekhidmatan. Semua soal laki-laki itu adalah apa-apa yang dicintainya, yang dikasihi oleh Arjuna-Arjuna yang pernah hidup pula. Ibu jari membelai lembut pada sisi wajah lelakinya. Kenyataannya, dingin beku yang kontras dengan panas di dada hanya membuat isi kepala Arjuna kewalahan menerima hal-hal yang bernama kenikmatan. Arjuna kecil di dalam kepala menyerah pada seluruh sensasi yang membuat dada berdentum-dentum keras.

Jari-jemari Yudistira merambati bahunya sebelum kemudian mengalungkan diri di leher. Yudistira tidak bernapas, tetapi lenguh halus yang lolos ketika Arjuna melumat lebih dalam rupa-rupanya membuat panas di dadanya kian hebat. Ada kebakaran di dada yang hanya bisa diredamkan dengan lebih banyak menyentuh lelakinya itu.

Langkah kakinya berantakan menuntun Yudistira menuju ranjang. Jari-jemarinya memilih untuk menyentuh sebanyak-banyaknya sehamparan punggung di sebalik sweter hangat yang dikenakan Yudistira. Di bawah sentuhnya, Yudistira mengerang hebat. Dilahapnya suara itu lewat bibirnya yang tak ada hentinya melumat. Ia hanya menyentuh, merasa-rasai tulang dengan kulitnya sendiri, apa jadinya jika ia tunduk sepenuhnya pada berahi? Seperti apakah rupa Yudistira nanti? Membayangkannya saja membuat Arjuna mengerang. Celananya sempit ampun-ampunan.

Yudistira mengejar ketika bibir Arjuna menarik diri dari bibirnya. Ia mencebik, menatap-natapi bibir lelakinya yang basah. Sumpah mati tidak rela ditinggalkan begitu saja ketika ia masih ingin dikecup sampai pagi datang. Arjuna menatap lama sekali dengan dada naik turun pula alis yang menukik tajam. "Sabar," ucap Arjuna dengan suara yang tidak biasa, seolah datang dari tempat yang jauh. Mendengarnya saja membuat kedua kaki Yudistira seolah tak punya lagi kekuatan untuk menopang tubuh.

Bibir Arjuna mendekat, tetapi ia tidak mendarat pada bibirnya. Yudistira menyerah dan membiarkan Arjuna mengendus sepanjang leher. Jari-jemarinya masih bertumpu pada bahu lelakinya. Ketika Arjuna mulai mengecup pada sebatang lehernya, ia memejamkan mata. Sensasi panas bibir Arjuna terasa asing di lehernya, tetapi ia ingin bibir itu selamanya di sana; mengendus lamat-lamat pula mengecup kecil-kecil sepanjang jalan.

Suara menyedihkan yang lolos dari bibirnya hanya membuat Arjuna kian lama mengecup. Ketika Arjuna menggigit main-main di antara leher dan bahu, isi kepala Yudistira teraduk-aduk. Bukankah sebagai vampir harusnya ia yang menggigiti leher lelakinya lalu meneguk sebanyak-banyaknya darah dari sana? Namun, ia tetap selemah-lemahnya vampir bisa merasa. Yudistira terus mendesah memalukan sedang Arjuna begitu riang di lehernya.

Jejak panas dan basah lidah Arjuna membuat Yudistira hampir-hampir ambruk. Beruntung Arjuna sigap mendekapnya. Jari-jemari yang sama panasnya menekan dalam di pinggang. Yudistira menyerah. Ia mengerang panjang, balas mengendus pada leher Arjuna yang aromanya menyenangkan.

Belum sempat ia mencicipi leher lelakinya itu, Yudistira dituntun untuk berjalan mundur mendekati ranjang. Ia agak terseok-seok sedikit. Begitu belakang tempurung lututnya menubruk kayu ranjang, Arjuna berhenti. Yudistira tidak melawan ketika ia didudukkan di tepian ranjang. Dipandanginya Arjuna yang masih berdiri. Kepalanya mendongak jauh, menatap pada lelakinya dengan sepasang mata dilapisi kabut samar.

Kedua mata Yudistira praktis menutup begitu dirasakannya kecupan jatuh di dahinya. Lalu, bibir yang sama hangat itu mengecupi pula sepasang kelopak matanya bergantian, satu demi satu pipinya, lalu pada pucuk hidungnya, dan mendarat lama di bibirnya. Kali ini, Arjuna mencium dengan perlahan-lahan, tetapi penuh kelembutan seolah-olah ingin merasa-rasai dengan segenap kekhidmatan. Ia ikut merasa-rasai. Ada kangen di bibir Arjuna. Sementara itu, tiap kali lidah lelakinya itu menjilati bibirnya, Yudistira mengenali rindu.

Yudistira mencari-cari tempat bertumpu ketika jari-jemari Arjuna menemukan tengkuknya. Ia sudah cukup mendongakkan kepala hingga lehernya seakan-akan bisa patah saat itu juga, tetapi ia pula tak punya kuasa apa pun ketika Arjuna menekan tengkuk, meminta untuk menjamah lebih jauh dan menekuk lehernya lebih dalam. Apa pun yang bisa dilakukan Yudistira hanya menikmati tiap kecupan bersama desahnya yang tak berkesudahan.

Benang saliva jatuh menyedihkan di dagu Yudistira ketika Arjuna menarik lepas bibir untuk mengambil napas. Ia malu bukan main, lelebih ketika hanya bisa melenguh. Ia sudah ingin dicium lagi. Arjuna pasti meletakkan candu pada bibir yang pintar itu.

Barangkali Yudistira memang menyedihkan sebab Arjuna menatapnya nyalang seumpama mampu menembus ke dalam isi kepala Yudistira yang isinya hanya bibir Arjuna dan ciuman hebatnya. Lelakinya berwajah serius seperti tengah menyelesaikan teka-teki paling sulit yang pernah dibuat manusia. Yudistira tenggelam bersama dada naik turun Arjuna yang lepas dari hitungannya. 

Vampir seharusnya tidak bernapas sebab ia dan sebangsanya tak lagi punya nyawa. Namun, ketika Arjuna menarik lepas kacamata dengan cepat, lalu meletakkan asal di atas nakas tanpa melepas pandang dari Yudistira, rasa-rasanya ia tengah menahan napas selayaknya manusia biasa. Belum sempat Yudistira menamai sesuatu yang bergejolak di dada saat melihat pemandangan itu, tiba-tiba saja Arjuna sudah mengulum bibirnya lagi.

"Aku bisa cium kamu sampai pagi." Arjuna mengucap di antara kuluman. Napas panasnya berhamburan di wajah Yudistira. "Tapi aku nggak akan pernah cukup kalau hanya berciuman."

Yudistira gemetar. Beratus-ratus tahun kesendiriannya yang nestapa, hanya nama Arjuna-lah yang selalu ia rapal dalam hati kosongnya.  Ia selalu mendamba lelakinya itu untuk kembali, untuk pulang satu kali lagi dan mengentaskannya dari kedukaan dunia yang membinasakan. Maka, malam itu ketika Arjuna sedekat nadi dengan dirinya sendiri dan ia punya seluruh waktu yang disimpan semesta, Yudistira ingin memiliki lelakinya seutuh-utuhnya utuh.

Yudistira menatap-natapi wajah lelaki yang selalu dikasihinya itu. "Jangan berhenti, Juna."

.

.

Kedua tangan Yudistira diangkat tinggi-tinggi ke atas kepala, patuh menuruti perintah Arjuna. Ia tertawa melihat tingkah laku lelakinya yang seolah belum genap berusia lima. "Pintar," pujinya. Dadanya mendadak begitu penuh dan hangat ketika ditangkapnya sepasang mata Yudistira yang mencoba melarikan diri. Jari-jemari lelaki itu bahkan tampak kebingungan, meremas udara kosong sebelum kemudian melepaskannya lagi.

Arjuna yang tadinya sudah siap untuk menarik lepas sweter merah miliknya yang kedodoran di tubuh Yudistira mendadak mengurungkan niatnya. Setelah ia perhatikan dengan saksama, Yudistira tampak begitu kecil, tenggelam di dalam sweter yang aroma sabunnya biasa ia pakai untuk mencuci semua bajunya. Tenggorokannya kering kemarau seketika. Arjuna menangkap jari-jemari Yudistira dengan miliknya sendiri. Ia menggenggam erat, menangkap kebingungan yang tampak di permukaan sepasang mata lelakinya.

Jari-jemari yang saling bertautan itu ia bawa turun. Arjuna mendaratkan kecupan di pucuk kepala Yudistira.

"Pakai aja." Arjuna menjawab pertanyaan yang dilontarkan tanpa suara dari lelakinya. Yudistira mengangguk meski masih tampak tersisa kebingungan pada sepasang matanya. Arjuna membelai jari-jemari lelakinya yang masih dalam genggaman. "Aku suka."

Sepasang mata Yudistira membelalak sejenak sebelum kemudian berlarian, menatap ke mana pun yang bukan pada dirinya. Arjuna merasa hangat hanya dengan melihat sikap lelakinya yang begitu menggemaskan.

Dikecupnya sekali lagi pucuk kepala Yudistira. Lelakinya itu lantas kembali menurut ketika ia memintanya untuk berbaring dengan nyaman. Arjuna memerhatikan Yudistira yang mencari nyaman di ranjangnya. Ia bernapas lega, mengikuti dengan mata pada Yudistira yang berbaring menyamankan diri pada ranjang tempat ia biasa terlelap seorang diri.

Yudistira mengerjap-ngerjapkan mata pada Arjuna yang masih terdiam di sisi ranjang, hanya menatap lurus-lurus pada lelakinya. Yudistira yang menggaruk bukit pipi dengan telunjuk tak silap dari pengawasannya. Lalu, Yudistira meringis. Dua gigi taring kembar menampakkan diri. Arjuna mendadak ingat hari ketika ia menanyakan soal itu pada Yudistira.

Siang itu, Arjuna dan Yudistira menghabiskan waktu di sofa abu-abu pupus di ruang tamu rumah Arjuna. Lelakinya menemukan nyaman di pangkuan dengan bibir dingin yang baru saja menarik diri dari bahunya. Arjuna mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menggapai kesadarannya yang hampir-hampir hilang.

Di sebalik mata, pandangannya gelap samar. "Tira," panggilnya, "boleh tahu sejak kapan kamu jadi vampir?"

Di pangkuannya, tubuh Yudistira membeku untuk beberapa hitungan detak jantungnya. Ada ketegangan yang kentara. Bahkan, lelakinya itu berhenti bergerak. Apakah Arjuna salah melemparkan tanya? Apakah itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diceritakan? Apakah belum saatnya ia mempertanyakan apa-apa soal kevampiran Yudistira?

Bersama kewarasan yang masih mengawang, Arjuna merasa ketakutan mulai merayapi jari-jemari kakinya sendiri. Aku hanya ingin tahu, ia tak mampu membuka bibirnya sendiri. Aku hanya selalu merasakan kesedihanmu. Arjuna menelan luka. Konsep soal Yudistira yang hidup bertahun-tahun lamanya bersama keterpurukan seorang diri selalu menimbulkan luka menganga yang basah di dadanya. Arjuna hanya merasa begitu nelangsa setiap kali melihat wajah lelakinya, menyadari betapa nestapa yang harus ditanggung seorang diri. Belum lagi soal semua kematian-kematian Arjuna yang pernah hidup dulu.

"Maaf." Arjuna mencicit. "Aku cuma ... aku selalu merasa kamu terluka dan itu juga membuat aku luka setiap kali aku memikirkannya."

Pada pandangan Arjuna yang perlahan-lahan menemukan kembali kesadarannya, ada Yudistira yang memandangnya penuh kesenduan. Lelakinya itu menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, Arjuna berhak untuk tahu." 

Wajah Yudistira penuh dengan kemakluman. Arjuna merasa hatinya baru saja diiris oleh luka yang tak dapat dilihatnya. Bagaimana mungkin seseorang yang serapuh Yudistira harus dihukum sekejam-kejamnya oleh semesta? Ke mana perginya keadilan-keadilan yang selalu digembar-gemborkan dunia itu?

"Sudah lama sekali, Juna." Suara Yudistira bagai pecah ketika menjawab pertanyaan seumpama lelakinya itu selalu terluka jika menceritakannya. "Ketika dunia belum begitu maju, perang masih ada di mana-mana, dan bangsaku banyak diburu manusia."

"Manusia itu senang sekali menghakimi mereka yang dianggap berbeda."

Lalu, Yudistira memuntahkan banyak hal. Yudistira mengaku sudah menjadi vampir jauh sebelum Arjuna gemar menulis cerita-cerita. Arjuna tahu versinya yang itu sebab sempat mampir ke sebalik matanya meski ia tak tahu kapan itu terjadi. Pasti sudah sangat lama, ketika yang bisa diabadikan hanya dunia yang hitam dan putih.

Pahit menusuk lidah ketika Yudistira mengaku sengaja berpindah-pindah tempat, takut tertangkap oleh manusia. "Saat itu, vampir sama seperti buronan." Arjuna tak mampu membayangkan kengerian apa yang harus dilalui Yudistira yang dalam kesendirian harus berjuang mati-matian melawan ketakutan. "Meski sebagai vampir aku berusia panjang, aku sudah lupa banyak hal. Aku takut akan sampai pada suatu hari aku nggak bisa ingat apa pun lagi." Soal kamu dan aku. Meski Yudistira tidak mengucapkan itu, Arjuna seolah mendengarnya berbisik langsung ke hati.

Arjuna tahu keresahan itu. Bersama setumpuk mimpi aneh pula pemahaman bahwa ia telah mati dan hidup berkali-kali, ia takut melewatkan banyak hal. Ia takut tak cukup mencintai Yudistira yang selalu menunggu dengan kasih sayang.

Sepasang mata Yudistira dilapisi kesenduan. Namun, hati Arjuna seakan-akan basah oleh air mata.

Dingin yang merayapi sisi-sisi wajahnya menarik Arjuna dari pengembaraan yang panjang. Arjuna mengerjap-ngerjapkan mata, membuang sisa pengembaraan dari isi kepala. Yang menantinya adalah Yudistira yang terbaring nyaman di ranjang. Rupa-rupanya Arjuna telah merangkak, mengungkung Yudistira di bawahnya. Lelakinya tak mengatakan apa pun meski Arjuna tahu ia telah membuat Yudistira kembali kebingungan. 

Arjuna menggigiti bibirnya sendiri.

Inilah Yudistira, lelakinya yang telah dikasihinya bahkan sebelum ia mampu merekognisi dalam ingatan. Arjuna-Arjuna sebelum ia telah mengasihi Yudistira dengan hati yang penuh. Arjuna-Arjuna sebelum ia telah menghadiahkan seluruh mereka pada Yudistira.

Arjuna merendahkan tubuh. Ia berhati-hati agar tak menumpukan seluruh beban tubuhnya pada Yudistira. "Terima kasih, Tira, karena selalu menemukanku."

.

.

Yudistira mengangkat pinggulnya ketika Arjuna mengisyaratkan untuk mencopot celana yang dikenakannya. Hari itu ia memakai celana kain putih pupus milik Arjuna. Kalau diingat-ingat, sepertinya ia belum pulang ke rumah sejak dua hari lalu. Arjuna terlalu senang dengan kehadirannya di rumah lelaki itu, lalu menghabiskan banyak waktu bersama untuk sekadar bersantai di ruang baca, mengintip pohon tabebuya merah muda yang kelopak-kelopak bunganya berguguran dari jendela kamar Arjuna, memandang-mandangi Arjuna yang tampak begitu khidmat memasak dan membuat kukis, lalu berakhir Yudistira lekap di pangkuan Arjuna untuk meminum darah lelaki itu. 

Saat itu, Yudistira malu-malu mengaku kalau ia suka dengan darah Arjuna. Sebagai seorang vampir, ia tidak makan dan minum layaknya manusia. Bisa, sebetulnya, kalau-kalau ia ingin melakukan kesia-siaan sebab makanan dan minuman manusia tidak berarti apa pun untuk vampir. Di bawah tatapan Arjuna yang penuh keingintahuan, Yudistira menjawab jujur. "Aku biasa minum darah hewan, kalau sedang punya banyak tenaga. Aku lebih suka melamun, pura-pura tidur, nggak minum untuk waktu yang lama seperti seorang yang sedang berpuasa." Agaknya jawaban itu memicu kekhawatiran lelakinya sebab Arjuna berkali-kali memastikan apakah ia baik-baik saja. 

Yudistira membelai dahi Arjuna yang terlipat tiga dengan kedua alis menukik tajam bertemu di tengah. "Nggak apa-apa, Juna. Lagi pula aku nggak mau minum darah manusia." Kalau bukan kamu.

Sebetulnya, Yudistira tak bisa merasakan udara malam yang dingin ataupun siang yang panas. Oleh sebab itu, ia suka sekali memakai setelan hangat. Setengah takut tidak sengaja tersentuh manusia setengah tidak suka pada matahari yang panas ampun-ampunan di musim kemarau. Namun, ketika Arjuna menarik lepas celananya, kulitnya yang terpapar udara malam juga polos di bawah tatapan lelakinya itu mendadak meremang. Ia menggigil bagai manusia yang kedinginan, tetapi Yudistira tahu ia tidak kedinginan. Jari-jemari panas Arjuna membelai naik dan turun di paha dalamnya. Lelakinya menggumamkan sesuatu, tetapi Yudistira hanya bisa menggigil dan merintih.

Arjuna menatap-natapi dengan keseriusan yang sulit ia artikan. Namun, jari-jemari lelakinya masih terus menyentuh. Arjuna membuat garis panjang dari paha dalam hingga ke tempurung lututnya, lalu kembali begitu dekat dengan tempat paling panas di antara kaki hanya untuk membuat gerakan berputar. Yudistira merintih, lagi dan lagi dan tiap kali ia merintih, Arjuna semakin serius seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Seprai di bawahnya ia remat kuat-kuat. 

"Juna ...."

Namun, meskipun Yudistira memohon, Arjuna justru menyenggol tempat yang paling ingin dijamah. Yudistira terkesiap. Ia melemparkan tatapan penuh tanya, tetapi Arjuna sengaja menjauh. Jari-jemari itu bermain-main di sekitar tempurung lutut.

Yudistira menggigit bibir. Tahu sedang dipermainkan. "Junaa ...." Ia memutuskan untuk mencoba lagi.

Tanpa diduga, Arjuna justru membuka lebar-lebar kakinya yang entah sejak kapan telah merapat hingga kedua lututnya saling bersentuhan. Yudistira malu bukan kepalang, lelebih ketika di sela-sela Arjuna membuka lebar kakinya, celana dalam yang dikenakannya malam itu ikut ditarik lepas. Arjuna melemparkannya asal sama seperti ketika melempar celana kain panjang yang sudah dilempar asal beberapa saat lalu.

Kedua kaki Yudistira diletakkan di antara tubuh Arjuna. Jari-jemari Arjuna sudah berhenti menyentuh, tetapi justru itulah yang membuat hidup Yudistira berkurang separuh. Lelakinya itu menatap lekat-lekat pada selangkangannya. Yudistira yang ditatapi setajam itu hanya mampu meremas seprai dengan gelisah. Lelebih Arjuna terang-terangan mereguk ludah sendiri. Tubuhnya yang terbiasa dingin seumpama mendadak tersulut api. Panas membakar hingga melelehkan isi kepala. 

Jari-jemari Yudistira bergerak tak nyaman. "Juna, jangan lihatin terus."

Ketika Arjuna mengangkat kepala untuk menatapnya, yang Yudistira temukan pada sepasang mata Arjuna yang hitam adalah jelaga. Ada selapis berahi yang turut mewarnainya. 

"Maaf." Arjuna mengucap dengan serak tersangkut pada tenggorokan, "kamu kelihatan cantik," potong lelakinya itu sembari menjilat bibirnya sendiri. Yudistira mengikuti gerak lidah itu. Ia tertangkap basah sebab begitu ia kembali pada tatapan Arjuna, ada kilat yang nampak berbahaya. Lalu, Arjuna menyambung, "dan kelihatan sangat enak."

Kalau-kalau Yudistira masih punya jantung, organ menyedihkan itu sepertinya sudah berhenti berdetak. Isi kepala kosong melompong. Yudistira tak bisa berpikir. Ia sangat malu sampai-sampai berpikir untuk menggali kuburannya sendiri. Namun, Arjuna begitu sigap. Lelaki itu tiba-tiba bergerak, memerangkap Yudistira pada kuluman yang tergesa-gesa. Namun, bahkan sebagai vampir yang tak perlu mengatur napas pun, Yudistira tetap kewalahan mengimbangi. Jari-jemari sama kewalahannya mencari tempat menggantungkan kewarasan di lengan Arjuna.

Setiap kali Arjuna melepas bibir untuk sekadar mencuri napas seadanya, Yudistira mendengar lelakinya itu bergumam-gumam, cantik, cantik, cantik, lalu kembali meraup habis bibirnya seolah-olah dalam misi membunuhnya dengan ciuman.

.

.

Jari-jemari Arjuna di lidahnya terasa berat, tebal, pula panjang mengobrak-abrik seisi mulutnya. Ia menurut ketika Arjuna memintanya membuka mulut dengan alasan ingin mempersiapkannya. Sebagai vampir yang tak lagi bisa merasa sesak napas, mengulum jari-jemari Arjuna sejujurnya bukan hal yang sulit sebab kesulitan itu datang justru dari sepasang mata yang begitu teliti menatapnya.

Arjuna berjarak satu jengkal tangan dari kepalanya. Berada dalam jarak pandang sedekat itu membuat Yudistira gelisah. Ia ingin merapatkan kaki untuk membuang kegelisahan itu, tetapi kakinya menubruk tubuh Arjuna yang masih berada di antaranya. Jari-jemari Yudistira gugup di kain sweternya. Barangkali Arjuna mengendus kegelisahan itu di udara sebab lelakinya dengan sengaja mendorong jari-jemarinya hingga menubruk ujung mulut Yudistira. Sepasang matanya praktis menutup, ia tersedak hebat.

Sebelah tangan Arjuna membelai pucuk kepala. Lelakinya merunduk hingga dahi mereka bersentuhan. "Maaf," bisiknya. "Aku nggak kuat."

Yudistira tak tahu harus menyimpan di bagian mana informasi itu: apakah dengan membiarkannya begitu saja dan menganggap Arjuna tidak sengaja ataukah menelannya susah payah bersama kegelisahan sebab ia tahu Arjuna sengaja. 

Jari-jemari Arjuna menekan lidahnya seolah-olah tahu pikirannya tengah melayang-layang. Yudistira mengerang panjang.

Ketika ia membuka mata, pandangannya sedikit kabur. Arjuna mengecup dahinya, lalu kembali pada satu jengkal jarak keduanya. Meski dengan mata yang basah, Yudistira mampu melihat dengan jelas bagaimana Arjuna meneguk ludahnya sendiri. 

Yudistira pening ampun-ampunan. Ia mengulum lagi jari-jemari Arjuna yang sedikit kasar bekas kerja kerasnya bertahun-tahun belakang. Lelakinya, pada suatu hari, akhirnya mengaku sempat menjadi agen rahasia. Ada sejarah yang cukup panjang telah dilalui Arjuna sebelum keduanya bertemu.

Jari-jemari Arjuna kembali menyentuh lebih dalam. Kali ini ia tidak tersedak, tetapi panas di dalam kepala juga hatinya membuat desahan meluber begitu saja dari bibirnya.

"Pintar." Arjuna memuji. Yudistira tanpa sadar mengangkat sedikit dadanya ketika melenguh. Aku dipuji. Arjuna memujiku lagi. Aku mau dipuji. Ah, betapa Arjuna sebaik-baiknya manusia sebab bersama senyum yang menggeletarkan hati, lelakinya itu mengucap kembali, "pintar banget, cantikku Tira."

Arjuna menyentuh lebih jauh sekali lagi di dalam mulutnya sebelum kemudian menarik keluar jari-jemarinya. Yudistira menelan ludah sembari mengatur isi kepala yang berceceran seolah tak tahu jalan pulang. Ingin meledak ia ketika merasakan saliva dari pucuk jari Arjuna menetes melewati dagunya. Yudistira menggigit bibir saat Arjuna kelewat luwes menghapus jejak saliva di dagunya pula mendorong lenguhnya yang hampir termuntahkan begitu saja kembali ke sedasar perutnya sendiri.

Meski demikian, Yudistira tak sanggup menahan desah ketika Arjuna menarik diri. Lelakinya itu kemudian menggosok-gosokkan pucuk hidung mereka. 

"Cantik banget, Tira." Napas panas Arjuna berlarian di wajahnya. Yudistira kalang kabut sebab ketika Arjuna berbicara, bibir itu menyentuh bibirnya sendiri. "Milikku. Cuma milikku."

Yudistira hanya mampu merintih panjang, sepasang matanya terasa berat, isi kepalanya kosong. Ditatapnya Arjuna dengan semelas-melasnya. "Juna, mau lagi ...."

.

.

Berciuman dengan Yudistira sama rasanya dengan mereguk candu. Arjuna mabuk kepayang, sumpah mati dengan gamblang ia mengaku sangat menikmati berciuman dengan Yudistira. Kalau-kalau ia diberi waktu sepanjang hidup hanya untuk meciumi Yudistira yang begitu ia kasihi, Arjuna akan bertekuk lutut dan merendahkan kepala; ia akan menyerahkan seluruh hidup untuk mengecupi Yudistira saja.

Masalahnya, masalahnya, ia tidak mau hanya dengan berciuman. Kejantanan di balik celana kain miliknya seakan-akan hampir mati, tak bisa bernapas; sempit sesak maunya segera menghirup udara bebas, juga menyambut Yudistira yang berantakan setengah mati di bawahnya. Mereka hanya berciuman, tetapi Yudistira datang sebagai akal-akalan iblis untuk membumihanguskan Arjuna berserta Arjuna kecil di dalam kepala yang tak punya kuasa. Yudistira terbaring hanya dengan sweter merah miliknya yang tak mampu berbuat banyak untuk menutupi tubuh. Belum lagi kedua bukit pipi Yudistira yang punya warna merah sama dengan sweter miliknya. Bibir Yudistira yang merah dadu basah berkilauan di bawah cahaya redup lampu kamar. Sepasang mata Yudistira sayu dengan wajah memelas yang membuat Arjuna hampir-hampir hilang akal.

Arjuna menelan ludah. Ditariknya napas panjang, lalu ia keluarkan dengan terburu-buru. Mereka hanya baru berciuman, juga persiapan singkat dengan membasahi jari-jemarinya, tetapi Yudistira hampir-hampir sudah berantakan sepenuhnya. Kalau setengah begini saja sudah hampir-hampir membuat Arjuna tidak waras, agaknya Arjuna bakal mampus betulan jika sudah menjamah seluruh tubuh lelakinya.

Di antara kedua kaki Yudistira yang dibukanya lebar-lebar, Arjuna duduk dengan nyaman. Ia sempat menyingkap sweter merahnya hingga setengah terbuka. Kainnya tergulung di atas perut Yudistira. Sehamparan kulit perut Yudistira yang tak pernah dihiasi luka itu ia kecup dalam satu tarikan napas. 

Jari pertama yang dikenalkannya pada Yudistira adalah jari manisnya. Sebagai seorang vampir, Yudistira hampir-hampir tak memiliki hangat tubuh. Hanya hangat yang samar-samar, barangkali hanya bisa dipicu dengan bersanggama sebab pada hari-hari biasa, kulit yang bersentuhan langsung dengannya itu tak punya apa pun selain dingin beku. 

Arjuna melirik pada Yudistira, tetapi ia tak menemukan keresahan apa pun di sana. Yudistira hanya balas menatap dengan sepasang matanya yang sayu, sedikit berair, juga hijau gelap. Ia bernapas lega. Tangan Arjuna yang lain membelai paha dalam Yudistira, menyalurkan hangat dan aman.

Beratus-ratus tahun melalui segala hal seorang diri, Yudistira perlahan-lahan merasa asing dengan banyak hal. Ia sadar harus hidup selayaknya manusia. Kadang-kadang, ketika yang bisa dilakukannya hanya melamun di bawah pohon tabebuya merah muda yang sedang mekar-mekarnya, ia bertanya-tanya kapan Arjuna akan terlahir kembali. Umur manusia memang singkat, tetapi kesendirian terasa begitu mencekik seolah-olah tak memperbolehkannya meraup napas.

Satu jari Arjuna yang masuk ke dalam tubuhnya terasa sama asingnya. Namun, kehangatan yang asing itu mengendap di sana. Ia tidak merasa sakit, hanya sedikit aneh yang menyenangkan. Lelebih dengan Arjuna yang begitu khidmat seolah-olah tengah mengambil mata pelajaran mengenal tubuh Yudistira Yogendra.

Tahu-tahu saja Arjuna sudah mengenalkan jari kedua. Rasanya lebih asing dan sedikit penuh. Jari-jemari Yudistira gelisah di samping tubuhnya, hanya mampu meremas udara kosong.

Yudistira payah di bawah tatapan Arjuna. Ia menggigiti bibir bawahnya sendiri. Tubuhnya perlahan-lahan terasa penuh. Sensasi nikmat memenuhi isi kepala. Yudistira merintih, Arjuna menyentuh lebih jauh.

"Kamu nggak apa-apa?" Arjuna bertanya sembari terus menggerakkan jarinya. Isi kepalanya protes hebat, tetapi Arjuna mati-matian mendorong ketidaksabaran hingga jatuh dari sana. Arjuna menunggu, tetapi bukannya menjawab, Yudistira justru menjawab dengan rintihan yang menyedihkan, yang membuat napas Arjuna seolah hilang di tenggorokan.

Arjuna mencari-cari. Hanya dengan mati-matian memusatkan perhatian mempersiapkan Yudistira-lah ia harus tetap waras. Arjuna menerobos lebih jauh. Ia pandang-pandangi dua jarinya yang hilang dan kembali dari dalam tubuh lelakinya. Arjuna pening bukan kepalang. Ia menyentuh satu titik tanpa sengaja, Yudistira bergetar hebat. Desahnya memantul di kamar Arjuna.

"Lagi, Juna ...." Suara Yudistira yang memelas seolah hilang arah hampir-hampir membutakan seisi pandangan Arjuna. "Mau lagi."

Yudistira ketagihan ketika Arjuna menyentuh titik yang nikmatnya ampun-ampunan. Hampir-hampir berteriak ia diserang kenikmatan beruntun. Arjuna menekan tanpa ampun.

Yudistira tersedak oleh ludahnya sendiri ketika Arjuna menerobos dengan ketiga jari tanpa aba-aba. Sepasang matanya terbelalak. Ia menatap langit-langit tinggi kamar Arjuna yang seakan berputar-putar di pandangannya. Arjuna masih menyentuh tanpa henti. Yudistira tiada mampu mendengar kata-kata apa yang dimuntahkan oleh mulutnya, tetapi tubuhnya tahu Arjuna baru saja memperkenalkan jari keempatnya.

Yudistira menggelinjang hebat. Kuping Arjuna panas bukan main mendengar desah panjang lelakinya. Yudistira tampak seperti orang yang mabuk kepayang di bawah kuasa keempat jemarinya. Arjuna tak mampu mendengar suara malam lagi. Semua yang mampir di kuping adalah Yudistira yang rintih menyedihkannya membuat Arjuna hilang akal; yang desah panjangnya membuat kejantanan Arjuna hilang kesabaran; yang lenguh tanpa dayanya membuat pandangan Arjuna hampir-hampir ditelan gelap seutuhnya.

Yudistira di atas ranjangnya adalah Yudistira yang ayu yang berantakan hanya dengan empat jari. Arjuna membasahi bibirnya sendiri. Ia terus menyentuh tanpa ampun, menelan semua Juna, Juna, Juna yang memabukkan. Sebelah tangannya mencengkeram paha dalam Yudistira sebelum ia tinggalkan untuk merampas habis kewarasan lelakinya lewat ciuman panjang. Yudistira melenguh dalam ciuman.

Arjuna menyambut kuluman penuh ketergesa-gesaan itu. Ia menyusupkan lidah ketika Yudistira kepayahan mendesah. Gigi taring kembar Yudistira hampir-hampir membunuh lidah Arjuna ketika ia menumbuk titik terdalam Yudistira tanpa ampun. 

Arjuna terus menciumi lelakinya. Tubuh Yudistira menggelinjang. Dadanya membusung hingga menubruk dada Arjuna sendiri. Ia melepas kuluman hanya untuk mengambil napas, lalu kembali pada bibir basah yang berantakan menerima ciuman demi ciuman. Yudistira menekan erat jari-jemari Arjuna di dalam tubuh seolah-olah tak ingin melepaskannya. Arjuna membuka mata, menatap-natapi lelakinya yang terpejam, setetes air mata melintasi bukit pipi, juga anak-anak rambut yang berantakan di dahi Yudistira.

Ketika Yudistira melenguh berantakan di antara kuluman, Arjuna menekan pinggul Yudistira dalam-dalam ke atas ranjang. Empat jarinya menekan jauh dan tanpa ampun. Arjuna melepaskan bibirnya dengan hati bergetar hebat ketika Yudistira mencoba meraihnya bersama dengan Juna Juna Juna yang begitu menyedihkan. Lalu, Yudistira mencapai puncak yang dicari. Lelakinya orgasme.

Arjuna seketika lupa pada jari-jemarinya yang masih terperangkap di dalam tubuh lelakinya. Wajah Yudistira yang tengah orgasme membuatnya sinting betulan. Yudistira-nya yang ayu, yang meneriakkan namanya dalam orgasme, yang ketika membuka mata masih mencari-cari kesadaran, Yudistira, Yudistira-nya ....

Arjuna menyambar kembali bibir Yudistira yang pada merah dadunya itu tersimpan candu paling berbahaya di seluruh semesta.

Bersama kesadaran yang masih mengawang di udara, Yudistira kewalahan mengimbangi kuluman lelakinya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, mendapati Arjuna yang begitu khidmat mencium dengan sepasang mata tertutup.

Ia berhasil mengumpulkan kesadarannya ketika Arjuna menjauhkan diri. Yudistira meringis ketika jari-jemari Arjuna pergi dari tubuhnya. Saat itulah Yudistira pula baru menyadari bagian bawahnya basah dan agak lengket.

Betapa memalukannya. Yudistira menatap takut-takut pada lelakinya. Namun, yang ditemukannya di sana hanyalah berahi yang kian pekat. Yudistira terkesiap.

Jari-jemari Arjuna membelai pinggul Yudistira, membuat gerakan memutar. Yudistira mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia telah disambut dengan senyum hangat lelakinya. 

"Kamu nggak apa-apa?" Arjuna bertanya dengan nada suara yang sama lembut dengan tatapan matanya.

Selain merasa agak risi dengan lengket di bagian bawah tubuhnya, Yudistira tidak merasa apa pun. Ia hanya ingin lagi. Maka, ia menggelengkan kepala. "Aku nggak apa-apa."

Lelakinya itu mengangguk. Lalu, ia dikecup dengan hangat di dahi, di pucuk hidung, di masing-masing kelopak matanya, pula di bibirnya. Sentuhan yang ringan itu membuat dada Yudistira yang bolong tak merasakan nyeri. "Aku boleh lanjut?"

Ah, Arjuna, Arjuna-nya yang selalu penuh perhatian. Beratus-ratus tahun bersama kesendirian kerap membuat Yudistira lupa bahwa lelakinya adalah sebaik-baik manusia. Ia yang hanya vampir dipandang-pandangi dengan penuh kehangatan juga kasih sayang itu nyaris melumpuhkan isi kepala. Arjuna memang selalu begitu. Lelakinya selalu memberikan seluruh isi semesta pada kedua tangannya. Arjuna selalu menyediakan rumah untuk kepulangannya.

Dengan kehangatan yang menyusupi hati bolongnya, Yudistira mengangguk. "Boleh."

Arjuna mengangguk, lantas membetulkan posisinya sendiri. Ia menurunkan celana kain, cukup untuk menurunkan pula celana dalamnya juga membebaskan kejantanannya. Arjuna bernapas lega. Ia memutuskan untuk tidak menarik lepas semuanya meski sedang tak dikejar-kejar oleh waktu.

Gemuruh di dadanya memekakkan telinga sampai-sampai Arjuna takut ia bakal tuli esok hari sebab Yudistira menatapnya, memandang-mandangi kejantanannya yang telah terbebas. Bagaimana lelakinya itu mereguk ludah pun tak alpa dari pandangan. Arjuna pening. Tangannya gemetar meraih kejantanan sendiri. Ia diawasi oleh lelakinya. Yudistira menatap setiap gerak-geriknya.

Dengan napas berat pula pandangan yang hampir-hampir gelap oleh berahi, Arjuna memasuki Yudistira dengan penuh perhitungan. 

Namun, rupa-rupanya Arjuna menghadapi kesilapan sebab Yudistira menjatuhkan air mata.

.

.

Potongan-potongan kehidupan menerobos masuk ke dalam isi kepala tanpa diminta. Yudistira dijejali memori dari beratus-ratus-ratus tahun kehidupannya seolah tak berkesudahan. Untuk kali pertama setelah panjang hidup yang dijalaninya, Yudistira sesak napas seolah-olah ia adalah manusia biasa. Ada yang mencengkeram lehernya meski Yudistira sendiri tak dapat melihat apa pun. Mulutnya tersumpal, ia tak mampu berteriak. Sepasang matanya menutup rapat, ia tak bisa membukanya.

Yudistira sekarat. Sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya dicerabut paksa. Mati mati mati. Yudistira seumpama tengah berada dalam episode pembinasaan dirinya sendiri.

Lalu, semuanya datang tumpang tindih di sebalik matanya. Yudistira melihat saat dirinya hanya manusia biasa: berdua bersama Arjuna sebagai manusia yang naif dengan cita-cita memperdamaikan dunia, lalu ia yang berdua bersama Arjuna memimpin suatu kerjaan, juga ia yang berdua bersama Arjuna sebagai pewaris takhta kerajaan. Kepala Yudistira berat ampun-ampunan. Ia curiga kepalanya itu bakal meledak kapan saja. Lalu, Yudistira melihat mereka yang lain: yang ia berdua bersama Arjuna hanyalah pengembara dan darah dan kematian dan jelaga dan amarah dan sepi dan dingin dan sendiri dan nestapa dan kutukan dan lara dan Yudistira adalah vampir yang terakhir di kawanannya.

Barangkali Yudistira harus bernapas napas napas selayaknya manusia, Yudistira sesak. Namun, ia vampir, ia tak tahu harus menggali di mana untuk bisa bernapas. Keping demi keping memori masih membanjiri isi kepala. Yudistira dipaksa melihat semata-mata bagaimana Arjuna menua lalu mati di pangkuannya, kemudian gelap gelap gelap, lalu Arjuna terlahir sebagai individu yang baru, lalu Arjuna menua dan mati, lalu Arjuna terlahir sebagai individu yang baru, lalu Arjuna menua dan mati, lalu ...,

"Tira? Tira?" 

Seseorang memanggilnya dari tempat yang begitu jauh, jauuuh, itu Arjuna. Meski dalam kegelapan, Yudistira tahu Arjuna mencari-cari di mana ia disembunyikan. Arjuna, Arjuna, Arjuna-ku. Mungkinkah ini saatnya Yudistira yang binasa lalu menyerpih bersama kenestapaan pula kenelangsaan yang hidup dan menjamur di bolong hatinya sejak beratus-ratus tahun yang lalu?

Perlahan-lahan, hangat mulai menyelimuti pucuk kepala. Ia turun dan turun hingga lambat-lambat menyentuh kedua kaki. Yudistira seolah-olah tengah ditarik paksa dari kehampaan yang tiada berujung. Lalu, ia kembali pada kamar Arjuna. Ia tidak bernapas, tetapi kelegaan membanjiri seruang dadanya. Ia tidak bernapas, tetapi Yudistira seolah mampu memuntahkan sesuatu yang mengendap di dada seakan-akan ia memang sesak napas.

Kurang dari satu jengkal dari wajahnya sendiri adalah wajah Arjuna. Kedua telapak tangan hangat bersarang di sisi-sisi wajah Yudistira. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba membuang keduka-dukaan yang entah sejak kapan tumbuh lebat di dadanya yang kosong. Ketika ia mengerjap lagi, setetes air mata melarikan diri.

Arjuna, yang matanya jatuh pada kesenduan milik Yudistira itu, mengucap dengan getir pada suaranya. "Tira? Kamu nggak apa-apa?" Pelan-pelan sekali Arjuna menghapus air matanya, seumpama sangat takut akan merusak Yudistira bahkan dengan sentuh lembut sekalipun.

Yudistira tidak memercayai suaranya sendiri, jadi ia hanya menggeleng kecil.

Kedua dahi bersentuhan diikuti pucuk hidung. "Kamu menangis."

Kalau-kalau lidah Yudistira berfungsi layaknya lidah manusia, ia sudah pasti merasakan pahit yang menggigit ketika Arjuna mengatakannya. Sebagai vampir, ia tak mampu merasakan pahit di lidah, tetapi kedukaan yang menenggelamkan sepasang mata Arjuna sama nelangsanya dengan hati bolongnya yang telah robek seluas semesta. Yudistira mengerjapkan mata, masih belum mampu membalas, dan air mata menuruni wajahnya lagi.

Ada kelukaan yang menyakitkan ketika jari-jemari Arjuna menghapus kembali air matanya. Lama keduanya saling menatap, saling menyelami duka yang tidak pernah ke mana-mana, lalu sama-sama menelannya bagai beling yang melukai sepanjang tenggorokan. Ia tak pernah menginginkan kesakitan yang ini, yang datang bagai tamu kurang ajar mengetuk pintu tengah malam tanpa tahu peduli apa yang tengah dilaluinya. Yudistira tak pernah menginginkan segala kelukaan yang telah ditelannya sejak beratus-ratus tahun. Ia menerima, ia biarkan kedukaan tumbuh di dalam dada bolongnya, tapi bukan berarti ia harus menanggung luka yang tiba-tiba bangkit ketika ia baru saja berpikir ada kebahagiaan di hidupnya yang sekarat. 

Yudistira melihat kedukaan di wajah dan mata Arjuna dan ia benci, benci benci benci benci benciiiiiiiii sebab lelakinya harus menanggung kedukaan yang sama.

"Kita berhenti aja ya?" Arjuna bertanya hati-hati. "Aku bisa peluk kamu sampai kamu baikan?" Lelakinya tampak meragu, tetapi Yudistira selalu tahu apa yang ada di dalam kepala Arjuna.

Maka, Yudistira mengambil langkah dengan mengalungkan kedua lengan di leher Arjuna. Ia memberikan tekanan pada tengkuk lelakinya sampai-sampai Arjuna tak punya pilihan kecuali merundukkan tubuh. Dada mereka bertubrukan.

"Nggak mau ...," ucap Yudistira sembari mengusap-usap kepala Arjuna. "Aku pengin lupa. Aku nggak mau berhenti."

Sebab kehangatan inilah yang selalu Yudistira impi-impikan selama beratus-ratus tahun kesendiriannya. Ia ingin direngkuh erat-erat hingga dadanya penuh; ia ingin dikecup lambat-lambat hingga kepalanya sunyi; ia ingin disentuh hati-hati hingga dukanya pergi. Yudistira ingin sedekat-dekatnya, selekap-lekapnya dengan Arjuna, lelakinya, semestanya, sebab hanya itulah alasan mengapa Yudistira bertahan, mengapa ia masih belum mati kedua kali, mengapa ia masih memanggil nama Arjuna tiap kali lelakinya bangkit lagi, sebab jika Yudistira berhenti ia hanyalah wadah yang isinya cuma keduka-dukaan. 

Napas panas Arjuna berhamburan di kuping. Lembut lelakinya mengucap seumpama menyentuh sedalam-dalamnya duka di hati Yudistira. "Pelan-pelan saja, ya, Tira? Aku nggak mau kamu terluka."

Yudistira mengangguk. Aku nggak pernah terluka, Juna, ia tak punya keberanian untuk mengucapkannya. Kamu nggak pernah melukaiku sebab kamulah satu-satunya juru selamat di kehidupanku yang menyedihkan.

.

.

Sebelum memutuskan untuk pindah rumah pula selama melakukan pekerjaan sebagai agen rahasia, Arjuna Arkana tak pernah diawasi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan tetangga barunya. Arjuna selalu memegang keyakinan tak berdasarnya bahwa laki-laki itu selalu mengawasi karena menyimpan suatu rahasia besar yang tak Arjuna ketahui. Sebab bagaimana mungkin seseorang yang wajah pula namanya tak tersimpan di dalam memori berani mengawasi dari bawah pohon tabebuya merah muda sepanjang waktu bagai setan? Bagaimana mungkin seseorang yang sejak kali pertama pertemuan mereka, selalu mengawasi dengan sepasang mata yang isinya hanya keduka-kedukaan? Yudistira Yogendra pasti tahu sesuatu. Sepasang mata yang mengawasinya itu menyimpan rahasia yang sebesar semesta. Lalu, pada rahasia itu, ada Arjuna Arkana yang terlibat di dalamnya.

Maka, ketika jawaban datang satu demi satu, Arjuna tahu ia telah melakukan hal yang tepat untuk membuka selebar-lebarnya tangan, seluas-luasnya hati, hanya untuk tempat kembali Yudistira yang hampir-hampir hilang arah. Ketika keduanya bertemu dalam rengkuh yang patah-patah penuh duka dan serpih hati yang berceceran, mereka hanya perlu menjahit satu demi satu pecahannya, satu demi satu kepingannya.

Di bawahnya adalah Yudistira dengan sweter merah miliknya yang tersingkap separuh. Yudistira menatap dengan sepasang mata yang lelah, tetapi sepercik cahaya pengharapan masih hidup di sana. Arjuna tahu ia tidak terlambat, masih banyak kesempatan yang diberikan padanya untuk menyulam benang merah di antara keduanya.

Malam itu, Arjuna Arkana akan menghamba pada Yudistira Yogendra lelakinya, kekasihnya. Arjuna mengecup dahi Yudistira; ia bisikkan terima kasih sebab Yudistira telah mengingatnya selama beratus-ratus tahun kehidupan dan hanya Yudistira-lah yang selalu memikirkannya lebih dari dirinya sendiri. Arjuna mengecup masing-masing kelopak mata Yudistira; ia bisikkan terima kasih sebab tetap bertahan meski telah melihat kengerian dunia lebih banyak dari semua orang dan tetap menatapnya dengan penuh kasih meski telah bersakit-sakit sekian lama. Arjuna mengecup masih-masing bukit pipi Yudistira; ia bisikkan terima kasih sebab selalu menyapa dengan senyum yang lembut meski telah babak-belur disiksa akal-akalan busuk semesta. Arjuna mengecup pucuk hidung bangir Yudistira; ia bisikkan terima kasih sebab meski Yudistira tidak bernapas, lelaki itu terus hidup dan hidup dan justru menjadi alasan Arjuna agar tak menjadi gila dan sama-sama hidup di atas roda kejam takdir. Arjuna mengecup bibir Yudistira; ia bisikkan terima kasih sebab Yudistira selalu menerima dengan hati yang luas pula senantiasa memanggil namanya dengan penuh kasih sayang. Arjuna mengecup sebatang leher Yudistira; ia bisikkan terima kasih meski Yudistira bukan manusia, ia adalah bukti sekuat-kuatnya cinta, sekuat-kuatnya akal manusia mampu membayangkan perjalanan hidupnya yang panjang dan penuh duka. Arjuna mengecup satu demi satu jari-jemari Yudistira; ia bisikkan terima kasih sebab meski semesta membunuhnya berulang kali, Yudistira tetap merengkuhnya dengan penuh kelembutan, Yudistira tetap menyambutnya dengan penuh kasih sayang, Yudistira tetap merengkuhnya dengan kehangatan yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.

Barangkali, Yudistira memang vampir, tetapi Yudistira selayaknya semanusianya-manusia yang selalu membanjirinya dengan kehangatan, yang selalu mengasihinya hingga Arjuna tahu bagaimana cara mengasihi dengan sama. Ada yang mekar di dalam hati tiap kali Yudistira menatapnya dengan penuh kasih. Ada yang hidup di dalam hati tiap kali Yudistira merengkuh untuk mencerabut kedukaannya. Yudistira adalah sebaik-baiknya rumah, sebaik-baiknya tempat tinggal, sebaik-baiknya pemilik hati yang merawat pohon kasih tanpa pernah Yudistira sadari.

Di bawahnya, Yudistira menatap dengan segala-gala kerapuhan yang siap hancur. Arjuna menumpu dengan tangan kanannya, merengkuh Yudistira yang seakan begitu kecil. Arjuna mengecupi sisi wajah lelakinya, berharap bisa menyalurkan rasa aman. Ia ingin Yudistira tahu betapa Arjuna mengasihinya. Ia ingin Yudistira tahu bahwa ia dan Arjuna-Arjuna yang pernah hidup dulu selalu mengasihi Yudistira seutuh-utuhnya.

"Maaf." Yudistira berbisik. Arjuna segera mengecup bukit pipi Yudistira yang masih sedikit basah bekas jejak air mata.

"Kamu nggak salah soal apa pun, Tira." Ia balas berbisik. Arjuna tetap merengkuh Yudistira dengan sabar, ia tahu segalanya tidak pernah mudah untuk Yudistira. Kamu cuma hidup, dunia yang terlalu kejam padamu. Sebab Arjuna tahu, masih banyak luka yang belum Yudistira ceritakan; masih banyak duka yang lukanya tetap basah di hati lelakinya.

Arjuna membubuhkan kecup panjang di dahi Yudistira ketika dirasakannya tubuh lekaki itu sudah tidak tegang lagi. Ia juga membelai pucuk kepala Yudistira berulang-kali. 

"Kita pelan-pelan aja, ya?" Satu kecup jatuh lagi di pucuk hidung bangir Yudistira. Lelakinya itu balas menatap dengan penuh pengharapan. "Bilang kapan pun kalau kamu mau berhenti. Okay?"

"Okay." Yudistira mengangguk. Senyumnya kecil, tetapi Arjuna merasa hangat, sadar bahwa lelakinya sungguh-sungguh menyetujuinya.

Maka, malam itu, Arjuna menghamba Yudistira kembali. Ia mengecup lambat-lambat pada bibir merah dadu lelakinya. Ia merasa-rasai ciuman itu dengan hati yang penuh, tanpa keterburu-buruan. Ia lumat perlahan-lahan sembari menumpahkan kasih tiap kali lidahnya menyentuh lebih dalam.

Arjuna lantas menatap-natapi Yudistira, lelaki yang paling cantik dari yang tercantik. Yudistira terbaring di bawahnya dengan bibir merah muda yang mengilat basah bekas kecupnya; kedua bukit pipi yang merahnya hampir-hampir sama seperti sweter miliknya; pula sepasang mata yang sayu yang berkaca-kaca yang penuh harap ingin disentuh lebih jauh. Jari-jemarinya Arjuna menemukan tempat pada pinggang Yudistira. Ia membuat gerakan memutar, merasa-rasai sehamparan kulit dingin yang kini telah terlampau familiar untuknya. Arjuna melemparkan senyum tipis sebelum kemudian merunduk untuk mengecup sebatang leher Yudistira. Lelakinya itu memang yang paling patuh. Sebatang leher itu diberikan cuma-cuma. Kepala Yudistira terlempar jauh ke belakang. Arjuna mengendus. Yudistira beraroma seperti tengah malam yang dingin dan kosong, tetapi Arjuna justru ingin mengendus lebih lama. Ia menjilat leher itu, merasa-rasai dingin, tetapi ia hanya kembali menjilatinya lebih lama lagi. Ketika ia menggigit di sana, Yudistira melenguh putus asa. Ada yang mekar di dalam hati Arjuna. Ia mengecup tiap titik, menggigit sebanyak yang ia mampu, dan meninggalkan jejak merah yang menyala di kulit pucat Yudistira.

Pada penjelajahannya, Arjuna menemukan tempat yang membuat Yudistira mendesah hebat. Tulang selangka yang menonjol itu ia kecup lagi dan lagi dan oh, bukan berarti Arjuna tak menyadari bagaimana kejantanan Yudistira mulai bangkit lagi, ia hanya berpura-pura tidak mengerti, lalu menggigit keras-keras di dekat tulang selangka itu. Yudistira merintihkan namanya bagai merapal mantra.

Senyum di bibir Arjuna mengembang sebab Yudistira begitu patuh tanpa tanya ketika ia meminta lelakinya menarik sweter hingga sebatas leher. Yudistira juga mengangguk saja ketika Arjuna bilang "pegang dulu ya, biar nggak turun lagi," sembari menuntun tangan lelakinya mencengkeram sweter yang dikenakannya itu. Seisi mulut serta tenggorokan Arjuna rasa-rasanya dilanda kemarau hebat sebab sehamparan kulit pucat Yudistira di bawah matanya itu seolah-olah telah menunggu begitu lama untuk disentuh dan dimiliki. Arjuna menelan ludah. Kemarau di mulut pula tenggorokannya kian parah. Dikecupnya perut Yudistira yang praktis kaku untuk satu sekon sebelum kemudian relaks sepenuhnya di bawah bibir Arjuna. Ia menebarkan kecup-kecup kecil pada setiap titik yang bisa dijangkaunya. Arjuna mengecup pusar, lalu turun dan turun sampai suara rintihan Yudistira semakin kacau, lalu berhenti sebelum ia benar-benar sampai pada kejantanan lelakinya yang belum bangkit sepenuhnya. Arjuna sengaja meloloskan napas panas, Yudistira menggelinjang hebat. Namun, Arjuna sengaja kembali merangkak naik. Kecupnya kembali merambati pusar, lalu pada kulit di bawah dada tempat tulang rusuk bersarang. Yudistira tidak pernah bernapas, tetapi gerakan-gerakan kecil di sela desah terburu-buru itu cukup membuat Arjuna ingin menyombongkan diri.

Lalu, bibir Arjuna berdestinasi begitu lama pada dada Yudistira. Ia mengulumnya bergantian. Dari sudut mata, ditangkapnya jari-jemari lelakinya yang resah pada ujung sweter. Arjuna menjilat bibirnya sejenak sebelum kemudian kembali pada dada Yudistira. Desah yang luber dari bibir Yudistira kian berantakan. Mendengarnya saja membuat jantung Arjuna bergemuruh hebat. Di sela-sela kegiatan mengulum dada Yudistira yang menggemaskan itu, Arjuna telan pula berahinya yang hampir-hampir membutakan mata. Ia sudah bersumpah akan melakukan semuanya dengan penuh kehati-hatian.

Arjuna masih mengecup ketika dirasakannya jari-jemari Yudistira mengelus lembut pada pucuk kepala. Ia mengintip, menemukan lelakinya dengan mata separuh tertutup dan bibir yang rapat, tetapi basah seperti bekas digigit. 

"Udah." Suara Yudistira pecah bersama desah. "Mau Juna."

Ia membiarkan jari-jemari Yudistira menyugar helai-helai rambutnya untuk beberapa saat sembari dibubuhkannya beberapa kecup singkat pada masih-masing dada lelakinya. Lalu, ketika Arjuna membetulkan posisinya kembali di antara kedua kaki Yudistira yang dibukanya lebar-lebar, kemarau di tenggorokannya kian menyedihkan. Yudistira berwajah ayu di bawahnya dengan sweter merah miliknya tersingkap sebatas leher, sepasang mata sayu hampir-hampir menutup, bibir merah muda separuh membuka, juga kedua bukit pipi yang merah membara. 

Arjuna hilang akal.

.

.

Bagi Yudistira, hal-hal paling membahagiakan dari kehidupannya yang sengsara adalah kelahiran kembali seorang Arjuna.

Semesta seolah membisik dalam rahasia, lalu menyanyikan lagu-lagu yang membuat bebungaan bersuka-cita. Lewat kabar yang diembuskan angin, Yudistira tahu lelakinya telah kembali lagi padanya.

Yudistira bukannya tak lagi mengenal kesepian, ia hanya terlalu akrab sampai-sampai tak lagi mengerti konsep kesendirian sebab ia memang selalu sendiri, tahun demi tahun, bebungaan tabebuya merah muda gugur dan mekar, Yudistira terlalu sering menelan kesendirian. Ia hampir-hampir lupa bagaimana caranya berbicara, tapi oh, jika ia lupa cara berbicara, ia tak akan mampu menyambut Arjuna. Maka, pada tahun-tahun bersama kesendirian, Yudistira mempelajari bahasa manusia yang berganti-ganti.

Arjuna selayaknya Arjuna-Arjuna yang dikenalnya sejak dulu, selalu menjadi Arjuna yang begitu mudah mengasihinya. Arjuna dengan mudah membawanya pada pelukan hangat yang asing untuk vampir seperti dirinya, tetapi begitu lekat dengan memori pula hatinya. Aku cuma vampir, Yudistira menyumpahserapahi seluruh isi semesta.

Aku cuma vampir, tetapi Arjuna selalu, selalu menerima dengan sama mudahnya, dengan sama hangatnya, dengan sama kasihnya, lalu aku bisa apa kecuali menyumpahserapahi semesta yang keparat ini?

Bahkan, meski Yudistira telah melewati beratus-ratus-ratus tahun dalam kesendirian, ia tak pernah terbiasa begitu dicintai oleh Arjuna bagai sekejap mata hanya untuk kembali ditenggelamkan dalam kesendirian untuk beratus-ratus tahun lagi kemudian.

Tapi sesakit-sakitnya, sesengsara-sengsaranya, sesesak-sesaknya, Yudistira akan menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu dan menunggu sebab kelahiran kembali Arjuna adalah kebahagiaan yang dirayakan semesta seisinya.

Maka, tugas Yudistira hanya harus menyambut kembali Arjuna pada kedua tangannya, lalu mencintainya sehebat-hebatnya hati bolong Yudistira mampu mencinta.

Hari ini, Arjuna kembali pulang padanya sebagai Arjuna Arkana yang hanya semanusianya manusia, tetapi mencintainya dengan sehebat-hebatnya manusia mampu mencinta.

.

.

Arjuna memasuki Yudistira dengan penuh kehati-hatian.

Meski demikian, tubuh Yudistira tetap menegang. Beratus-ratus tahun dalam kesendirian, tubuhnya lupa seperti apa rasanya disentuh begitu jauh. Isi kepala Yudistira luluh lantak, kewalahan menerima seluruh rangsangan yang diterima tubuhnya. Setiap kali Arjuna mendorong lebih jauh, sedikit demi sedikit, kepala Yudistira terlempar jauh ke belakang hingga lehernya berkeluk menyakitkan. Ia lupa total seperti apa Arjuna membentuk ulang isi tubuhnya. Ia lupa betulan seperti apa Arjuna mengobrak-abrik kewarasannya. Yudistira tak merasakan nyeri, tubuhnya memiliki ketahanan berkali-kali lipat lebih baik ketimbang manusia biasa. Namun, seluruh indra berfungsi berkali-kali lipat lebih baik pula. Semua titik tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan Arjuna membuatnya kepayang. Yudistira kewalahan. Ia merintih dan merintih dan Juna, Juna, Juna, ia seolah-olah melihat kembang api di sebalik mata.

Semua sensasi yang menyerang hebat itu membuat Yudistira menjebak kuat-kuat kejantanan Arjuna di dalam tubuhnya. Ia seperti mendengar Arjuna mendesah, tetapi kesadarannya masih mengawang. Tubuhnya belum terbiasa menerima kenikmatan yang menyerang bagai debur ombak yang tak tahu jalan pulang.

Perlahan-lahan ia gapai kesadarannya bersama cengkeram jari-jemari Arjuna di pinggulnya. Yudistira membetulkan posisi kepala. Di hadapannya adalah Arjuna dengan wajah serius seperti tengah mencoba menyelesaikan persoalan sulit dunia. Yudistira menggigit bibir saat Arjuna melirik dengan tatapan tajam yang membuat perutnya terasa aneh.

Lelakinya berhenti bergerak, barangkali menunggu ia terbiasa. Jari-jemari Yudistira menggapai-gapai, ditangkupnya kemudian wajah lelakinya itu. Arjuna praktis relaks pada tangannya. Lelaki itu bahkan mengusapkan lembut pipi pada telapak tangan Yudistira.

Bercinta dengan Arjuna rasa-rasanya seperti bolong di dadanya dijahit sedikit demi sedikit. Ada kelegaan seumpama ia pulang ke rumah. Ada kasih yang bersambut setelah beratus-ratus-ratus tahun dihadapinya bersama kesendirian. Ada kerinduan yang berbalas setelah begitu lama terpendam jauh di dalam dada.

Sebelah tangan Arjuna menangkup tangan Yudistira yang masih berada di sisi wajah lelakinya. Hangat tangan Arjuna menyentuh hingga sudut terjauh di dalam bilik-bilik hatinya. Yudistira sudah berjalan sejauh ini sendirian. Bersama lelakinya, ia akan baik-baik saja.

Arjuna merundukkan tubuh. Lelakinya itu menyambar kecup di lehernya lagi. Yudistira praktis memberi akses lebih banyak. Desahnya patah-patah. Tubuhnya bergetar hebat.

Kejantanan Arjuna yang sejak tadi berdiam diri di dalam tubuhnya mulai bergerak perlahan-lahan. Rasa-rasanya seperti Arjuna tengah memastikan ia tak terluka. 

Perbedaan suhu tubuh itu membuat Yudistira hampir-hampir hilang akal. Kejantanan Arjuna panas ampun-ampunan. Tiap geraknya seumpama tengah mencoba mencairkan beku di dalam tubuh Yudistira. Belum lagi lidah pintar lelakinya yang begitu menikmati lehernya. Yudistira menyerah pada desah. Kecup basah Arjuna di lehernya begitu kentara di telinga. Ia mendengar semuanya.

Tangan Yudistira dituntun untuk mengalung di leher Arjuna. Ia yang kewarasannya tengah diaduk-aduk tidak keruan hanya membiarkan saja. Sementara itu, Arjuna kembali menggerakkan pinggulnya. Kali ini ritme yang diciptakan lelakinya itu sedikit lebih cepat, menyetuh lebih jauh. Dunia seolah mendadak bisu, sunyi senyap. Yang berputar-putar di telinga hanyalah rintihannya yang putus asa.

Kecupan di lehernya mendadak lenyap. Meski dalam keadaan mata tertutup, Yudistira merasakan dengan jelas jari-jemari Arjuna yang sibuk memeta wajahnya. Arjuna bak pelukis agung yang pintar membuat hidungnya, lalu berhati-hati saat membuat sepasang mata agar sempurna, kemudian berputar-putar membentuk bukit pipi, dan penuh perasaan saat membuat bibirnya. Adalah Arjuna dengan sepasang matanya yang menatap penuh lembut memenuhi pandang ketika Yudistira membuka mata.

Jari-jemari Arjuna kini bermain-main pada sejumput hijau rambut Yudistira. Ada kelegaan yang tampak pada wajah lelakinya. Ah, Yudistira menyadari kini lelakinya itu boleh menyentuhnya di sudut mana pun, di titik mana pun, Arjuna akan selalu disambut dengan penuh suka. 

"Kamu cantik banget, Tira."

Pujian yang datang tiba-tiba itu justru dihadiahinya dengan desah semata. Namun, Arjuna tampak sudah menduga respons itu sebab lelakinya itu tiba-tiba mendorong pinggangnya kuat-kuat tanpa sekalipun memberi ampun. Yudistira terkesiap, tubuhnya ikut terdorong ke belakang. Belum sempat ia bertanya, Arjuna kembali menumbuk.

Sepasang mata Yudistira membuka lebar-lebar. Jari-jemarinya gelagapan, hampir-hampir tergelincir dari leher Arjuna. Sementara lelakinya tampak sangat menikmati dengan terus bergerak, menumbuk tempat paling nikmat yang membuat Yudistira mabuk kepayang.

"Juna, Juna ...." Ia merapal bagai mantra. Lehernya berkeluk menyakitkan, tetapi ia hanya bisa mendesah dan merintih dan mengerang dan Juna, Juna, Juna, dan Yudistira merasakan air mata yang berjatuhan melewati pipinya.

Napas panas Arjuna berhamburan di kuping. Lelakinya mengerang hebat. Yudistira hampir-hampir yakin dunianya mengalami kiamat. Ia bahkan tak sadar sejak kapan kakinya telah mengunci tubuh Arjuna. Di tengah-tengah serbuan kenikmatan yang menumpulkan kewarasan, Yudistira hanya ingin disentuh lagi lagi lagi, jangan berhenti, ingin dikurungnya Arjuna agar terus menyentuhnya hingga pagi datang.

Arjuna melahap habis bibirnya dalam ciuman yang berantakan. Gigi-geligi bertubrukan, air liur meloloskan diri, lidah bertemu dengan kepayahan, Yudistira melenguh putus asa. Aroma berahi pekat di antara keduanya, tetapi yang mampu dipikirkan otak kopongnya adalah bagaimana nikmatnya kejantanan Arjuna pula kuluman yang penuh ketergesa-gesaan itu. 

Yudistira berharap malam itu tak pernah berkesudahan.

.

.

Kalau-kalau hari itu Yudistira mengaku sebagai malaikat dan bukan sebagai vampir, Arjuna seyakin-yakinnya yakin akan percaya begitu saja, tak akan pernah ia meragu.

Sebab bagaimana mungkin Yudistira justru semakin ayu dalam keberantakannya?

Yudistira Yogendra, lelakinya, terbaring dengan keberantakan yang tidak masuk akal. Sepasang mata yang hijaunya gelap dimakan berahi menatap dengan sayu pula berkaca-kaca siap menjatuhkan air mata; hidung bangirnya memerah lucu; kedua bukit pipi merah padam; bibir merah dadu sedikit bengkak akibat dikecup habis-habisan. Anak-anak rambut lelakinya berantakan, sejumput hijaunya jatuh terlalu jauh dari sisi wajah. Arjuna Arkana adalah sepayah-payahnya manusia sebab ia ingin memuja lelakinya yang ayu dari yang paling ayu, yang cantik dari yang paling cantik, yang indah dari yang paling indah, oh, betapa inilah tujuan hidupnya: mengobrak-abrik kewarasan Yudistira agar lelakinya jatuh dalam berahi memabukkan agar semakin ayu semakin cantik semakin indah semakin hancur semakin membuatnya mabuk kepayang.

"Juna...." 

Oh, Yudistira yang begitu ia kasihi memanggilnya dengan penuh keputusasaan, kerapuhan, Arjuna mengecup bibir merah dadunya yang basah. Dihapusnya air mata yang jatuh menganak sungai melewati kedua bukit pipi lelakinya.

Tubuh Yudistira selalu dingin dan sepi. Rasa-rasanya seperti tengah malam yang habis diguyur hujan semalaman dan sisa dinginnya menusuk hingga ke tulang. Sebagai vampir yang tak lagi bernapas, Yudistira tak memiliki kehangatan yang bersisa. Arjuna pikir, ia akan terbiasa. Sesungguh-sungguhnya ia tak pernah mengira bahwa bercinta dengan Yudistira rasanya sama sekali lain dari sekadar menyentuh kulit dingin lelakinya. Tubuhnya yang panas dibakar berahi seolah-olah tunduk begitu saja ketika bersentuhan dengan tubuh Yudistira yang dingin. Kejantanannya kewalahan menerima dingin yang seolah-olah tak ingin melepaskannya dari sana. Kenikmatannya bagai senjata paling mutakhir untuk membunuh umat manusia.

Ketika Arjuna kembali menggerakkan pinggulnya, sepasang mata lekat memandang-mandangi seperti apa wajah lelakinya. Yudistira kadang-kadang menutup mata ketika Arjuna menumbuk penuh perhitungan pada titik yang tepat. Desah halusnya menggelitik kuping Arjuna, ia menumbuk lagi. Jika Arjuna menumbuk keras-keras, sepasang mata Yudistira membelalak lebar, lehernya berkeluk dengan kepala terlempar jauh ke belakang. Arjuna mendesah hebat, merasakan bagaimana dinding-dinding Yudistira menjebak erat kejantanannya di sana. Rintihan yang keluar dari bibir separuh membuka Yudistira itu serak seperti habis akal, tetapi keras seumpama putus asa ingin lagi. Maka, Arjuna mengabulkannya. Ia bergerak lagi dan lagi, menumbuk lagi dan lagi, lalu Yudistira akan menggumamkan namanya bagai mantra dari seorang yang hilang arah, lagi, lagi, Juna, lagi, Juna, Juna, Juna, dan ia akan membungkam isi kepalanya yang hanya ada Yudistira dengan membawa bibir lelakinya pada ciuman panjang.

Aroma percintaan pekat di udara. Yudistira terus merintih, meminta lebih banyak, menangis lebih keras, dan apalah Arjuna yang sama putus asanya sebab dirinya ini hanyalah manusia yang menundukkan kepala pada kenikmatan duniawi. Arjuna terus mengabulkan permintaan Yudistira. Ia menumbuk dengan dalam dan keras, ia mengulum bibir lelakinya dengan berantakan, ia mencengkeram pinggul lelakinya dengan semua tenaga, ia mengecupi dada lelakinya berganti-gantian dengan tidak beraturan, pula ia mencium sebatang leher lelakinya dengan ketergesa-gesaan. Di bawahnya, Yudistira memijat kejantanannya lebih erat. Jari-jemari dingin kewalahan menancapkan kuku-kuku pada bahu Arjuna seolah-olah hampir tak ada lagi kewarasan yang tersisa di kepala.

Dengan isi kepala yang berantakan seolah-olah hampir jatuh sepenuhnya pada berahi, Arjuna melepaskan kaki Yudistira dari sisi tubuhnya. Dibelainya paha dalam lelakinya ketika Yudistira menatap dengan kebingungan yang lucu. Lalu, kedua kaki itu ia gantungkan di bahu. Arjuna merendahkan tubuh, sengaja membuat kejantanannya melesak lebih jauh, serta mencerabut paksa kewarasan Yudistira dari akarnya sebab tempurung lutut lelakinya hampir-hampir menyentuh ranjang di samping kepala. Arjuna menatap-natapi wajah ayu Yudistira yang tunduk pada berahi. Lelakinya mendesah putus-putus, jari-jemari Yudistira menjenggut kuat-kuat seolah ingin mencerabut semua rambutnya dari kepala. Arjuna mendesis, merasakan kenikmatan yang membuat Arjuna-Arjuna di dalam kepala sinting betulan.

Yudistira tenggelam sepenuhnya pada kenikmatan. Rintihnya yang seumpama berada di ujung nyawa membuat api di dada Arjuna kian membara membakar seluruh tubuh. Arjuna mengerit gigi, pijatan yang terus-menerus diberikan Yudistira membuat kepalanya ingin pecah. Napasnya berhamburan. 

Arjuna ingin memiliki seutuh-utuhnya Yudistira. Bibirnya kembali pada bibir Yudistira yang telah menunggu. Ciuman itu berantakan dan tak kenal tempo, hanya menuruti nafsu yang pekat di lidah. Arjuna memaksa Yudistira menelan kembali semua desah putus asanya kembali ke dalam perut. Ia terus menumbuk, ikut menelan desah lelakinya yang luber ketika bibirnya melepaskan diri untuk sekadar mengambil napas. Yudistira menghambakan namanya, merintih dengan cara yang membuat Arjuna ingin menaklukkan semesta.

Yudistira mendesahkan namanya seolah tak ada lagi hari esok. Arjuna memaksakan diri untuk membuka mata, menatap-natapi bagaimana wajah ayu lelakinya yang ditelan kenikmatan. Yudistira masih menangis meski dengan kedua mata tertutup rapat. Bekas air matanya menganak sungai melewati kedua bukit pipi. Pada akhirnya, Arjuna kembali pada bibir merah dadu yang memabukkan. Ia sesap seluruh candu pula racunnya dari sana. 

Yudistira. Yudistira-nya. Yudistira yang ayu yang cantik yang indah yang hanya miliknya yang cuma untuknya yang sedih yang rapuh yang putus asa yang hanya mengingatnya yang cuma mengharapkannya. Hanya dengan melihat wajah lelakinya yang diselimuti berahi, yang menggantungkan kewarasan hanya padanya, Arjuna memilih untuk menyerahkan diri pada nafsu yang membutakan mata.

Pinggul Arjuna bergerak kehilangan ritme. Ia liar dan hampir-hampir melarikan diri dari kendali. Arjuna meraup bibir Yudistira pada kuluman demi kuluman, ia menolak memberi ampun. Ia telah mencicipi candu dari sana, maka ia hanya perlu menelan semuanya, ia akan mencuri semuanya dari sana dengan lidah serta bibirnya sendiri. Pinggul Arjuna mendorong kuat hingga tubuh Yudistira ikut terdorong. Leher lelakinya berkeluk menyakitkan, tetapi Arjuna menyempatkan diri untuk menggigit sehamparan kulit leher itu seolah-olah ialah vampir untuk saat itu saja.

Kupingnya berdenging panjang dan memekakkan. Dinding Yudistira dingin dan beku. Kenikmatan itu begitu pekat di belakang kepalanya sendiri. Jari-jemari Yudistira berlarian di punggungnya seolah-olah mencari-cari tempat menggantungkan kewarasan. Ada panas dan perih sepanjang kuku Yudistira mencari jangkar di punggungnya. Namun, Arjuna tiada peduli. Ia terus menumbuk meski dinding Yudistira seakan-akan ingin mematahkan kejantanannya. Bibir Arjuna kembali menemukan rumahnya pada bibir Yudistira yang basah, yang nikmat, yang candu, yang mengerang susah payah. Dada Yudistira menubruk dadanya sendiri, membusung tinggi bagai busur panah. Ketika Arjuna mengangkat kepala untuk mengintip, Yudistira menatapnya dengan sepasang mata yang basah. Lengan Yudistira menariknya kuat. Arjuna meremang ketika lelakinya mengendus sepanjang leher. Ia tak bisa berhenti. Jantungnya bekerja gila-gilaan saat lidah Yudistira menjilat panjang penuh perhitungan di lehernya. Arjuna mengerang, tetapi pinggulnya semakin liar.

Nyeri yang hebat di leher membuat sepasang mata Arjuna terbelalak. Yudistira tidak sekadar menggigit, tetapi juga mereguk darahnya. Ketika ia tersadar dari kabut yang memenuhi pandangan, Yudistira mencapai orgasme keduanya, semua tumpah di atas perut sendiri. Arjuna menyusul hanya dengan mendengar rintihan Yudistira di antara tegukan darah juga kejantanannya yang dipijat erat saat lelakinya mencapai pelepasan. Ada panas yang membara dari gigitan Yudistira. Di sebalik mata, Arjuna melihat bintang berguguran.

.

.

Cahaya bulan jatuh sebagai garis tipis dari celah sempit jendela, berhenti di dekat kaki ranjang. Yudistira menerima sweter bersih dari Arjuna setelah lelakinya itu membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Keduanya masih duduk di tepian ranjang Arjuna. Sisa percintaan masih terendus di udara jika kau benar-benar berusaha untuk menajamkan penciuman.

Berbanding terbalik dengan Yudistira yang sama sekali baik-baik saja tak terlihat kelelahan sedikit pun, Arjuna membawa secangkir teh hangat untuk dirinya sendiri. Ia agak pusing. Yudistira mengecupi bekas gigitnya sebagai permintaan maaf, tetapi Arjuna hanya menepuk-nepuk pucuk kepala lelakinya, bilang ia tak pernah mempermasalah apa pun soal itu.

Itu adalah dini hari yang tenang. Dunia begitu sunyi seolah-oleh satu-satunya suara yang bising hanya detak jantung Arjuna sendiri. Ia duduk bersisian dengan Yudistira, kedua bahu pula sepanjang kaki mereka saling bersentuhan. 

Sepasang mata Yudistira menatap ke kejauhan. Celah sempit jendela itu tak cukup menampakkan apa pun yang ada di luar sana, tetapi lelakinya seolah-olah tahu persis di mana letak pohon tabebuya merah muda. Yudistira tidak mengatakan apa pun soal itu, tetapi entah mengapa Arjuna, dengan keyakinannya yang tak berdasar, cukup percaya diri Yudistira tengah menatap pohon itu dari kamarnya.

"Juna pernah tanya kalau bunga itu gugur aku pulang ke mana, kan?"

Pertanyaan yang datang tiba-tiba dari Yudistira membuatnya terkesiap. Pandangan Yudistira masih lurus ke kejauhan, tetapi setitik kesenduan mampu ditangkapnya dari sana. Arjuna menatap jari-jemarinya sendiri. Ia mengiyakan pertanyaan lelakinya itu. "Maaf kalau saat itu aku nggak seharusnya seenaknya bertanya."

"Semua soal aku itu ya soal kamu juga, Juna." Meski kesenduan masih melapisi sepasang mata Yudistira, ada sesuatu yang begitu dekat dan hangat. "Dulu, kamu itu suka sekali berkebun."

Tanpa aba-aba, kepala Yudistira rebah di bahunya. Cepat-cepat lengan Arjuna merangkul pinggang lelakinya yang begitu pas di tangan seolah-olah itulah salah satu fungsi tangannya, untuk menyentuh dan merengkuh Yudistira selekap-lekapnya. Arjuna mendengarkan Yudistira yang bercerita soal ia yang pernah hidup di suatu waktu. 

Yudistira bilang, Arjuna saat itu senang sekali dengan macam-macam bebungaan. Kegiatan pagi di rumah kecil mereka diawali dengan menyiram tanaman berdua sambil berjemur di bawah sinar matahari yang hangat. "Itu sudah lama sekali. Aku masih manusia." Arjuna menyecap getir di lidah. "Tapi bahkan beberapa Arjuna setelah Arjuna yang itu pun masih suka berkebun."

Kata Yudistira, kehidupan mereka dekat sekali dengan bunga-bunga. Ia mengaku sudah biasa hidup ditemani dengan padang bunga, menyirami satu demi satu di pagi dan sore hari, lalu membuat mahkota bunga ketika sedang senggang, pula menanam bibit-bibit baru. "Kalau yang di depan rumah sekarang, aku sendiri yang tanam." 

Arjuna membiarkan satu tangannya yang bebas diambil oleh lelakinya. Yudistira memainkan jari-jemari mereka. "Soalnya Arjuna lama sekali nggak lahir. Aku nggak bisa merawat bunga sendirian." Dari sudut mata, Arjuna tak mampu melihat seperti apa wajah Yudistira. Namun, pahitnya begitu menusuk lewat jari-jemari yang saling bersentuhan. "Tapi aku nggak tahu harus apa kalau nggak ada bunga di rumah, rasanya seperti sendirian."

Setiap kali Arjuna memikirkan neraka apa yang harus dilewati Yudistira seorang diri selama beratus-ratus tahun, Arjuna semakin tak sanggup membayangkannya. Seperti apa harus memikul memori seorang diri tanpa benar-benar tahu kapan orang yang dicintai terlahir kembali? Napas Arjuna seolah tersangkut di tenggorokan. Ia membayang-bayangkan Yudistira yang berdiam diri di bawah pohon tabebuya merah muda selama bertahun-tahun, melewati musim demi musim bersama kesengsaraan. Memikirkannya membuat dada Arjuna seolah dirobek paksa sebesar-besarnya. 

Yudistira memang hanya vampir yang lidahnya tak lagi mampu bekerja dengan sempurna. Meski demikian, ia tahu Arjuna memikirkannya, ia tahu Arjuna bersedih hati atas apa-apa yang telah dilaluinya. Yudistira tahu kepahitan itu. Maka, ia membelai jari-jemari Arjuna dengan miliknya sendiri. "Kalau bunganya gugur, aku tinggal menunggu lagi."

Arjuna membisik-bisikkan kata maaf seperti memohon ampun. Ada kesengsaraan yang selalu basah di dalam dadanya. Yudistira menggigit bibir. Ia telah mereguk banyak sekali keduka-dukaan, tetapi melihat Arjuna-nya merasa bersalah terasa begitu berat seakan ia hanya manusia yang tak bisa bernapas. Yudistira menelan sejumput luka. "Kamu itu manusia, Juna. Manusia memang akan mati. Aku hanya masih belum bisa mati." 

Arjuna menatapnya dengan sepasang mata yang begitu terluka. Ada duri yang ikut tertelan, menusuk-nusuk di seluruh tubuhnya. Yudistira tak bisa berbuat apa-apa.

Kita telah melewati banyak sekali masa hidup di bumi, Arjuna. Namamu dan namaku tertulis bersanding-sandingan pada epos-epos yang telah lama ditelan waktu. Ada begitu banyak Arjuna dan Yudistira yang pernah hidup dan mati menuliskan cerita-cerita dengan mandiri. Ada begitu banyak Arjuna dan Yudistira yang pernah hidup dan mati memperjuangkan kisah-kisah mereka sendiri.

Semua yang masuk ke dalam isi kepala membunuh satu demi satu Arjuna kecil di sana. Kesengsaraan itu mencekik lehernya kuat-kuat. Arjuna sesak napas. Seluruh nelangsa yang dilalui Yudistira sangat menyiksa sampai-sampai ia yakin ia bisa binasa di tempat. Jari-jemarinya gemetar oleh sakit. Kepalanya berat seumpama ditindih beban seberat semesta. Arjuna hanya mendengarkan, ia tidak mengalami semuanya. Bagaimana dengan Yudistira ....

Segala-gala sakit yang menusuk di setiap sudut tubuhnya, ia redamkan dengan membawa Yudistira ke pangkuan. Lelakinya merengkuh erat tanpa diminta, barangkali kedua-duanya sama membutuhkan. Ia biarkan mereka saling menjahit luka, keping demi kepingnya.

Di pangkuannya, Yudistira beraroma sabun cuci baju yang familiar dari sweternya. Arjuna membubuhkan kecup berkali-kali pada pucuk kepala Yudistira. Hidungnya bersembunyi di antara helai-helai lembut rambut lelakinya.

"Aku ingin tahu semuanya." Arjuna bersuara. Masih ada getir yang tersisa di lidahnya. "Aku mau tahu semuanya, Tira, tolong ceritakan agar aku bisa mencintaimu dengan benar."

Yudistira menangis.

Tangisan tanpa suara itu justru merobek-robek dadanya tanpa ampun. Perihnya bagai luka basah yang masih baru. Arjuna merengkuh lebih erat. Ia mengucap maaf, memohon ampun sebab tak menemani Yudistira di kesendirian-kesendirian yang membinasakan; sebab ia hanya semanusianya-manusia yang pasti akan mati; sebab ia tak bisa memindahkan keduka-dukaan sebesar semesta yang dipanggul Yudistira ke bahunya saja.

Ketika tangis Yudistira berhenti bersama kepala yang mencari nyaman di bahunya, Yudistira bercerita dengan kepayahan.

Pada suatu hari ketika Arjuna mati di usia tujuh puluh dua, apa yang ditinggalkan lelaki itu adalah setumpuk buku-buku yang isinya cerita anak-anak. Arjuna pergi terlalu cepat. Yudistira bahkan belum sempat mempersiapkan hatinya sendiri. Rasa-rasanya baru kemarin sehelai putih muncul di antara hitam rambut Arjuna, lantas mengapa nyawa Arjuna sudah dicerabut hari ini?

Yudistira telah melewati begitu banyak kematian Arjuna. Ia telah melihat bagaimana lelakinya meregang nyawa di depan mata. Lantas, mengapa Yudistira selalu merasa seperti pertama kali mengalaminya? Mengapa sebagai seorang vampir, hati Yudistira tetap tumbuh dan berfungsi sebaik-baiknya hati manusia? Mengapa bukan Yudistira saja yang binasa dan lenyap dari dunia?

Semuanya adalah akal-akalan semesta yang kejam. Yudistira hanya setitik kecil yang bahkan tak bisa memutar takdir. Ia menghabiskan waktu dengan membaca dan membaca dan membaca dan membaca sampai-sampai buku yang ditulis Arjuna tak lagi menyisa apa pun. Yudistira tenggelam dalam kenestapaan. Rasanya seperti baru kemarin lelakinya mati di pangkuannya. Kalau-kalau mengikuti waktu manusia, Yudistira sudah melewati belasan tahun dalam kesengsaraan sejak Arjuna terakhir meninggalkannya. Mungkin, sebentar lagi. 

Mungkin, Arjuna akan lahir kembali tak lama lagi.

Tapi, semuanya memang cuma akal-akalan semesta yang kejam dan Yudistira adalah pion paling menyedihkan.

Arjuna tak kunjung lahir bahkan hingga bukan lagi puluhan tahun, manusia menyebutnya ratusan tahun. Semesta sunyi dan sepi dan dada Yudistira yang sudah bolong itu disusupi kesengsaraan semua-semua kedukaan yang disimpan semesta. Yudistira kepayahan, tetapi semua kesakitan terus tumbuh dan mekar lebat di dadanya. Arjuna belum lahir kembali. Arjuna belum lahir kembali. Arjuna belum lahir kembali.

Aku mau mati mau mati maumatimaumatimaumatimaumati.

"Tapi aku nggak mati." Yudistira menelan sejumput luka. "Aku bahkan nggak tahu kenapa aku nggak mati."

Semua usahanya untuk mati hanya berakhir kesia-siaan.

Yudistira ingat ia yang sengaja tak meminum darah apa pun sepanjang hari sepanjang bulan sepanjang tahun, tetapi ia tetap terjaga, ia tak mati, ia hanya sedikit sekarat. Yudistira ingat ia yang sengaja disiram matahari yang sedang panas-panasnya sepanjang hari sepanjang bulan sepanjang tahun, tetapi ia hanya sedikit terbakar, ia tak mati, ia hanya sedikit sekarat. Yudistira menyadari bahwa mau babak belur dan hancur lebur separah apa pun, ia tak akan mati. Ia tak boleh mati.

Tubuhnya direngkuh lebih erat. Putus asa Arjuna bersuara. "Apa aku nggak bisa menjadi vampir seperti kamu?"

Tira, memangnya nggak ada cara biar aku juga jadi vampir seperti kamu?

Mau di kehidupan mana pun, Arjuna memang selalu seperti itu. Barangkali itulah alasan kenapa Yudistira tak bisa mati. Satu-satunya yang mencegahnya agar tidak binasa adalah dirinya sendiri. Yudistira selalu takut jika ia mati dan lahir kembali, tak akan ada lagi Arjuna dan Yudistira yang bersama; tak akan ada lagi jalan bagi Arjuna dan Yudistira untuk bertemu; tak akan ada lagi takdir bagi Arjuna dan Yudistira untuk menyeberangi jembatan takdir yang sama. Maka meski seluruh dunia seisinya hanya kesengsaraan dan memori-memori lama-kelamaan membunuh isi kepala, Yudistira tetap memilih jalan yang itu, yang menyakitkan yang membinasakan. Yudistira ingin selalu menemukan Arjuna yang itu, yang hanya miliknya, yang hanya untuknya.

"Dunia nggak semudah itu untuk semua orang, Juna."

Sebab sejak awal, Yudistira adalah kelinci percobaan yang diidam-idamkan semesta. Pada suatu waktu, Arjuna dan Yudistira hidup pada dunia yang kejam, yang konflik pecah setiap waktu. Arjuna mati di tangan seorang bajingan. Yudistira sekarat di tangan seorang bajingan. Namun, kebajingan-kebajingan itu baru saja dimulai. Yudistira dijejali darah vampir di napas terakhirnya. Ia bangkit sedetik ketika jantungnya berhenti berdegup. Yudistira tak pernah ingin menjadi vampir, Yudistira tak pernah ingin hidup tanpa ketenangan, diburu-buru manusia seolah ialah vampir bajingan yang mereka cari. Yudistira hanya korban, tetapi ia terikat bersama kutukan hidup panjang tanpa bisa membinasakan diri sendiri.

Lalu, ia menatap-natapi wajah Arjuna yang sendu seumpama telah menelan begitu banyak luka dari yang seharusnya ditelannya. Yudistira mengecup lama pada bibir Arjuna. "Aku nggak ke mana-mana. Kamu bisa memilikiku sepanjang usiamu, Juna."

Tapi aku nggak bisa memilikimu sepanjang usiamu.

Pada rengkuh yang rapuh yang patah yang sakit oleh semesta, mereka saling mengisi bolong di dada. Waktu menjahitnya perlu seumur hidup, tetapi Arjuna tahu ia sanggup melakukannya. Ia akan mengumpulkan keping demi keping Yudistira yang berserakan di bawah pohon tabebuya merah muda, lalu disulamnya dengan darah dan detak jantungnya sendiri. Arjuna akan memeluk erat Yudistira tiap malam meski vampir tak membutuhkan tidur. Arjuna akan mencintai Yudistira sebagaimana Yudistira seharusnya dicintai.

Yudistira masih dingin di pelukan, tetapi ada luka yang sedikit demi sedikit disembuhkan. 

"Aku janji kalau sudah mati nanti, aku bakal cepat lahir lagi."

Yudistira tertawa dengan mulut terbuka. Sepasang gigi taring mengintip dari sana. Arjuna mengecup lama pada dahi lelakinya, disematkannya kasihnya yang meluap-luap agar Yudistira tahu ia mengasihi lelakinya sepanjang nyawa.

Yudistira menatap dalam-dalam pada sepasang matanya. Arjuna ikut tenggelam bersama kasih yang mekar perlahan-lahan di dada yang bolong. "Suatu hari nanti saat kamu terlahir kembali, Arjuna, aku akan mempelajari bahasa yang kamu gunakan, aku akan mencari tahu namamu, dan kita akan bertemu lagi sebagai Arjuna dan Yudistira yang sama-sama saling mengenali di dalam hati."

Notes:

AKHIRNYA fengfik ini selesai juga. ide soal juna manusia dan yudis vampir sudah lama ada di kepala. ketika ditulis, aku selalu pengin nambah, jadi nggak selesai-selesai:")

lalu, saat menulis ini, aku merasa kesenduannya makin lama makin pekat. aku memutuskan untuk menulis kekacauan pikiran yudis karena bagiku dia agak kompleks dan nggak stabil di sini. aku juga menulis ini sebelum ada qna soal siapa yang milih melupakan dan dilupakan, jadi mohon dimaklumi yaa TvT

aku juga berterima kasih buat mayo yang sehari-hari aku rusuhin selama aku nulis ini. makasih banyak selalu menerima yapping-ku hshs

juga buat teman-teman di dc sanot yang oke banget itu:9 tiada hari tanpa membahas sanot kesayangan ini:9

ada ilustrasi yang aku komis khusus ke emakku purp, gambarnya ada di x aku ya kalau mau lihat

terima kasih buat kamu yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. semoga lekas bertemu lagi dengan tulisanku yang lain.

 

silakan sapa aku di x, NRaslain