Actions

Work Header

#Xavtober

Summary:

Day 1: Mind Break + Non Con
Day 2: Blood play + Cutting
Day 3: Consensual non con + Praise kink
Day 4: Extreme Edge Play + Face Sitting
Day 5: Yandere Dynamics
Day 6: Body Swap + Teasing

Notes:

kalo ada tema yang bikin kalian gak nyaman, gak usah dibaca ya, dldr aja

Chapter 1: Day 1 #starfish

Chapter Text

Xavier berdiri di samping ranjang, kemeja putihnya tidak terkancing, memperlihatkan garis otot yang tegang di bawah kulitnya. Manik safirnya bersorot dingin, tidak seperti biasanya—bukan lagi tatapan lembut yang biasanya ditujukan, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih lapar. “Rafayel sayangku,” bisik Xavier rendah. “Berhentilah melawan. Aku hanya ingin kamu mengerti.” 

Pupil Rafayel membulat lebar, napasnya tersengal di antara bibir yang sedikit terbuka. Tubuhnya terbaring telentang di atas seprai sutra yang kusut, tangannya masih mencoba mendorong dada Xavier menjauh, tapi kekuatannya melemah. "Xavier... tolong," gumamnya, suaranya pecah antara ketakutan dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat darahnya mengalir cepat. Tapi Xavier tidak mundur. Sebaliknya, ia menangkap pergelangan tangan Rafayel dengan satu tangan, menekannya ke atas kepala, sementara tangan lainnya meluncur ke bawah, menyusuri lekuk pinggang Rafayel yang ramping.

"Aku tahu kamu menginginkannya," bisik Xavier sontak membuat bulu kuduk Rafayel merinding. Matanya yang biru safir itu menelusuri tubuh Rafayel, seolah-olah ia adalah mangsa yang siap dilahap. Kemeja putihnya tergantung longgar, memperlihatkan dada yang naik-turun pelan diikuti deru napas berat, dan celana panjangnya yang ketat menunjukkan bukti hasratnya yang membengkak. Dengan gerakan cepat, Xavier menarik kaus Rafayel ke atas, memperlihatkan kulit halus yang pucat, putingnya yang mengeras karena dingin ruangan—atau mungkin karena sentuhan Xavier yang terlalu kasar. Kain itu sejenak tertahan di pergelangan tangan Rafayel, lalu dengan sengaja Xavier mengikat bahan katunnya melilit tangan Rafayel.

Rafayel menggeliat di bawah tekanan Xavier, pergelangan tangannya kini terikat erat oleh kain kausnya sendiri, membuatnya tak bisa lagi melawan secara fisik. Tubuhnya gemetar, campuran antara ketakutan dan panas yang mulai merayap dari perutnya ke seluruh ujung-ujung saraf. "Xavier... ini salah... lepaskan aku," bisiknya lemah, matanya yang biasanya penuh semangat kini berkaca-kaca, tapi Xavier hanya menyeringai miring. Ia beralih menyusuri garis perut Rafayel yang rata, menelusuri lekuk pinggulnya hingga mencapai pinggiran celana dalamnya.

"Salah? Aku sangat tahu apa yang kulakukan dan apa yang kamu inginkan," gumam Xavier. Ia menarik dengan kasar celana Rafayel ke bawah, memperlihatkan ereksi Rafayel yang sudah mulai bereaksi terhadap sentuhannya—keras dan berdenyut, meski pikiran Rafayel berteriak menolak. Xavier membungkuk, napas panasnya menyapu kulit sensitif di sana. Rafayel seketika menegang, meski tubuhnya merespon lebih cepat, mendekat lebih rapat ke arah Xavier. "Lihat ini? Tubuhmu jujur, sayangku."

Kepala Rafayel menggeleng cepat, mencoba menyangkal, tapi saat bibir Xavier menyentuh ujungnya—lembut dulu, lalu lebih dalam, mengisap dengan ritme yang lambat tapi tak kenal ampun—pikirannya mulai kacau. Sensasi itu seperti api yang membakar, membakar perlawanannya sedikit demi sedikit. "Tidak... ahh... Xavier, hentikan..." gumamannya pecah menjadi erangan yang tak bisa ia kendalikan. Tubuhnya mengkhianatinya, pinggulnya naik secara insting, mencari lebih banyak kontak. Xavier tertawa pelan, tangannya meremas paha Rafayel, membuka kakinya lebih lebar sambil lidahnya bekerja keras—menjilat dan menggigit ringan hingga Rafayel merasa dunia berputar.

Xavier naik ke atas, mulutnya meninggalkan bekas basah di perut Rafayel, lalu ke dada, menggigit putingnya yang mengeras hingga Rafayel menjerit pelan. "Kamu milikku, Rafayel. Biarkan aku mengingatkanmu soal ini." Tangan Xavier meluncur ke bawah, jarinya menyusup ke dalam Rafayel—satu dulu, lalu dua, mempersiapkannya dengan gerakan memutar yang kasar tapi tepat sasaran, menyentuh titik-titik sensitif yang membuat Rafayel kehilangan napas. Setiap dorongan membuat pikiran Rafayel semakin kabur; perlawanannya yang tadi tegas kini berubah menjadi racauan tak jelas, matanya mulai kosong, fokus hanya pada kenikmatan yang membanjiri.

"Aku... aku tidak... oh Tuhan..." Rafayel menggeleng, tapi tubuhnya mendorong dirinya sendiri ke jari Xavier. Pikirannya mulai buyar—gambar-gambar perlawanan hilang, digantikan oleh gelombang euforia yang membuatnya lupa siapa dirinya. Xavier menarik jarinya, menggantikannya dengan penisnya sendiri, mendorong masuk dengan satu tusukan dalam yang membuat Rafayel menjerit. "Ya, begitu... rasakan aku, Rafayel. Biarkan pikiranmu hanya berisi tentangku."

Ritme Xavier semakin cepat, tubuhnya menekan Rafayel ke ranjang, setiap dorongan seperti palu yang memecah dinding pertahanan terakhir Rafayel. Bersamaan tempo hentakan yang tidak teratur, Rafayel merasa dirinya hilang—ketakutan berubah menjadi keinginan buta, napasnya tersengal dalam erangan yang tak lagi menolak, malah meminta. "Lebih... Xavier... lebih dalam..." gumamnya merintih. Logika sudah meninggalkannya, digantikan oleh Xavier hanya Xavier—pemiliknya, penguasanya. Ia menyerah sepenuhnya, tubuhnya bergetar saat klimaks mendekat, dan Xavier menyeringai puas—tahu bahwa ia telah mencuci pemahaman Rafayel, membuatnya menjadi miliknya selamanya.

Saat Xavier akhirnya melepaskan diri, Rafayel terbaring lemas, napasnya berat, tapi senyum samar di bibirnya menunjukkan bahwa pikirannya tak lagi melawan—hanya pemujaan buta terhadap pria yang telah menghancurkannya dengan kenikmatan. "Bagus, sayangku," bisik Xavier, mencium keningnya. "Sekarang, kamu mengerti, bukan?"

Rafayel terbaring di sana, tubuhnya masih bergetar pasca-gelombang kenikmatan yang baru saja menghantamnya. Napasnya pelan tapi berat, dada naik-turun seperti ombak yang belum reda. Matanya yang tadi kosong kini mulai fokus kembali, menatap Xavier dengan pandangan yang berbeda—bukan lagi ketakutan, tapi kerinduan yang mendalam, seolah-olah pria di depannya adalah satu-satunya pusat orbitnya. Tapi tangannya masih terikat di atas kepala, kain kaus yang kusut itu mengikat pergelangan tangannya erat. Ia masih merasa terkurung meski hatinya sudah menyerah.

"Xavier..." gumam Rafayel pelan, suaranya merengek seperti anak kecil yang memohon. Ia menggeliat pelan, mencoba menarik tangannya tapi sia-sia. Kulitnya masih sensitif, setiap gesekan seprai membuatnya menggigil. "Lepaskan... lepaskan ikatanku. Aku ingin menyentuhmu. Tolong..."

Xavier, yang masih berlutut di antara kaki Rafayel, menyeringai lebar. Matanya yang biru safir itu berkilau puas, melihat bagaimana Rafayel yang tadi melawan kini memohon dengan manja. Ia menyentuh dagu Rafayel dengan jari telunjuknya, mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu. "Oh? Sekarang kamu ingin menyentuhku? Baru saja kamu bilang 'hentikan', tapi lihat sekarang—merengek seperti ini."

Rafayel menggeleng pelan, pipinya memerah karena malu dan sisa hasrat yang belum padam. "Aku... aku ingin merasakanmu. Tanganku sakit seperti ini. Xavier, sayang... lepaskan aku. Aku janji aku tidak akan melawan lagi. Aku ingin memelukmu, menyentuh dada itu... kulitmu yang hangat." Suaranya semakin lemah, tapi nada merengeknya semakin kuat, matanya berbinar penuh permintaan. Tubuhnya bergeser mendekat, pinggulnya menyentuh paha Xavier secara tidak sengaja, membuat ereksinya yang tadi lemas kembali bereaksi.

Gelak tawa Xavier bergema di ruangan yang sunyi. Ia membungkuk, mencium bibir Rafayel sekilas—cukup untuk membuat Rafayel mengerang pelan dan mencoba mendekat lebih lagi. "Baiklah, sayangku. Karena kamu memohon begitu manis." Dengan gerakan lambat yang sengaja menyiksa, Xavier meraih kain kaus itu dan melepaskannya, membiarkan tangan Rafayel jatuh bebas ke samping.

Begitu bebas, Rafayel langsung bergerak. Tangan-tangannya yang gemetar menyentuh dada Xavier, telapaknya menyusuri garis otot yang tegang, merasakan panas kulit di sentuhannya. "Akhirnya..." bisiknya, suaranya penuh kelegaan. Ia menarik Xavier lebih dekat, memeluk lehernya dan menariknya turun hingga tubuh mereka menempel lagi. Bibirnya mencari bibir Xavier, menciumnya dengan rakus, sementara tangannya meluncur ke bawah, meraih pinggang Xavier dan menariknya lebih rapat.

Xavier membalas ciuman itu tak kalah ganas, tangannya memeluk pinggang Rafayel yang ramping. "Sekarang kamu benar-benar milikku," gumamnya di antara ciuman. Rafayel hanya mengangguk, pikirannya sudah hilang lagi dalam lautan hasrat, tangannya menjelajahi setiap inci tubuh Xavier seolah tak pernah puas. Malam itu baru saja dimulai, dan Rafayel tahu, ia tak akan pernah ingin berhenti.

—end