Chapter Text
Hari itu disambut pagi yang tenang seperti biasanya, hanya terdengar suara Cruel dan Deon yang asik bermain petak umpet disalah satu ruangan di mansion mereka. "Hyung tunggu!" ucap Deon sembari mengejar Cruel. Cruel hanya menampilkan wajah mengejek kepada adiknya. "Kejar aku kalo bisa A-!" Saat membalikkan tubuhnya, sebuah surat mengenai wajahnya. Deon yang melihatnya kemudian tertawa. Cruel sendiri menggerutu kesal, ia kemudian menurunkan surat itu dari wajahnya dan membaca tulisan dipojok atasnya.
"For Mr. & Mrs. Hardt," bacanya perlahan. Cruel kemudian melambaikan tangan pada adiknya. "Aku harus memberikan ini kepada Ayah dan Ibu," ucapnya pada Deon. "Ikut!" potong Deon sebelum Hyungnya dapat mengatakan apapun lagi. Cruel hanya tertawa kecil, kedua kakak beradik itu kemudian pergi menuju kantor Ayah mereka sembari bergandengan tangan.
Tok tok tok...
"Ayah, ada surat," ucap Cruel sembari berjalan masuk dengan tenang. Sedangkan adiknya, Deon langsung berlari kecil menuju Ibu mereka yang sedang memilah dokumen. Ayah mereka hanya menatap bertanya pada Cruel dan mengulurkan tangannya meminta suratnya. Cruel pun memberikannya. Setelahnya, ia dan Deon pamit keluar untuk bermain kembali. "Surat apa?" tanya Nyonya Hardt. Sang kepala keluarga hanya menggelengkan kepalanya tak tahu. Ia kemudian membuka surat itu. Tepat setelah membacanya, dua pasang netra emerald itu membelalak kaget.
Perhatikan para maid kalian dengan seksama. Salah satu nyawa anak kalian dalam bahaya
Membacanya, sepasang suami istri itu kemudian tertuju pada sosok putra bungsu mereka, Deon Hardt. Putra mungil mereka yang manis berada dalam bahaya. Mereka langsung memerintahkan para pengawal untuk memperketat penjagaan mereka terhadap Deon. Hal ini membuat kedua kakak beradik itu merasa tidak nyaman saat bermain. Apalagi tak lama setelah itu, Nyonya dan Tuan Hardt melarang Deon bermain diluar kamarnya.
Keduanya juga mengurangi jumlah maid yang berinteraksi dengan Deon. Bahkan Nyonya Hardt tidak segan-segan memecat maid yang terlihat mencurigakan dimatanya. Keduanya fokus terhadap putra bungsu mereka hingga mereka melupakan satu hal-anak sulung mereka, Cruel.
Cruel yang tidak tahu apa-apa pun hanya bisa diam dan mengangguk patuh pada perintah orang tuanya. Hari-harinya dia habiskan untuk belajar, belajar dan berlatih. Deon yang dilarang bermain diluar menyebabkan Cruel menjadi lebih pendiam. Ia pun tak mempertanyakan kenapa orang tuanya melakukan hal itu. Perhatian orang tuanya pun semakin lama semakin terfokus pada adiknya, ada saat dimana ia merasa tersisihkan. Namun ia segera menghilangkan perasaan itu, ia menganggap bahwa karena Deon lebih lemah darinya maka ia harus mewajarkan hal ini. Bahwa fokus utama kedua orang tuanya pada adiknya adalah hal yang paling normal di dunia.
Hari demi hari berganti, keadaan mansion Hardt semakin lama semakin terasa dingin dan sunyi. Cruel juga samakin lama semakin merasa kesepian. Para pelayan yang mengurusi kebutuhannya semakin lama semakin terlihat aneh. Senyuman mereka terasa palsu. Cruel juga sering mendengar bisik-bisik diantara para pelayannya yang kasihan pada dirinya. Namun Cruel mengabaikannya segera. Ia memilih fokus pada studinya.
Tak lama setelah surat itu tiba, Cruel mulai merasa sakit. Awalnya, ia hanya merasa mual dan pusing, namun rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Setiap makanan yang ia konsumsi membuatnya semakin lemah. Suatu malam, tubuhnya mulai demam tinggi, menggigil kedinginan di bawah selimut tebalnya. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya, namun tidak ada satu pun pelayan yang peduli. Bahkan, mereka hanya berdiri di luar kamarnya, berbisik, menertawakan penderitaannya dengan dingin.
Cruel mulai berhalusinasi, bayangan Deon dan orang tuanya seolah datang ke kamarnya, namun ketika ia mencoba menggapai mereka, bayangan itu menghilang. Tubuhnya semakin lemah. Namun, tidak ada seorang pun yang datang menolong. Para pelayan yang harusnya menjaga kesehatannya kini adalah bagian dari rencana yang mematikan, bersekongkol untuk membunuhnya perlahan-lahan. Mereka semua terlibat, dengan senyuman yang penuh kepalsuan, berpura-pura tak tahu apa-apa.
Di sisi lain mansion, ayah dan ibu Hardt terus sibuk memastikan keselamatan Deon. Mereka menjaga interaksi Deon dengan para maid agar seminimal mungkin, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil Deon diawasi ketat. Namun, dalam fokus mereka yang terpusat pada Deon, mereka sepenuhnya melupakan Cruel, yang semakin tenggelam dalam sakit dan kesepian.
Cruel terus berbaring di kamarnya. Tubuh kecilnya menggigil meski selimut tebal membungkusnya. Sudah berhari-hari dia merasa lemah, rasa sakit yang semakin merayap dari dalam tubuhnya. Setiap napas yang ia hirup terasa berat, seolah udara di sekitarnya menekan dadanya tanpa ampun. Tidak ada suara riuh, tidak ada tanda perhatian dari siapa pun. Dunia seolah mengabaikannya, sama seperti keluarganya yang terfokus pada adiknya, Deon.
Di tengah penderitaan itu, Cruel mulai melihat hal-hal aneh. Bayangan hitam yang muncul di sudut-sudut kamarnya, menunggu dalam diam, tanpa menyentuhnya. Mereka tampak seperti sosok berjubah hitam, dengan mata yang tak terlihat di balik kegelapan yang menutupi wajah mereka. Sosok itu hanya berdiri, memandangnya tanpa ekspresi. Awalnya, Cruel berpikir itu adalah halusinasinya karena demam tinggi. Tapi sosok-sosok itu tak pernah pergi. Dan kemudian, ada satu sosok lain. Ia berbeda. Di antara para bayangan yang diam, muncul sosok dengan sayap besar, hitam, yang berkilau di bawah sinar bulan yang menembus jendela kamarnya. Sosok itu tidak berbicara, hanya duduk di dekat Cruel, menontonnya dengan tatapan yang aneh, seolah menunggu sesuatu.
Sosok bersayap itu datang setiap malam, selalu mengawasi dengan tenang, senyumnya tipis tapi dingin. Ia menonton pertunjukan ini, seolah-olah melihat Cruel dalam penderitaannya adalah hiburan yang menarik. Setiap kali Cruel merintih atau berbisik lemah, sosok itu hanya mengamati, tanpa memberikan bantuan. "Berapa lama kau bisa bertahan, anak kecil?" Suara dalam kepala Cruel seperti bisikan angin. Sosok itu bertanya-tanya, seolah ini hanyalah permainan baginya. Racun yang ada dalam tubuh Cruel semakin menyebar, melemahkannya perlahan. Tidak ada dokter yang datang.
Tidak ada obat yang diberikan. Semua pelayan-pelayan yang di mansionnya bersekongkol, hanya mengabaikannya. Hari demi hari berlalu, dan Cruel semakin tenggelam dalam penderitaannya. Demam membuat pikirannya kabur, tubuhnya bergetar dalam sakit yang tiada akhir. Dia mulai berbicara dengan sosok-sosok di kamarnya, mencoba mencari penghiburan, walaupun dia tahu dalam lubuk hatinya bahwa mereka tidak akan menjawab. Sosok bersayap itu tersenyum setiap kali Cruel berjuang untuk menarik napas. Seolah menunggu kapan pertunjukan ini akan berakhir.
Hari kesepuluh tiba, dan tubuh kecil Cruel sudah hampir menyerah. Matanya setengah tertutup, hanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Namun, dia tetap bertahan, seolah masih berharap seseorang akan datang menolongnya. Mungkin Deon. Mungkin orang tuanya. Siapa saja.
Tapi tidak ada yang datang.
Salah seorang pelayan, yang merasa muak dan takut tertangkap basah, akhirnya mengambil tindakan sendiri. Dengan tangan gemetar, ia mendekati ranjang Cruel dan menatap anak itu yang sudah setengah sadar. Tanpa berkata apa-apa, pelayan itu meraih leher Cruel dan menekannya perlahan. Cruel, yang sudah lemah dan tak sanggup bergerak, hanya bisa menatap langit-langit, napasnya semakin tersendat.
Di sudut ruangan, sosok bersayap itu hanya tertawa kecil, menonton pertunjukan yang tiba-tiba berakhir dengan cara yang tak terduga. "Ah, rupanya sudah waktunya," gumamnya dengan senyum sinis. Dia cukup kecewa karena pertunjukkannya dihentikan secara paksa. Namun hal itu tetap menghibur dirinya.
Acta es fabula
Cruel menghembuskan nafas terakhirnya dalam kegelapan dan kesendirian. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli. Tiga hari berlalu sejak kematian Cruel. Tubuhnya yang membeku dan tak bergerak masih terbaring di tempat tidurnya. Baunya mulai tercium oleh beberapa pelayan, namun mereka semua berpura-pura tidak ada yang terjadi, karena mereka tahu ini adalah bagian dari rencana yang mereka jalankan. Tidak ada seorang pun yang memanggil dokter. Tidak ada tangisan, tidak ada perhatian.
Sesuatu yang aneh mulai mengganggu ayah dan ibu Deon. Mereka menyadari bahwa mereka tidak melihat Cruel selama beberapa hari. Tak ada laporan dari pelayan yang menjaga Cruel. Deon sendiri tak menyadari apa yang terjadi pada kakaknya, karena ia sudah tidak berinteraksi sejak dikurung di kamarnya. “Dimana Cruel?” Ibu mereka bertanya sambil melihat ke arah pelayan. Namun, para pelayan tampak bingung, atau setidaknya berpura-pura bingung.
Akhirnya, ayah mereka memutuskan untuk memeriksa langsung ke kamar Cruel. Saat mereka membuka pintu kamarnya, pemandangan yang mereka lihat menghantui selamanya. Cruel terbaring di tempat tidurnya, tubuhnya tak bergerak. Wajahnya pucat, dingin, tak bernyawa. Bekas air mata yang mengering masih terlihat di pipinya. Mata yang dulu penuh kehidupan kini tertutup rapat, seakan-akan tidur dalam keabadian.
"CRUEL!" Ibu mereka berteriak, berlari ke sisi anak sulungnya, mengguncang tubuhnya yang tak lagi merespon. Ayah mereka berdiri di pintu, wajahnya tak mampu menyembunyikan keterkejutan dan rasa bersalah yang mendalam.
“Bagaimana ini bisa terjadi...?” bisik ayah mereka, suaranya bergetar.
Ketika seorang dokter akhirnya dipanggil, sudah terlambat. Cruel telah mati selama tiga hari. Tidak ada yang menyadari bahwa racun perlahan-lahan menghabisi nyawanya, sementara seluruh keluarga sibuk memperhatikan Deon. Deon yang berdiri di ambang pintu kamar kakaknya, tubuhnya gemetar tak percaya. Mata Deon terbuka lebar, menatap kakaknya yang diam di tempat tidur. Kakak yang dulu selalu tersenyum, selalu menjaga dirinya dengan tenang dan sabar, kini telah tiada.
