Work Text:
Hari ini hari kamis, hari paling membosankan. Dua jam sejarah, tiga jam matematika, tiga jam fisika, dan dua jam kimia dalam satu hari. Sangat membuat jenuh. Ditambah teman sebangkumu yang tidak berangkat karena demam akibat hujan-hujanan kemarin sore saat pulang sekolah hanya menambah penderitaanmu. Kau hanya bisa berharap hari ini Pak Kusnadi—guru sejarahmu—berbaik hati tidak memberikan tugas hafalan yang dapat dipastikan tidak akan tuntas tepat waktu.
Namun laksana menemukan semanggi berdaun empat, teman sebangku Benedict tampaknya juga tidak berangkat, membuatmu tidak sendiri dalam kesepian temporer ini. Tanpa ragu, kau berbalik badan dan bertanya, "Ben, mau duduk disebelahku? Temanku tidak berangkat, mungkin sakit" ucapmu kepada Benedict yang sedang sarapan. "Oukay" balasnya disela kunyahan sandwich tuna mayo yang jujur saja lebih terlihat seperti makanan kucing.
Benedict mengambil tasnya dan pindah satu bangku kedepan. Memaju-mundurkan kursinya untuk mengakomodasi kakinya yang sangat panjang agar bisa masuk ke bawah meja. Dengan cepat ia sadar bahwa kursinya terlalu tinggi, sehingga kakinya tidak bisa masuk ke bawah meja.
Benedict dengan cepat menelan semua sandwichnya dan berkata, "Kursi temenmu tinggi banget, kakiku ga bisa masuk meja. Mau tukeran nggak?" Tawarnya. "Boleh sih, tapi mepet tembok. Kamu mau?" Jawabmu. "Hooh ndak papa. Itu lebih baik daripada kudu duduk miring sepanjang hari," sambil membawa tas, Benedict beranjak dari kursi dan bertukar tempat duduk denganmu.
Tak lama setelah itu, bel sekolah berbunyi dan pelajaran berjalan seperti biasanya. Satu-satunya yang tidak biasa adalah Benedict, ia terus-menerus membuka handphonenya tiap dua menit sekali. Kau menjadi penasaran. Dengan hati-hati, kau mengintip dari ujung layar. Video yang terpampang di layar handphone Benedict membuatmu membelalakkan mata.
Tidak akan ada seorang pun yang bisa menduga bahwa Benedict, si ketua kelas dan siswa teladan sedang menonton video porno! Biarpun tidak ada audio yang terdengar, setelah kau cermati lagi, video yang Benedict tonton bergenre femdom. Nothing extreme, sih. Hanya seorang laki-laki yang diikat di kursi sembari diberi handjob oleh mistress-nya. Walaupun Benedict lumayan pemalu, ia adalah natural leader. Tidak akan ada yang bisa menebak bahwa tipe wanita impiannya justru yang jauh lebih dominan darinya.
Tanpa banyak basa-basi, kau berbisik, "Ben, kamu lihat apa sih?" Benedict terperanjat. Handphonenya hampir saja terlempar dari tangannya. Walaupun kau sudah tahu jawabannya, tetap saja Benedict yang salah tingkah sangatlah menggemaskan. Pipinya memerah, mirip seperti saat ia terkena sunburn karena lupa pakai sunscreen sebelum upacara. Benedict dengan cepat menutup layar handphonenya. "Aku ga nyangka, ternyata tipemu yang seperti itu. Kukira karena kamu selalu jadi leader, kamu juga prefer memimpin kalau dalam urusan ranjang. Ternyata tidak juga ya," godamu.
"Jangan bilang siapa-siapa, please.." Benedict sangat malu. Ia memalingkan wajahnya menghadap tembok, menghindari tatapan intens yang—jujur saja—membuatnya sedikit terintimidasi. Kulit terangnya membuat rona yang menjalar dari pipi hingga leher terlihat jelas. Kau terkekeh kecil, "Aku nggak sejahat itu" balasmu.
"...mau coba nggak?" Tanyamu.
"Apa?" Jawab Benedict dengan polos
Untuk menghindari perhatian Pak Kusnadi, kau berbisik "Aku mau kasih kamu handjob, kaya di video barusan. Mau nggak?" Ucapmu. Kau meletakkan telapak tanganmu di salah satu paha Benedict, mencoba menggodanya. "Aku juga bisa loh, bikin kamu jerit-jerit keenakan kaya cowo itu" rayumu.
Bagai tersihir, tanpa pikir panjang Benedict menjawab, "...boleh" benar-benar gila. Kau tersenyum, "Pinternya," Dipuji seperti itu membuat Benedict merinding. "Jangan berisik, ya? Ribet kalau ketahuan Pak Kusnadi" bisikmu. Benedict mengangguk patuh. Ia pelan-pelan membuka sabuk dan resletingnya agar tidak mengeluarkan suara.
Matamu sedikit membelalak saat Benedict mengeluarkan penisnya. Dengan perlahan, kau membelai penis Ben, membuatnya tegak sempurna. Kau mendekatkan mulutmu ke telinga Benedict dan berkata, "Whoa, besar banget, Ben," bisikmu. Benedict tidak menjawab dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
Tanpa berkata apapun, kau mengumpulkan precum yang sedikit demi sedikit keluar sebagai lube. Tiap kali jarimu menyentuh kepala penisnya, bisa terlihat jelas bagaimana bulu roma Benedict di belakang lehernya berdiri, seirama dengan gerakan tanganmu. Benedict merasa sangat nervous, baru pertama kali ia melakukan hal seperti ini dengan seorang perempuan, terlebih lagi temannya sendiri.
Genggaman erat tanganmu di penis Benedict membuatnya sedikit pusing. Ia bahkan tidak pernah menggenggam penisnya seerat ini saat masturbasi. Benedict merasa ia bisa cum kapan saja. Sungguh memalukan. Dengan jahil, kau mengecup daun telinga Benedict dan berkata, "Jangan keluar dulu sebelum aku ijinin" bisikmu. Benedict patuh. Jika ia diminta untuk memberikan seluruh dunianya padamu sekarang, ia pasti akan melakukannya. Hanya kau yang ada di pikirannya.
Setelah puas bermain dengan batangnya, tanganmu naik ke bagian kepala. Menekan pucuknya dengan telapak tanganmu. Benedict menggeliat tidak nyaman di tempatnya, berusaha melampiaskan kenikmatan yang intens itu dengan menggenggam ujung meja kuat-kuat hingga ujung jarinya memerah.
Gerakan memutar tanganmu di kepala penisnya membuat kaki Benedict gemetar, ia berusaha merapatkan kakinya, "Please- aku- aku udah ndak kuat- hnnh!-" Benedict merengek. Walaupun ia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya, terlihat jelas kalau seluruh leher dan wajah Benedict merona, lebih merah daripada apel fuji.
"Aku- hnngh! aku mau keluar- aku mau keluar!" Benedict berbisik lebih keras. Ia histeris. Takut ketahuan tapi pada saat yang bersamaan, ia ingin ada yang melihatnya keenakan di tangan temannya sendiri. Seperti lonte amatir, diberi handjob setengah hati di tengah pelajaran cukup untuk membuatnya kewalahan.
Sayangnya hari ini bukan hari keberuntungannya. Tepat saat Benedict akan cum, bel istirahat berbunyi. Bersamaan dengan orang-orang yang meninggalkan kelas, tanganmu juga meninggalkan penisnya yang dengan paksa menariknya turun dari puncak kenikmatan yang hampir diraih. Mata Benedict juling ke belakang, mulutnya terbuka lebar namun tak ada suara apapun yang keluar selain deru nafasnya yang memburu.
"Kenapa..?" Tanya Benedict dengan putus asa. Matanya berkaca-kaca, membuatnya sedikit mirip anak anjing yang direbut makanannya.
"Aku harus pergi setor uang danusan kemarin," jawabmu dengan riang tanpa rasa bersalah. Namun sebelum kau beranjak dari kursi, Benedict menahan pergelangan tanganmu. "Kamu.. bakal tanggung jawab soal ini, 'kan?" Benedict memelas. Mungkin Benedict akan tantrum jika kali ini ia juga ditolak.
"Of course I will" Jawabmu singkat. Tanganmu yang kering mengacak rambut Benedict dengan gemas. "Punyamu udah nggak tegang tuh, jangan lupa naikin lagi resletingnya. See you later benben"
Benedict speechless, ia masih belum sepenuhnya mencerna semua yang terjadi pagi ini. Ia menarik kembali resletingnya, berharap tidak ada yang melihat apapun yang terjadi di pojok kelas pagi ini. Paling tidak ia tak lagi terlalu mengantuk untuk menjalani pelajaran-pelajaran hari kamis yang menguras tenaga.
