Work Text:
“Jangan lihat ke atas, Eren.”
“Kenapa?”
“Jangan lihat ke atas…”
Suara aneh itu kembali menghantui pikirannya. Terlebih ketika dia mulai berpikir dirinya akan berhenti mendengar bisikan-bisikan dan gedoran pintu yang seharusnya tidak pernah ada itu.
Tunggu, apakah pintu itu baru saja berbisik padanya?
Tidak, tidak. Dia mulai kehilangan dirinya.
Atau justru mencapai dirinya yang sebenarnya? Dia tak bisa membedakannya.
“Kau hanya takut, Eren.”
Akan apa?
“Kau akan baik-baik saja.”
Tangan Levi terasa dingin dalam genggamannya.
“Aku akan terus bersamamu.”
Dia tidak yakin akan hal itu.
“Levi, dia akan datang…” suaranya bergetar.
Seharusnya dia siap. Dia sudah menyiapkan dirinya seumur hidupnya. Dia sudah menyiapkan dirinya untuk membantai monster berdarah dingin yang telah merebut segala yang dia miliki.
“EREN!”
Suara ibunya tidak pernah bisa berhenti terngiang di telinganya.
Begitu pula pemandangan mengerikan di rumahnya. Di tempat yang dulu adalah rumahnya. Tiga tubuh tak bernyawa bergelimang darah. Dan yang pliang mengerikan adalah dia mengenal ketigaya.
Bukan. Yang paling mengerikan adalah hanya dirinya yang selamat tanpa bisa mengingat apa yang telah terjadi.
“Eren, kau akan baik-baik saja. Jangan lihat ke atas.” Suara tegas Levi sama sekali tidak menenangkannya.
“Aku akan membunuhnya… makhluk itu…!”
Genggaman tangan Levi semakin lemah.
“Aku mencintaimu, Eren…”
“Tidak. Tidak… tidak, ini tidak boleh—kau…!”
Dia sudah memohon pada Tuhan, pada dewa, pada siapapun yang bisa dia ingat, jangan biarkan ini terjadi lagi! Dia muak dengan pemandangan merah yang akan terus terpatri dalam ingatannya tanpa bisa memanggil kembali potongan yang hilang di dalamnya!
“Maaf, aku tidak cukup kuat. Aku mencintaimu, Eren. Jangan lihat ke atas…”
“Jangan lihat ke atas, Eren sayang.”
“Kenapa?”
Hentikan, hentikan, hentikan! Dia sudah memohon sepenuh hatinya, dia sudah siap untuk menukar nyawanya! Hentikan waktu, hentikan darah Levi, hentikan napasnya, apapun! Dia bersedia kembali ke waktu ketika Levi sama sekali tidak pernah menyatakan cintanya daripada harus seperti ini!
“Dia tidak suka dilihat…”
“Siapa?”
Tangan dalam genggamannya jatuh lemas. Dia telah kehilangan Levi.
“Jangan lihat ke atas…”
“Jangan lihat ke atas…”
“Jangan lihat ke atas, dia tidak suka dilihat.”
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Eren mendongakkan kepalanya, menatap nanar sosok di atas sana hanya untuk menyadari bahwa seluruh langit-langit rumahnya dilapisi oleh cermin, seakan-akan untuk memperingati orang-orang yang dulu tinggal disitu bersamanya akan makhluk berdarah dingin yang akan datang dan menebar bau darah serta melukis sebuah karya agung bertema macabre dari korban-korbannya.
Kenyataan menerpa Eren layaknya badai salju.
Makhluk yang selama ini dia kejar hanyalah di sebrang cermin itu.
Dirinya, kini tengah menyeringai lebar.
.
.
.
“Aha… ketemu kau.”
END
