Actions

Work Header

Shackles

Summary:

Kyungsoo benci harus terbangun dalam keadaan masih hidup, padahal dia berharap dia mati saat terlelap.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Kyungsoo sungguh ingin mati. Demi apapun, dia ingin menemui Tuhan untuk menyangsikan semua yang terjadi dalam hidupnya.

“Ya! Bangun!”

Entah sudah keberapa kali Kyungsoo selalu membuka mata untuk menjalani penyiksaan setiap harinya. Dia tidak tahu kapan ini akan berakhir. Dia tidak tahu kapan tepatnya bisa bebas. Kyungsoo terbangun—lagi-lagi disaat ia baru tidur sekitar dua jam lamanya; setelah dipukuli habis-habisan kemarin, setelah dipaksa melayani nafsu bejat orang-orang ini semalam.

Kyungsoo pasrah saat Kris menjambak rambutnya, membuat badannya yang dipenuhi lebam dan memar jadi terseret di lantai.

“Kau tidak boleh terlambat.”

Persetan. Kyungsoo tidak bisa melawan lagi saat Kris kembali mencumbui dirinya; bibirnya, lehernya, dadanya, semua bagian tubuhnya yang dia anggap seubah ekstasi. Mereka—laki-laki di rumah ini, yang mengaku sebagai keluarganya—tidak pernah puas.

“Ah—” Kyungsoo melenguh saat telunjuk Kris menerobos masuk lubangnya. “—kumohon berhenti. A—aku lelah, A—Appa.”

Appa—Kyungsoo geli sendiri saat mengucap panggilan itu. Walaupun, mereka memang tak punya hubungan darah sama sekali. Tapi, Kyungsoo tidak bohong jika dia memang lelah, lelah batin dan lelah fisik. Mata sayunya memandangi langit-langit gudang tempatnya beristirahat ini. Ruangan sempit yang selalu didatangi laki-laki tak punya moral, meskipun mereka memakai dirinya di tengah udara kembab dan suasana kotor ini, tidak ada yang peduli selama nafsu itu terpuaskan.

“Mm? Kau bilang apa?” Kris berbisik di sela ciuman kasarnya, ia kini memagut, melumat, dan menginvasi bibirnya yang sudah membengkak, seolah mengeklaim, seakan mematenkan—bahwa Kyungsoo tak berhak atas dirinya sendiri. “Lelah? Kau berani bilang lelah padaku?!”

Namun, tiba-tiba saja Kyungsoo terperangah saat Kris buru-buru melepas celananya. Ia hanya bisa diam sebab sudah berkali-kali melawan pun tak ada hasilnya. Ia tetap kalah. Kyungsoo sudah pernah meronta, tapi berakhir ditampar keras-keras. Kyungsoo sudah pernah memberontak, tapi dada dan perutnya ditendang membabi buta. Ia kewalahan sendiri. Jadi, tidak ada pilihan lain selain menerima takdir Tuhan yang sebengis dan sekejam ini.

Kyungsoo membelalak saat Kris membalik tubuhnya—tubuh telanjangnya, karena dia tak pernah diperbolehkan untuk mengenakan sehelai benang pun selama di rumah ini—dengan cukup mudah. Ia meringis, ia merintih, dan menangis saat Kris mulai menghujamkan penisnya, untuk terus merobek dan mengoyak duburnya.

“AKH! SSSHHH—SAKIT!”

Kris justru menyeringai, “Sudah berapa kali pun, kau masih merasa sakit. Oh, memang luar biasa lubangmu ini!” Kemudian, dia tertawa. “Kyungsoo, kau hanya diciptakan untuk menjadi pelacu, yang hidup hanya untuk dipakai dan dinikmati.”

Kyungsoo benci dirty talk yang selalu didengarnya setiap mereka menjajah tubuhnya. Ia nyaris membenturkan kepalanya sendiri ke dinding jika Kris tidak meraup kembali bibirnya. Kyungsoo nyaris gila dan dia sudah berkali-kali berusaha membunuh dirinya sendiri. Di sela pemikiran itu, Kris ternyata sudah melepas ciumannya.

“Appa—hhh,” Suara serak Kyungsoo jadi melemah, tapi bagi Kris itu seubah desahan. “A—aku mohon, he—hentikan.”

Kris mendadak tuli, ia mengabaikan Kyungsoo dan malah mempercepat temponya hingga anak tirinya itu berteriak kesakitan.

“AH! AKH! AH!”

Setiap hentakan Kris, badan Kyungsoo selalu tersentak maju dan mundur—ini kasar, ini menjijikkan, dan ini mimpi buruknya.

“Appa akan sampai sebentar lagi—uh, Sayang.”

Benar. Tiga detik kemudian, Kris melenguh sambil menarik kedua putting Kyungsoo, lalu ia sengaja menyemprotkan spermanya di dalam lubang Kyungsoo dan segera mengeluarkan penisnya yang tadi perkasa sekarang loyo. Cairan putih kental itu pun merembes keluar, membasahi kedua bulatan pantat Kyungsoo yang sekal, bahkan meluber sampai ke pinggangnya.
Kyungsoo lemas bukan main, dia sibuk mengatur nafas ketika Kris menepuk pipinya agar dia tetap tersadar.

“Jangan pingsan. Kau harus pakai ini di dalam seragam sekolahmu.” Kris pergi sebentar sebelum kembali dengan dildo dan cock-ring. Kyungsoo ingin menolak, tapi ia hanya sanggup mendelik dan menggeleng saat Kris memasangkan kedua toys itu; satu di penisnya, satu lagi di lubangnya. “Nah, nanti biar Sehun yang memegang kendali atas dirimu. Dia punya remotenya, jadi kau tidak bisa sembarangan orgasme.”

Kyungsoo benar-benar tidak bisa berkutik, dia sungguh tidak sanggup melakukan apapun sekarang. Jadi, saat tangan-tangan besar Kris menyeret badannya keluar dari gudang ini, Kyungsoo pun hanya bisa menurut. Sepersekian detik kemudian, mereka sampai di ruang makan dan sudah menemukan kakak-kakaknya—Chanyeol, si sulung, dan Sehun, si nomor dua—sedang menyantap sarapan mereka.

“Sekarang, kau harus makan.”

Kris lalu mendorong Kyungsoo hingga ia jatuh tersungkur di lantai, kemudian diejek Chanyeol dan Sehun.

“Aku ambilkan makanannya dulu.” Sehun bergegas ke dapur, meskipun mulutnya masoh mengunyah. Dia kembali dengan mangkuk seng berisi bubur abalone yang selanjutnya dia angsurkan menuju Kyungsoo, di lantai. “Eat now, kita hampir terlambat.”

Kyungsoo menanggguk begitu saja—sebab dia sedang kelaparan. Tidak peduli dia sekarang direndahkan karena harus makan seperti anjing. Kyungsoo menyangga tubuhnya dengan kedua tangan, sementara mulutnya sudah melahap bubur abalone di mangkuk tersebut. Ia memang kesulitan, tapi Kyungsoo jadi tersedak saat tangan seseorang malah menekan kepalanya hingga wajahnya kini dipenuhi bubur.

“Enak?”

Chanyeol bertanya, tapi Kyungsoo mana bisa menjawab? Kyungsoo lega saat Chanyeol akhirnya menjauhkan tangannya dari kepalanya.

“Sayangnya, aku bukan anak sekolahan lagi. Kalau masih, aku pasti akan mengerjaimu supaya Sehun tidak mengerjaimu sendirian.”

Kris memperhatikan anak-anaknya yang kegirangan. Dia tertawa saat Kyungsoo meluruhkan air matanya.

 

***