Actions

Work Header

Trimester Ketiga

Summary:

Bertemu kembali dengan saya. Ini part terakhir dalam serie ini. Iyalah, mana ada Trimester ke-empat.

Saya masih menggunakan kosa kata yang diulang-ulang. Saya tidak bisa menyastra seperti dulu, karena kebanyakan nulis memakai bahasa laporan //sigh

Silahkan dibaca dengan imajinasi masing-masing, kalau sekiranya ada yang aneh dan termaafkan, iyain aja biar cepet //plakk

Akhir kata, selamat membaca. -aiko

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

※sebuah persembahan untuk mereka yang membuat saya kembali semangat nulis. Saranghae.

T R I M E S T E R    K E T I G A 

 

Sudah hampir 2 minggu ini Siyang tidak bisa tertidur nyenyak. Meskipun sudah memejamkan mata, namun rasa kantuk tak kunjung datang. Meski sudah dikelilingi bantal empuk—sehingga kasur penuh dengan bantal dan membuat Jingwu mengungsi ke kamar tamu, tetap saja tak membuat Siyang nyenyak dalam tidurnya.

Saat hendak tidur, ada kalanya ia harus mengganti posisi tidur hingga sepuluh kali. Pernah sekalinya mengantuk dan bisa tertidur pulas, rasa ingin ke kamar mandi membangunkannya, hingga mau tak mau Siyang harus beranjak dari kasur. 

Kabarnya, susah tidur adalah hal yang sering ditemui pada orang hamil trimester akhir—tiga. Maka itu, Siyang maklum, dan pasrah jika tiap malam untuk mencari posisi tidur yang enak. 

Ada cara yang lebih cepat membuatnya tertidur; Jingwu mengusap punggungnya, hingga Siyang bisa lebih rileks untuk tidur. Namun itu hanya bertahan dua minggu awal kehamilannya memasuki bulan ke 7, karena Jingwu terlihat kurang tidur akibat tidur yang kurang nyenyak kala harus satu kasur dengan Siyang. Ia harus bekerja di luar rumah setiap harinya dan Jingwu lebih membutuhkan tidur yang berkualitas lebih dari dirinya yang seharian berada di rumah—kecuali untuk urusan Rumah Sakit.

Awalnya Siyang menawarkan diri untuk mengungsi ke kamar tidur tamu, namun Jingwu mencegahnya, dan menawarkan diri untuk menjadi relawan yang tergusur tempat tidurnya di kamar yang memang jarang sekali ditempati, dan terletak agak jauh dari dapur.

Ditengah usahanya mencari cara agar kantuk lekas datang, ia mendengar suara pintu terbuka dengan seberkas cahaya dari ruang tamu, masuk menerangi kamar yang sudah gelap karena lampunya dimatikan seluruhnya. 

“Jingwu?” ujarnya kala melihat sosoknya berjalan mendekat ke arah kasurnya.
“Kupikir kau sudah tidur,” balas Jingwu duduk di sisi benteng Siyang yang terbuat dari bantal dan guling. Ia mengambil posisi di hadapan Siyang. Handuk masih tersampir pada bahunya dengan rambut licin masih basah—Jingwu baru saja selesai mandi. 

“Kau sendiri belum tidur?” Siyang berusaha duduk—susah payah—menyandarkan punggungnya pada headbed.
“Aku besok libur,” ujar Jingwu seraya duduk setelah menyingkirkan dua tiga bantal—jika tidak demikian, bagaimana ia bisa duduk mendekati Siyang, “susah tidur ya?” tebak Jingwu tepat sasaran.

Siyang hanya mengangguk untuk merespon pertanyaan dari Jingwu, "keringkan dulu rambutmu, kalau tidak, nanti masuk angin," 
Yang dititah, hanya mengedikan bahu sembari menuju lemari pakaian. Meski kini status tinggalnya pada kamar tamu, namun keperluan pakaian dan amenities nya masih terletak pada kamar ini. 

Jingwu kembali pada saat kemudian sembari mengangsurkan hair-dryer pada Siyang. 

"Kau mau aku mengeringkan rambutmu?" Siyang bertanya. Secara sarkas. 
"Please," wajahnya memelas—meminta iba pada Siyang, "akhir-akhir ini aku harus mengeringkan rambut sendiri dan itu sangat menyedihkan; aku seperti bujangan,"

Siyang tertawa mengejek pada pernyataan Jingwu, "Ah Jing, mengeringkan rambut itu ilmu survival dasar setiap manusia dan kau memang manja," Siyang menerima hair-dryer yang disodorkan Jingwu. 

Memang dahulu—sebelum kandungannya membesar dan pergerakannya menjadi terbatas—mengeringkan rambut Jingwu adalah rutinitas wajibnya. Selain interaksi tanpa perkataan yang menenangkan, Jingwu memang sebegitu malasnya mengeringkan rambut dan sering tidur dalam keadaan rambut basah. Terlebih saat musim panas, yang mana kata Jingwu tidur dengan rambut basah itu menyegarkan kepalanya, namun tidak demikian menurut Siyang. Karena dasar argumen tersebut, jadilah mengeringkan rambut Jingwu menjadi rutinitas Siyang setiap malam.

Siyang menepuk sisi lain kasur—mengisyaratkan Jingwu untuk merebahkan tubuhnya pada tempat tersebut dan meletakkan kepalanya pada pangkuan Siyang. 
Jingwu tersenyum penuh kemenangan. Ia berlari kecil untuk mengitari kasur setelah menancapkan kabel hair-dryer pada soket sisi kasur dimana Siyang berada. Diletakkan kepalanya pada pangkuan Siyang. Sebelum memunggungi Siyang, sejenak dikecupnya kandungan Siyang sembari diusapnya pelan. Jingwu tidak pernah tidak melakukannya tiap kala berada di dekat Siyang. 

Siyang mulai mengeringkan rambut ikal berwarna cokelat tersebut, dengan Jingwu yang perlahan memejamkan matanya. Hembusan angin dari hair-dryer dan tangan Siyang yang kerap mengusap kulit kepalanya, membuat rasa nyaman yang sangat. Meski tanpa perkataan yang terucap, tanpa perbincangan yang terjadi, berada di dekat satu sama lain adalah ketenangan bagi Jingwu. 

"Ah Jing, kau ubanan ya?" ucap Siyang seiring dengan terhentinya suara hair-dryer. Tangan nya masih mengusapi rambut Jingwu—seperti mencari sesuatu. 

"Oh ya?" jawab Jingwu tanpa mengganti posisi kepalanya.
Siyang tertawa, "tidak, aku bohong. Mana terlihat uban mu hanya dengan lampu nightstand saja?" 

Jingwu tidak merespon apapun selain mengganti hadap wajahnya yang lalu menggenggam tangan Siyang, "Meskipun ber-uban, aku masih pria paling seksi dalam hidupmu," ujarnya pede.

"Iya Jingwu, Iya," balas Siyang sembari mengusap wajah sang suami dengan handuk basah bekas rambutnya barusan.

Jingwu mengelak, sebelum mati kehabisan nafas, diambilnya handuk tersebut dan dilemparkannya ke seberang ruangan. 

"Jingwu! Handuk basah nya ditaruh ke tempat cucian!" hardik Siyang. 
"Iya, nanti. Setelah aku puas bermanja-manja denganmu," jawabnya acuh sembari kembali meletakkan kepalanya pada pangkuan Siyang.

Siyang tak bisa banyak bergerak. Selain pahanya tertindih bayi bongsor bernama Ji Jingwu, besar perutnya pun menghambatnya untuk bergerak seleluasa dulu. 

"Siyang," Jingwu menggenggam tangan Siyang yang kini berada di pucuk kepalanya, "kau masih sering susah tidur?" tanyanya. 

Yang ditanya mengangguk sembari mengusap kepala Jingwu dengan tangan yang satunya, "maka itu sementara ini kau tidur di kamar tamu sampai persalinan nanti," 
“Aku tahu. Susah tidur juga termasuk gejala yang sering muncul pada trimester akhir.” Jingwu meletakkan telapak tangan Siyang pada wajahnya. Menyesap aromanya perlahan, “terlebih kau mungkin tengah khawatir mengenai proses persalinan nanti. Mungkin kekhawatiran itu juga yang menahanmu dari tidur nyenyak,” celoteh Jingwu seperti dokter kandungan. Biarlah. Biar senang.

Siyang mengusapi dahi Jingwu. Ia seperti punya bayi besar yang kerjaannya selalu minta dimanja, “Jingwu, aku takut jika persalinan nanti tidak berjalan lancar,” bisik Siyang. 

“Jangan pesimis ah,” balas Jingwu. Jidatnya mengerung dengan mata yang masih terpejam.
“Jingwu, tolong dengar aku,” pinta Siyang sembari menepuk-nepuk dahi sang tuan besar supaya mau membuka matanya yang tertutup untuk melihatnya.

Jingwu lantas menoleh dan menatap Siyang dengan pandangan kuyu-nya, karena kantuk yang baru saja datang, terpaksa pergi lagi karena Siyang menepuki dahinya untuk kembali terjaga.

“Jika terjadi sesuatu padaku—JIKA,” tekan Siyang pada perkataan terakhir sebelum Jingwu menyela-nya, “aku mau kau menyelamatkan bayinya,”

Jingwu menghela nafasnya lalu terbangun dari pangkuan Siyang yang merupakan tempat ternyaman baginya selain kursi malas di sisi pantai dengan dipayungi pohon rindang, “Siyang, kau tau aku ini manusia paling egois?” jemarinya menggenggam tangan Siyang, “tentu dengan egoisnya aku tidak mau kehilangan kalian berdua. Maka itu aku akan berusaha memberikan yang terbaik, supaya kalian berdua sehat dan selamat,” jelasnya lalu mencium punggung tangan pria yang dinikahinya tahun lalu tersebut—dengan harapan semua kekhawatiran dan rasa kalut pada Siyang bisa menghilang.

Siyang mengigit bibir bawahnya—gesture nya apabila dirinya tengah tenggelam dalam pemikiran yang dalamnya tidak bisa Jingwu tebak.

“Mau kubuatkan teh agar kau bisa tidur?” tawarnya mengalihkan topik pembicaraan yang kemungkinan menjadi berat, “aku akan mendengarkan celotehmu sepanjang malam jika itu membantu. Silahkan pergunakan aku sepenuhnya hari ini Tuan,” candanya yang dibalas gebukan bantal oleh Siyang, “bawakan aku teh hangat dan cemilan apapun. Aku ingin ngemil,” titahnya yang dijawab langsung oleh sang suami; “siap tuan,”

Usia kehamilannya memang sudah mendekati masa persalinan. Dengan demikian, Jingwu pun mulai mengurangi aktifitas di luar rumahnya. Ia bahkan menyerahkan urusan perjalanan bisnisnya, hanya untuk siaga di sisi Siyang.

“Aku bawakan teh hangat dan cemilan dari dapur, serta meminta juru masak membuatkan sup herbal untukmu,” 

Jingwu kembali ke kamar beberapa saat kemudian, sembari membawa satu nampan yang diatasnya terdapat mug berisi teh panas, dan beberapa kudapan, “sup herbal kudengar bisa membuatmu rileks dan tidur nyenyak,” ujar Jingwu seraya meletakkan nampan tersebut pada nightstand di sisi kasur.

Siyang tersenyum melihat pemandangan ini; seorang putra tunggal keluarga Ji, membawa nampan dan melayaninya. “Kau cocok sekali jadi butler ku,” tawa Siyang.

Yang mendengarnya terkekeh sembari memberikan Siyang mug teh panasnya, “bukankah seorang suami juga berdefinisi laki-laki yang melayani-mu? Apalagi aku paket lengkap dan bisa ditiduri,” balas Jingwu yang disambut tawa Siyang.

 “Sudah lebih baik?” tanya Jingwu sembari duduk di sisi Siyang—posisi semula. 

Siyang mengangguk, sembari bibirnya manyun sibuk meniupi teh panas dalam mug berwarna hijau tua tersebut—hadiah yang didapatnya dari Jingwu, kala pria tersebut dinas ke luar negeri. Katanya, mug itu ia beli kala tengah teringat dengan Siyang—entah dari segi apanya. Namun apa salahnya menerima mug yang dibawa seorang Ji Jingwu susah payah menyebrangi benua dari Eropa?

“Jingwu, terima kasih,” ujar Siyang menatap pria berambut ombak yang duduk dihadapannya tersebut.
“Aku yang terima kasih,” balas Jingwu cepat, “pasti sangat melelahkan bukan? Membawa perut sebesar ini kemana-mana,” Jingwu mengusap perut Siyang yang sudah membundar bulat. Dokter bilang persalinannya mungkin sekitar minggu depan atau minggu depannya lagi. Yang jelas ia harus siaga, kalau-kalau kontraksi terjadi.

“Mau gantian membawanya?” canda Siyang. 

Jingwu tertawa, dan Siyang sangat menyukai matanya yang menyipit kala tertawa.

 

Momen yang berusia sejenak tersebut, terhenti kala Siyang merasakan rasa sakit pada perutnya. Seketika ia meraih tangan Jingwu dan mencengkramnya erat. Wajahnya nampak meringis.

“Siyang?” Jingwu dengan khawatirnya mengusap-usap punggung pasangannya tersebut, khawatir jika Siyang mengalami kontraksi yang berujung persalinan. Panik yang tiba-tiba menyergap, membuatnya mati kutu dan terdiam di tempat, tanpa mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Namun Siyang memberikan isyarat untuk Jingwu tidak perlu khawatir.

Sejenak terlalui dengan hening dan Jingwu tidak bisa berbuat apapun, hingga Siyang akhirnya menghela nafas panjang, “barusan ia seperti menendang-nendang perutku,” ujar Siyang kembali merebahkan punggung pada headbed, “akhir-akhir ini, aku kerap terjaga kala anak ini menendang-nendang perutku,” papar Siyang saat Jingwu mendekatkan kepalanya pada perutnya, “terlebih tendangannya semakin kencang,”

Mendengarnya, Jingwu lantas mengusap janin yang sudah berusia 9 bulan tersebut, “sepertinya anak ini sudah tidak sabar ingin bertemu ayahnya ya?” kekeh Jingwu mendengar pertanyaanya sendiri.

Siyang pun tersenyum, “nampaknya ia akan lahir sebagai anak laki-laki,” tebaknya.
Jingwu lantas menggelengkan kepala, “belum tentu. Siapa tahu ia perempuan,”

Sebenarnya jenis kelamin janin dapat diketahui sejak usia kandungan 5 bulan, dan dokter yang memeriksa kandungannya pun menawarkan untuk memberitahu mereka mengenai jenis kelamin sang anak, namun Jingwu menolaknya. Ia memilih untuk mengetahui jenis kelamin si bayi ketika lahir nanti.

“Mengapa kau tidak ingin tahu jenis kelamin anak ini?” tanya Siyang, sesaat setelah suasana hening tanpa bahan obrolan. Sebenarnya pertanyaan ini sudah ditanyakannya 4 bulan lalu.

“Biar jadi kejutan,” jawab Jingwu dengan jawaban yang sama 4 bulan lalu, “terlebih aku tidak ingin berekspektasi apapun. Biarlah ia lahir tanpa aku harus mengharapkan apapun,” lanjutnya sembari mengusap sang anak yang masih berada dalam kandungan Siyang, “sejujurnya aku takut menaruh harapan terlalu tinggi pada anak ini, dan akhirnya ia tidak bisa menjalani hidup yang diinginkannya,” tambah Jingwu.

Menjadi putra tunggal di keluarga Ji memang terlahir dengan kodrat harus berada dipuncak. Namun baik dirinya maupun Jingwu, pasti paham jika untuk mencapai posisi tersebut bukanlah semata-mata terjadi begitu saja. Semua harus dilakukan dengan pengorbanan—termasuk merelakan kesenangan sendiri demi memenuhi ekspektasi orang lain. Jingwu pasti mengerti betul akan hal tersebut. Ini yang membuatnya tidak bisa bebas memilih atau membuat sesuatu sesuai dengan keinginannya.

“Jingwu,” Siyang mengusap dahi Jingwu, “terima kasih,” kini Siyang mengusapi tangan Jingwu yang diraihnya, “aku rasa anak ini beruntung memiliki orang tua sepertimu,”

Jingwu sejenak tersenyum. Matanya terpejam meresapi usap tangan Siyang pada wajahnya, yang lalu diraihnya dan diciumnya tangan Siyang. Selalu memberikannya ketenangan kala ia menggenggam tangan tersebut, “malam ini, boleh aku tidur disampingmu?” pinta Jingwu.

“Kau tidak keberatan denganku yang suka terbangun tengah malam?” tanya Siyang kembali untuk meyakinkan.

Jingwu menggeleng, “kamar tamu sangat dingin dan sepi, aku tidak suka. Meskipun tidurmu kasak kusuk, namun aku bisa tidur lebih nyenyak di sini karena jelas kau berada di sisiku,” papar Jingwu, “jauh darimu membuat pikiranku tidak tenang dan membuatku terjaga tengah malam,”

Siyang tersenyum mendengarnya. Jingwu seperti seorang anak yang mengadu setelah seharian yang melelahkan di sekolahnya, “aku tidak keberatan jika kau ingin tidur di sini,”

“Boleh, aku tidur di sini lagi?” tanyanya penuh harap.
“Aku rindu wajah tertidurmu di sisiku,” jawab Siyang. 

Jingwu lantas terbangun cepat, dikecupnya dahi Siyang sebelum ia pergi berlalu, "aku akan mengambilkan sup herbal-mu dulu," pamitnya. 

"JINGWU," seketika Siyang menggenggam tangannya erat—menahannya untuk tidak pergi, "... aku rasa ini saatnya aku melahirkan,"

 

--

 

Jingwu terduduk gelisah pada ruang persalinan. Seorang diri. 

Semuanya terasa begitu cepat. Rasa panik menguasai dirinya, sehingga ia tidak mengetahui separuh prosesi yang terjadi sehingga ia bisa berada di depan ruang bersalin saat ini. Siyang, ia begitu tenang saat memberitahu ketubannya pecah. Mendengar ketuban pecah saja, otaknya sudah tidak bisa memproses informasi apapun selain kalut. Ia tidak bisa berbuat apapun, jika saja Siyang tidak memintanya untuk mengambil tas yang sudah dipersiapkan untuk keperluan bersalin, dan memintanya untuk tetap tenang dan menuruti apa saja yang diminta Siyang. 

"Aku minta kau ambil kunci mobil yang kusimpan di laci, dan bawa aku ke Rumah Sakit. Kendarai mobilnya dengan tenang, jangan panik, jangan takut. Aku takkan melahirkan di dalam mobil," 

Hanya itu perkataan Siyang yang jelas di dengarnya, sebelum akhirnya ia tersadar sudah berada di Rumah Sakit begitu saja. 

 

Pandangannya yang menunduk, terangkat seiring dengan kehadiran seseorang di hadapannya; seorang dokter, "anda keluarganya?" tanya pria yang sudah memakai masker dan penutup kepala.

Jingwu mengangguk seraya bangkit dari duduknya.

“Mengingat riwayat kesehatannya, maka diputuskan untuk melakukan persalinan secara bedah. Prosedur ini dipilih karena kandungannya yang masih rentan,” jelasnya yang seketika membuat perasaan Jingwu tak karuan. 

"Yisheng*, apa saya bisa menemaninya bersalin?" 

 

Setelah dipakaikan lengkap pakaian pelindung untuk memasuki ruang operasi, Jingwu melangkah masuk pada ruangan yang sudah dipersiapkan untuk proses persalinan. Siyang nampak di hadapannya kala ia baru saja melewati pintu yang terbuka. Ia sudah dipersiapkan untuk proses operasi.

"Ah Jing," panggilnya. Tangannya terjulur untuk meraih Jingwu. 

Disambutnya tangan tersebut, Jingwu mengisi celah antara jari Siyang dengan jemarinya, lalu digenggamnya erat.
"Ah Jing, wajahmu terlihat menyeramkan sekali saat ini," Siyang masih bisa tersenyum—menenangkan Jingwu yang tegangnya bukan main sehinga ia sangat pendiam, "terima kasih kau sudah mengantarku ke sini," sejenak, Siyang mengusap pipi Jingwu.
"Siyang, aku berdoa untukmu," hanya itu perkataan yang mampu diucapkannya, karena selebihnya ia hanya mengutarakannya lewat kecupan pada kening Siyang.

 

"Terima kasih, sampai bertemu lagi nanti," 

 

Jingwu hanya bisa merapal doa dalam hatinya sembari menggenggam tangan Siyang yang sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri karena sudah berada dalam anestesi.

Meski pembicaraannya dengan Siyang beberapa jam lalu tidak terlalu serius ditanggapinya, namun kini semuanya terasa seperti kenyataan. Bagaimana jika memang sesuatu terjadi pada Siyang? Atau skenario terburuk, ia harus memilih antara Siyang atau sang anak. Kalau boleh jujur Jingwu tanpa berpikir ulang pasti akan memilih Siyang. Namun itu berarti melanggar janjinya dengan Siyang untuk memilih sang anak jika sesuatu terjadi dan Jingwu dihadapkan pada pilihan sulit.

Dan untuk menghindari itu semua, Jingwu tidak bisa apapun selain berdoa sekencang-kencangnya dalam hati. Satu dari sekian hal yang dibencinya adalah saat dimana ia tak bisa berbuat apapun selain menyerahkannya dalam doa.

Tanpa sanggup melihat prosesi pembedahan, Jingwu hanya bisa menempelkan dahinya pada dahi Siyang sembari menggenggam tangan pemuda tersebut.

Entah berapa saat sudah berlalu, suara tangis bayi mengejutkannya dari kekalutan yang melingkupinya. Tangisnya mewarnai ruangan—mengumumkan kehadirannya di dunia. Seorang bayi laki-laki yang sehat. Dengar saja suara tangis nya yang mengalahkan suara alat medis. Pandangan Jingwu tak bisa lepas sesaat dari makhluk mungil yang kini didekap salah seorang tim dokter yang melakukan proses persalinan. Ia begitu mungil, rapuh, dan murni. Perasaan kala melihatnya, tak mampu diungkapkan sebagaimana hebatnya sampai berubah menjadi airmata. 

Ada yang hilang terangkat dari dadanya. Seperti sebuah beban besar yang baru saja sirna, berganti dengan perasaan yang tumpah ruah. Senang, bersyukur, khawatir pun masih ada. Namun tidak ada kata di dunia ini yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat sekarang ini.

Kini Siyang menjadi fokus doanya, semoga operasi nya berjalan lancar hingga akhir dan Siyang bisa membuka matanya kembali menemui dirinya.

"Siyang, terima kasih,"

--

Siyang terbangun pada terangnya ruangan yang mengusik penglihatannya. Pagi sudah datang dan cat tembok yang berwarna putih begitu meningkatkan kecerahan ruangan sehingga matanya tak lagi mampu terpejam. Tangan kanannya terasa berat dan mulai kebas. Adalah Jingwu penyebab kebasnya tangan kanan tersebut, tangannya tertindih wajah tertidur Jingwu yang bersandar pada dipannya. Entah sudah berapa jam, makanya mulai terasa kebas.

Senyumnya perlahan mengembang. Pemandangan ini seperti mengingatkannya pada masa-masa ia menjalani pengobatan di Jerman beberapa tahun lalu. 

"Ah Jing," panggilnya lembut. Namun Jingwu tak kunjung terbangun. 

Gemas karena tak kunjung terbangun, Siyang lantas meniup wajahnya dengan harapan Jingwu bisa segera membuka matanya. 

Terusik karena karbon dioksida yang tetiba mengganggunya, Jingwu lantas terbangun. Nampak Siyang tengah tersenyum kepadanya dengan wajah yang masih lelah. 

"Siyang?" dari posisi duduk yang bersandar, kini Jingwu menegakkan tubuhnya. 
"Selamat pagi, Shaoye," sapa Siyang sembari menyingkirkan rambut yang masih menutupi wajah Jingwu. 
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya sembari menggenggam tangan Siyang.
"Seperti hiking dua hari berturut-turut," jawabnya sambil tertawa, "perutku perih sekali, Jingwu"
"Bekas luka operasimu masih belum kering, dan itu akan menyakitkan untukmu selama beberapa hari kedepan," 
"Aku seperti baru mengeluarkan seluruh isi perutku,... aku juga lapar sekali," ringisnya. 

Ada perasaan lega dalam dadanya, Siyang bisa membuatnya tertawa dan itu sudah cukup menghapus semua khawatirnya. Doanya terjawab dan tidak ada lagi beban yang mencengkram hatinya seperti malam kemarin. 

"Siyang, terima kasih," ujar Jingwu. Dahinya tertempel pada genggaman tangannya dan tangan Siyang. 

"Jingwu, ini baru permulaan loh. Kedepannya akan sangat berat sekali mengurus seorang anak, maka itu aku mohon bantuanmu," Siyang menepuk-nepuk pipi sang suami yang mulai tertawa pahit karena membayangkan betapa sulitnya membesarkan seorang penerus keluarga Ji, "mana si kecil? aku mau melihat anak kita," 

--

Seorang perawat datang dengan membawa sebuah boks bayi yang didorong, beberapa saat kemudian, setelah Jingwu meminta bagian nursery untuk membawa sang anak pada Siyang yang baru saja membuka mata pagi ini. 

"Ah Jing, kau sudah menggendongnya?" tanya Siyang saat menerima sang anak yang diangsurkan oleh sang perawat. 
Jingwu mengangguk sembari memposisikan diri sejajar dengan Siyang, "ia langsung mengenali siapa ayahnya saat kugendong pertama kali—ia pipis di badanku,"

Siyang tertawa.

"Perasaanku saja, atau memang bayi seberat ini pada umumnya?" Siyang menimang-nimang sejenak mengira-ngira berat sang anak. 
"Tidak, ia memang lebih besar dari pada bayi pada umumnya. Beratnya 4.3 kilo saat ditimbang tadi pagi," jelas Jingwu yang lalu duduk di sisi Siyang untuk menemaninya mengomentari Bayi yang baru berusia 8 jam tersebut. 

“Jenis kelaminnya laki-laki,” ujar Jingwu memberitahu informasi dasar mengenai bayi yang baru saja dilahirkan Siyang karena yang melahirkan, tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius pra-operasi. "Tangisnya begitu kencang, sampai aku terkejut saat mendengarnya" jingwu nampak tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia seperti menang undian liburan ke tempat mahal dari pusat perbelanjaan murah.

Sepertinya, dalam diam Jingwu mengharapkan seorang anak laki-laki. 

Siyang menatap lekat manusia mungil dalam dekapannya. Daripada telapak tangannya, wajah sang anak lebih kecil. Matanya mengatup. Tertidurkah atau memang ia belum bisa membuka mata. Jemarinya menyentuh bibir mungil yang masih belum nampak jelas batas warna kulit wajah dan mulutnya. Ada perasaan yang tak bisa diujar dengan perkataan kala ia mengingat sang anak lahir diantara dirinya dengan Jingwu—pria yang tidak pernah hadir dalam imajinasinya sekalipun, namun inilah kenyataannya; ia menimang buah hatinya dengan Ji Jingwu.


"Kau benar, hidungnya mirip diriku, walau wajahnya mirip dirimu," lanjutnya mengoceh tanpa bisa menahan senyum. 
"Kurasa wajahnya mirip dirimu, lihat wajah sombongnya," tawa Siyang, "ia seperti tidak terusik dengan matahari yang menyilaukan matanya,"
"Terlahir sebagai penerus keluarga Ji, memang tidak boleh takut akan apapun, nak," balas Jingwu sembari mengambil sang anak dari pangkuan Siyang, "kau istirahatlah dulu, biar aku yang mengurus si kecil," ujarnya pada Siyang. 

Jingwu menimang sang anak menjauhi Siyang untuk memberikannya ruang beristirahat setelah 2 jam proses melahirkan, dan 6 jam tidur singkat—menghabiskan anestesi yang tersisa. 

Siyang tersenyum pada melihat sang suami yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Jingwu terus berceloteh sembari ditonton Siyang yang hanya bisa terbaring. Tenaganya habis, proses persalinan rasanya membutuhkan lebih banyak tenaga dari sekedar round-match dengan suaminya tersebut. 

“4.3 kilo loh! Berat sekali dirimu nak,” ujarnya pada sang anak yang masih belum mengerti apapun.

Siyang yang mendengarnya, hanya bisa mengiyakan karena energi untuk argumennya sudah habis terkuras karena menahan kontraksi semalaman. Kalau boleh sombong, kontraksi yang dialaminya semalaman tidak seperti mengeluarkan bayi 4 kilogram sekian, melainkan sepuluh kilo something, karena rasa sakit yang luar biasa dan membuatnya tak bisa tenang sedikitpun semenjak merasakan kontraksi pertama, dan pada akhirnya Siyang terbangun dari operasi dalam keadaan lelah luar biasa.

Jingwu masih berceloteh riang meski Siyang sudah tidak peduli dan lebih memilih pemandangan di luar jendela. 

 

“Anakmu, Jingwu. Besarnya akan jadi apa kalau baru lahir saja sudah membuatku segini lelahnya,” batin Siyang. 

 

Tak berapa lama berselang, seorang perawat memasuki ruang perawatannya. Ia berbicara dengan Jingwu dengan suara pelan, sehingga ia tak begitu jelas mendengarnya. Namun yang jelas, sesaat kemudian, sang perawat mengambil sang anak dari gendongan Jingwu. Menaruhnya kembali ke dalam boks bayi, lalu membawa nya keluar setelah melempar senyum kepada Siyang saat mereka bertemu tatap. 

“Sudah jamnya pemeriksaan,” jelas Jingwu sembari mendekati tempat dimana Siyang berbaring, “—aku tak sabar ingin menimangnya lagi. Rasanya ingin kupamerkan pada seluruh dunia,” sesumbar Jingwu yang lantas duduk di sisinya.

Siyang masih terdiam. Pandangan yang tadinya mengikuti sosok Jingwu, kini beralih kembali pada pemandangan di luar jendela. 
Angin berhembus perlahan, menerbangkan curtain yang bergantung malas. 

“Siyang, kenapa? Ada yang sakit?” wajahnya mendadak jadi khawatir setelah Siyang tak membalas apapun dan malah menatap ke luar jendela. 

Namun ia tak ingin membuat Jingwu berprasangka buruk lebih lanjut, Siyang segera mengalihkan pandangannya kepada Jingwu. Senyumnya tipis dengan tangan yang menggenggam lengan sang suami, “aku baik-baik saja Jingwu,” jawabnya. 

 

Jingwu membalas genggaman Siyang, "Siyang, terima kasih," ucapnya yang kini sambil mengecup genggaman tangan mereka.
"Kau sudah mengucapkannya barusan," kekeh Siyang.
"Aku akan terus mengucapkannya, bahkan ketika kau muak mendengarnya sekalipun, aku akan terus mengucapkannya," wajahnya tertempel pada punggung tangan yang digenggamnya, "terima kasih, kau sudah membuatku menjadi seorang ayah," dilepasnya sejenak genggaman tangannya, untuk menjalin jemari Siyang dengan jemarinya sendiri, “kau nampak lelah dan memikirkan sesuatu. Jika ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan saja. Meski sedikit, aku ingin membantumu,”

Terdiam, Siyang memikirkan perkataan Jingwu. Siyang menghela nafas. Membuat Jingwu semakin khawatir adanya sesuatu yang ingin diutarakannya. 

“Aku memiliki luka operasi,” ujar Siyang tetiba, sembari meletakkan tangan pada area sekitar luka bekas operasi yang masih terasa sakit, “maaf ya, jika aku takkan lagi menarik untuk dirimu,” lanjutnya tersenyum ketir.

Jingwu menyentil dahi Siyang. Cukup kencang sampai empunya mengaduh. Seketika, Jingwu langsung mengusapnya karena tidak bermaksud menyentil sekeras barusan, “apa yang kau bicarakan aku tidak paham,” cetus Jingwu dingin. Tangannya masih mengusapi dahi Siyang yang memerah. Pemuda tersebut manyun karena berani-beraninya Jingwu menyentil ia yang baru saja melewati prosesi operasi Caesar selama 1 jam lebih untuk melahirkan anaknya. Terlebih ditengah-tengah prosesi curahan hatinya mengenai kegelisahannya akan luka bekas operasinya. 

Air matanya menganak di sudut pelupuk. Antara perih di dahi dan di hati. 

“Maaf kalau sakit,” Jingwu meminta maaf sembari menghadap Siyang. Sejenak berdiri dari kasur yang didudukinya untuk meniup dahi Siyang yang mungkin terasa perih, “Siyang, aku tidak lantas menganggapmu tidak menarik hanya karena luka operasi 17 centimeter saja” ia mulai mencecapkan kecupan kecupan kecil pada dahi Siyang.

Siyang, sejenak menurunkan pundaknya. Ia nampak merasa rileks setelah suaminya tersebut mencium dahinya, “aku justru menanggap luka-mu itu keren,” ucapnya setelah menyejajarkan pandangannya dengan Siyang.
Siyang merasakan perasaan tersebut kembali; seperti ada yang membasahi hati, dan menenangkan detak jantungnya sehingga berdenyut lebih teratur, “Siyang, terima kasih sudah melahirkan anakku,” lantas Jingwu mengecup tangan Siyang yang digenggamnya. Jingwu duduk kembali dihadapan pria yang baru saja memberikannya buah hati tersebut. Senyumnya terkembang kala melihat rona wajah Siyang mulai berubah. 

Yang dikecup, menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah dan panas.

Jingwu tersenyum melihatnya. Meski sejarahnya dengan Siyang tidak sebentar, namun pemuda itu tidak pernah gagal membuatnya tersenyum. Melihat wajahnya yang kemerahan karena menahan rasa malu itu masih menghibur Jingwu dan membuatnya ingin menggodanya lebih jauh. 

Jingwu mendekatkan tubuhnya, mengarahkan bahunya menghadap Siyang—memberikan kesempatan Siyang untuk mengubur wajahnya yang memerah.

“Kalau begitu, kau harus tetap bersamaku sampai akhir hidupku nanti. Tidak ada orang lain yang mau menerima laki-laki dengan luka bekas operasi pada perutnya,” gumam Siyang tak terdengar jelas karena seluruh wajahnya terkubur pada bahu Jingwu.
“Yah, aku rasa aku terjebak bersamamu sampai akhir hayatku nanti,” tawa Jingwu. Kepalanya disandarkan pada kepala Siyang yang sedang bersandar padanya.
“Sampai akhir hidupku, kalau aku mati duluan, kau boleh mencari yang lain,” tukas Siyang.

Jingwu tertawa mendengar perkataan Siyang. Ada damai dalam waktu yang mengalir diantara keduanya. Ada beban yang luruh, perasaannya yang menghangat. 
Berdua saling bersandar satu sama lain tanpa perkataan yang terucap, Jingwu menggenggam tangan Siyang lebih erat.  

“Bagaimana bisa? Kalau hidupmu berakhir, hidupku juga berakhir,” dikecupnya pelipis Siyang.

 

-fin-

Yisheng* = Dokter

Notes:

P.S. saya menyelesaikan fic ini di kantor *smug*
Akhir-akhir ini lagi sibuk membagi tubuh(?) dengan kenyataan dan perhaluan serta series homo. Btw, saya lagi gandrung BL Taiwan HIStory. Tonton. Top marokotop. Sekian //plakk

1. Saya rasa installment cerita ini sudah berakhir. Bagaimana kelanjutannya, silahkan dibayangkan oleh kepercayaan masing-masing. Saya pun mungkin akan mengepost sequel cerita ini jika ada ide yang lewat. Lalu untuk prequel sedang dikerjakan. Entah kapan ilhamnya akan turun dan saya mendapat hidayah untuk mengepost prequelnya. Doakan saja.

2. Dalam cerita ini saya tidak menceritakan Jingwu dan Siyang yang memutuskan nama untuk buah hati mereka. Tapi kalau boleh memilih, saya ingin sang anak diberi nama 纪景志 (Jì Jǐngzhì). Tadinya mau pakai kanji nama Siyang di akhirnya. Tapi nampak terlalu bucin. Hahah.

Sekian. Terima kasih sudah mengikuti.

-aikonokotoba